Tensi Panas di Laut China Selatan: Beijing ‘Sentil’ Latihan Gabungan Balikatan yang Libatkan Jepang
LajuBerita — Tensi geopolitik di kawasan Asia-Pasifik kembali menghangat seiring dengan digelarnya latihan militer skala besar yang melibatkan Filipina, Amerika Serikat, dan Jepang di perairan strategis Laut China Selatan. Beijing secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap aktivitas tersebut, dengan menekankan bahwa kawasan ini lebih membutuhkan stabilitas jangka panjang daripada unjuk kekuatan militer.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam sebuah pernyataan resmi di Beijing, menegaskan bahwa dinamika dunia saat ini sudah cukup menderita akibat praktik unilateralisme. Menurutnya, langkah-langkah yang memicu perpecahan hanya akan memperkeruh suasana di tengah upaya menjaga perdamaian kawasan yang sedang diupayakan banyak pihak.
Latihan Perdana dengan Keterlibatan Jepang
Latihan tahunan bertajuk Balikatan ini menarik perhatian dunia karena untuk pertama kalinya menyertakan kontingen dari Jepang secara penuh. Ribuan personel militer dari Amerika Serikat dan Filipina bergabung dalam simulasi tempur yang mencakup latihan tembakan langsung di wilayah utara Filipina—sebuah titik krusial yang berhadapan langsung dengan Selat Taiwan serta provinsi-provinsi yang berbatasan dengan wilayah sengketa di Laut China Selatan.
Revolusi Hijau di Aspal Jakarta: Saat Harga BBM Melangit, Pengguna Kendaraan Listrik Melonjak 9 Kali Lipat
“Hal terakhir yang dibutuhkan kawasan ini adalah konfrontasi yang dipicu oleh masuknya kekuatan eksternal. Kerja sama keamanan seharusnya tidak dibangun di atas rasa saling tidak percaya atau dengan mengorbankan stabilitas pihak lain,” ujar Guo Jiakun memperingatkan. Ia juga menambahkan pesan menohok bagi negara-negara yang terlalu bergantung pada kekuatan militer asing, dengan menyebut bahwa strategi tersebut berpotensi menjadi bumerang bagi keamanan nasional mereka sendiri.
Sentimen Sejarah dan Modernitas Militer
Tidak hanya menyoroti aspek taktis, Beijing juga membawa dimensi historis ke dalam narasinya. China secara khusus menyentil peran Jepang, mengingatkan Tokyo akan jejak sejarah agresinya di Asia Tenggara selama masa Perang Dunia II. Jepang diminta untuk melakukan introspeksi mendalam daripada memamerkan kekuatan militer di wilayah yang sensitif secara politik.
Diplomasi Hangat di Pyongyang: Wang Yi dan Kim Jong Un Pererat Sinergi China-Korut
Dalam rincian teknis latihan tersebut, sekitar 1.400 personel militer Jepang dilaporkan akan menguji kemampuan rudal jelajah Tipe 88. Skenario latihan ini melibatkan penghancuran kapal penyapu ranjau era Perang Dunia II di lepas pantai Pulau Luzon, sebuah langkah simbolis sekaligus praktis dalam meningkatkan kesiapan tempur.
Skala Latihan Terbesar dalam Sejarah
Panglima Militer Filipina, Romeo Brawner, menyebut Balikatan kali ini sebagai babak baru dalam sejarah pertahanan mereka. Melibatkan lebih dari 17.000 personel lintas matra—darat, laut, dan udara—latihan ini berlangsung maraton selama 19 hari. Pihak Amerika Serikat sendiri menerjunkan setidaknya 10.000 tentara dalam agenda besar ini.
Persenjataan mutakhir pun turut dipamerkan, mulai dari sistem rudal Typhon milik AS yang kehadirannya sempat diprotes keras oleh China, hingga armada kapal pendarat tank dan kapal perusak helikopter milik Jepang. Meskipun Manila dan Washington menegaskan bahwa lokasi latihan tidak dilakukan tepat di dekat Taiwan, namun kenyataannya manuver pertahanan pesisir dilakukan hanya berjarak kurang dari 200 kilometer dari garis pantai selatan wilayah tersebut.
Aksi Heroik di Balik May Day Batam: Saat Ribuan Buruh Turun ke Jalan Bukan Untuk Orasi, Melainkan Membela Kebersihan Kota
Keterlibatan aktif Jepang ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian akses timbal balik yang baru saja disahkan parlemen Jepang. Langkah ini dipandang oleh sejumlah analis sebagai upaya kolektif untuk menentang segala bentuk perubahan status quo di kawasan melalui kekuatan militer secara sepihak. Di tengah ketidakpastian global, mata dunia kini tertuju pada bagaimana poros Washington-Manila-Tokyo ini menyeimbangkan kekuatan di hadapan pengaruh China yang kian dominan.