Badai di Bursa: IHSG Terperosok ke Zona Merah, Saham-Saham Konglomerat Alami Aksi Jual Massal

Reporter Nasional | LajuBerita
23 Apr 2026, 12:47 WIB
Badai di Bursa: IHSG Terperosok ke Zona Merah, Saham-Saham Konglomerat Alami Aksi Jual Massal

LajuBerita — Awan mendung nampaknya tengah menggelayuti lantai bursa domestik pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau kehilangan tenaga dan terperosok cukup dalam ke zona merah pada penutupan sesi pertama, Kamis (23/4/2026). Sentimen negatif yang menyebar di pasar modal membuat para investor cenderung melakukan aksi ambil untung, yang berujung pada koreksi tajam sejumlah saham unggulan, terutama dari kelompok konglomerasi besar di Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun tim redaksi LajuBerita dari RTI Business, IHSG harus rela melepaskan posisinya setelah melemah signifikan sebesar 1,27%. Penurunan ini membawa indeks menjauh dari level psikologisnya, kini bertengger di posisi 7.445,96. Sejak bel pembukaan berbunyi, tekanan jual sudah terasa begitu masif, menggerus optimisme pasar yang sempat terbangun pada beberapa hari perdagangan sebelumnya. Mari kita telaah lebih lanjut mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik pergerakan pasar modal hari ini.

Berita Lainnya

Misi Strategis Prabowo ke Rusia: Diplomasi Energi dan Upaya Menjamin Stok BBM Nasional

Misi Strategis Prabowo ke Rusia: Diplomasi Energi dan Upaya Menjamin Stok BBM Nasional

Runtuhnya Dominasi Saham Milik Prajogo Pangestu

Salah satu sorotan utama dalam perdagangan sesi pertama kali ini adalah bergugurannya saham-saham di bawah naungan taipan energi dan petrokimia, Prajogo Pangestu. Sebagai salah satu orang terkaya di tanah air, pergerakan saham miliknya seringkali menjadi motor penggerak indeks. Namun hari ini, emiten-emiten tersebut justru menjadi beban berat bagi IHSG.

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang biasanya menjadi primadona, mengalami koreksi yang sangat dalam hingga 8,52% dan mendarat di level Rp 4.940 per lembar saham. Tidak sendirian, entitas induknya yaitu PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga ikut terseret arus penurunan dengan koreksi sebesar 3,98% ke angka Rp 2.170. Penurunan tajam pada saham-saham sektor energi terbarukan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku investasi saham ritel yang selama ini mengandalkan kinerja positif grup Barito.

Berita Lainnya

Dilema Ketenagakerjaan Indonesia: Membedah Fakta 6 dari 10 Pekerja RI yang Belum Tersentuh Sektor Formal

Dilema Ketenagakerjaan Indonesia: Membedah Fakta 6 dari 10 Pekerja RI yang Belum Tersentuh Sektor Formal

Tak berhenti di situ, lini bisnis petrokimia milik Prajogo juga tak kuasa membendung tekanan pasar. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) harus terkoreksi 1,62% ke harga Rp 6.075, sementara PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menyusul dengan pelemahan 3,04% di level Rp 1.115 per lembar saham. Fenomena ini menunjukkan adanya rebalancing portofolio besar-besaran yang dilakukan oleh investor institusi terhadap aset-aset berisiko tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi makro.

Sinar Mas dan Gurita Properti Aguan Tak Luput dari Tekanan

LajuBerita mencatat bahwa badai koreksi ini bersifat sistemik dan tidak hanya menyerang satu kelompok saja. Raksasa konglomerasi Grup Sinar Mas juga harus merasakan pahitnya perdagangan hari ini. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), salah satu pilar bisnis Sinar Mas di bidang energi dan infrastruktur, tercatat melemah 4,38%, yang membuat harganya melandai ke level Rp 2.400 per lembar saham.

Berita Lainnya

Momen Langka: Listrik Padam Saat Menteri Airlangga dan Rosan Roeslani Rilis Capaian Investasi 2026

Momen Langka: Listrik Padam Saat Menteri Airlangga dan Rosan Roeslani Rilis Capaian Investasi 2026

Beralih ke sektor properti dan real estat, dua emiten yang berafiliasi dengan Sugianto Kusuma atau yang lebih akrab disapa Aguan, yakni PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), juga mengalami nasib serupa. PANI terpangkas 1,63% ke harga Rp 9.075 per lembar. Sementara itu, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) mengalami koreksi lebih tajam sebesar 2,21% dan parkir di level Rp 4.870 per lembar saham. Pelemahan ini cukup mengejutkan mengingat proyek-proyek di kawasan PIK 2 selama ini dianggap sebagai katalis positif bagi fundamental perusahaan.

Sektor Perhotelan dan Rekapitulasi Pasar Sesi I

Bahkan sektor pariwisata dan perhotelan yang biasanya defensif pun ikut terdampak. Emiten milik konglomerat Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), tercatat melemah hingga 4,04% ke harga Rp 1.305 per lembar saham. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen negatif benar-benar merata di hampir seluruh sektor industri yang ada di papan perdagangan.

Berita Lainnya

Gairah Pasar Modal: IHSG Melesat ke Level 7.680 di Tengah Dominasi Saham Hijau

Gairah Pasar Modal: IHSG Melesat ke Level 7.680 di Tengah Dominasi Saham Hijau

Secara keseluruhan, statistik perdagangan hingga sesi pertama berakhir menunjukkan dominasi warna merah yang pekat. Sebanyak 445 saham tercatat melemah, yang artinya hampir mayoritas emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang dalam tekanan jual. Di sisi lain, hanya 227 saham yang mampu bertahan dan menguat, sementara 145 saham lainnya stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.

Volume perdagangan di paruh pertama ini mencapai angka yang cukup fantastis, yakni sebesar 32,42 miliar lembar saham yang berpindah tangan. Nilai transaksi secara total menembus Rp 11,69 triliun. Angka transaksi yang besar di tengah penurunan indeks mengindikasikan adanya aliran modal keluar (capital outflow) yang cukup deras, kemungkinan besar dipicu oleh kekhawatiran global atau penyesuaian suku bunga yang berdampak pada pasar negara berkembang.

Analisis Penutup: Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Melihat kondisi pasar yang sedang fluktuatif ini, para analis menyarankan agar investor tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi jual karena panik (panic selling). Pelemahan IHSG yang didorong oleh jatuhnya saham-saham konglomerat besar seringkali bersifat teknikal atau merupakan bagian dari siklus pasar yang wajar setelah mengalami kenaikan yang signifikan.

LajuBerita akan terus memantau apakah pada sesi kedua nanti akan ada aksi beli di harga rendah (buy on weakness) yang mampu mengangkat kembali posisi indeks, ataukah tekanan jual masih akan berlanjut hingga penutupan pasar sore nanti. Bagi Anda yang memiliki portofolio pada saham-saham di atas, sangat penting untuk kembali meninjau rencana strategi investasi jangka panjang Anda. Pastikan untuk selalu melakukan diversifikasi agar risiko tidak terpusat pada satu sektor atau satu grup konglomerasi saja.

Tetap pantau LajuBerita untuk mendapatkan pembaruan terkini seputar dunia ekonomi, bisnis, dan pergerakan pasar saham secara real-time dan terpercaya.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *