Skandal Beras Premium Abal-abal Terbongkar: Mentan Amran Sulaiman Ungkap Praktik ‘Nyolong’ Beras Murah Dijual Mahal

Reporter Nasional | LajuBerita
23 Apr 2026, 22:47 WIB
Skandal Beras Premium Abal-abal Terbongkar: Mentan Amran Sulaiman Ungkap Praktik 'Nyolong' Beras Murah Dijual Mahal

LajuBerita — Tabir gelap dalam industri perberasan nasional kembali terkuak melalui temuan mengejutkan dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Dalam sebuah inspeksi mendadak yang dilakukan di gudang beras Bulog, Karawang, pada Kamis (23/4/2026), Amran membongkar praktik culas manipulasi kualitas beras yang merugikan masyarakat luas. Beras dengan kualitas rendah atau asalan sengaja dikemas ulang dan dilabeli sebagai beras premium untuk meraup keuntungan berlipat ganda secara ilegal.

Anatomi Kecurangan: Beras Pecah yang ‘Disulap’ Jadi Mewah

Temuan ini bukan sekadar dugaan semata, melainkan didasarkan pada hasil uji laboratorium yang valid. Amran menjelaskan bahwa standar kualitas beras premium seharusnya memiliki tingkat butir patah atau pecahan (broken) maksimal di angka 14%. Namun, fakta di lapangan menunjukkan realitas yang sangat kontras dan memprihatinkan. Beras-beras yang diklaim sebagai kelas premium tersebut ternyata memiliki tingkat pecahan yang sangat tinggi, berkisar antara 34% hingga 59%.

Berita Lainnya

Prabowo Subianto Tegaskan Ketahanan Indonesia di Tengah Lonjakan Harga Energi Akibat Krisis Timur Tengah

Prabowo Subianto Tegaskan Ketahanan Indonesia di Tengah Lonjakan Harga Energi Akibat Krisis Timur Tengah

“Ini bukan lagi sekadar mengoplos, tapi ini namanya nyolong (mencuri). Saya sudah periksa langsung di laboratorium. Beras yang seharusnya masuk kategori menengah atau bahkan di bawahnya, dipaksakan dijual sebagai produk premium,” tegas Amran dengan nada geram di hadapan awak media. Praktik ini menunjukkan betapa beraninya para pemain di rantai distribusi mempermainkan standar pangan nasional demi memperkaya diri sendiri di atas penderitaan konsumen.

Secara teknis, beras dengan tingkat pecahan mencapai 59% seharusnya masuk dalam kategori beras kualitas rendah yang harganya jauh di bawah harga pasar premium. Namun, dengan kemasan yang mengkilap dan branding yang meyakinkan, mafia pangan ini berhasil mengecoh mata masyarakat yang mendambakan kualitas pangan terbaik bagi keluarga mereka.

Berita Lainnya

Daftar Terbaru 10 Orang Terkaya Indonesia Mei 2026: Dinamika Harta di Tengah Transformasi Ekonomi

Daftar Terbaru 10 Orang Terkaya Indonesia Mei 2026: Dinamika Harta di Tengah Transformasi Ekonomi

Manipulasi Harga yang Mencekik Kantong Rakyat

Dampak paling nyata dari praktik manipulasi ini adalah lonjakan harga yang sangat tidak wajar. Berdasarkan analisis Kementerian Pertanian, beras dengan kualitas rendah tersebut seharusnya dibanderol pada kisaran harga Rp 8.000 hingga Rp 12.000 per kilogram. Namun, karena label ‘premium’ palsu yang disematkan, para spekulan berani menjualnya hingga menyentuh angka Rp 17.000 per kilogram.

Selisih harga yang mencapai Rp 5.000 hingga Rp 9.000 per kilogram inilah yang menjadi ‘tambang emas’ bagi para oknum tidak bertanggung jawab. Amran menghitung, jika asumsi konsumsi masyarakat mencapai 2 juta ton, maka potensi kerugian yang diderita rakyat Indonesia dan negara bisa menembus angka yang sangat fantastis, yakni Rp 10 triliun.

Berita Lainnya

Ekspansi Agresif! OCBC Indonesia Akuisisi Bisnis Wealth Management HSBC Senilai Rp 89,8 Triliun

Ekspansi Agresif! OCBC Indonesia Akuisisi Bisnis Wealth Management HSBC Senilai Rp 89,8 Triliun

“Coba bayangkan, jika selisihnya Rp 5.000 saja per kilogram, dikalikan 2 juta ton, itu sudah Rp 10 triliun yang dicuri dari kantong rakyat. Ini adalah angka yang sangat besar dan bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kita jika dikelola dengan benar,” tambah Amran. Ketimpangan harga beras ini tidak hanya memicu inflasi, tetapi juga menurunkan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok lainnya.

Perang Melawan Mafia Pangan: Tak Ada Kata Ampun

Menanggapi fenomena sistemik ini, Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam. Bekerja sama dengan Satgas Pangan, serangkaian tindakan tegas telah dan akan terus dilakukan. Sejumlah pelaku yang diduga kuat menjadi otak di balik manipulasi kualitas dan harga beras ini telah ditangkap dan kini tengah menjalani proses hukum yang berlaku.

Berita Lainnya

Jelang RUPST BRI 2026: Inilah Panduan Lengkap E-Voting bagi Pemegang Saham BBRI

Jelang RUPST BRI 2026: Inilah Panduan Lengkap E-Voting bagi Pemegang Saham BBRI

Amran menekankan bahwa keberadaan mafia pangan ini telah menjadi parasit dalam kedaulatan pangan nasional. Mereka bertindak sebagai perantara atau middleman yang tidak hanya menekan harga di tingkat petani, tetapi juga memeras konsumen di tingkat pasar. Pola-pola seperti ini telah lama menjadi tantangan besar dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan di Indonesia.

Dalam narasi yang cukup emosional, Amran menantang balik pihak-pihak yang mungkin menganggap langkah tegasnya terlalu keras. Ia memberikan perbandingan filosofis tentang keadilan. “Pertanyaan saya sederhana, mana yang lebih kejam? Memberantas 100 atau 1.000 orang mafia dan koruptor, atau membiarkan mereka menyusahkan 256 juta rakyat Indonesia?” tuturnya retoris.

Dukungan Satgas Pangan dan Langkah Preventif Kedepan

Langkah Amran ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai elemen pemerintahan, terutama tim Satgas Pangan yang terdiri dari unsur kepolisian dan instansi terkait. Pengawasan di pintu-pintu distribusi dan gudang-gudang besar akan semakin diperketat. Tidak hanya di Karawang, pemeriksaan serupa juga direncanakan akan dilakukan di berbagai wilayah lumbung pangan lainnya di seluruh Indonesia.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk lebih jeli dalam membeli stok beras. Secara visual, beras premium seharusnya memiliki butiran yang utuh, bersih, dan tidak banyak mengandung pecahan. Jika menemukan kejanggalan antara harga yang mahal dengan kualitas fisik beras yang buruk, masyarakat diminta untuk segera melaporkannya kepada pihak berwenang atau melalui kanal pengaduan resmi pemerintah.

Selain penindakan hukum, Kementerian Pertanian juga berupaya memperbaiki rantai pasok agar lebih transparan. Dengan memangkas rantai distribusi yang terlalu panjang, diharapkan celah bagi para spekulan untuk melakukan manipulasi kualitas dapat diminimalisir. Penguatan peran Bulog dalam menyerap gabah petani dan mendistribusikan beras berkualitas dengan harga terjangkau menjadi salah satu kunci utama dalam memenangkan perang melawan mafia pangan ini.

Harapan untuk Kedaulatan Pangan Indonesia

Kasus terbongkarnya beras premium abal-abal ini menjadi pengingat keras bahwa pengawasan sektor pangan tidak boleh kendor sedikit pun. Beras bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan urusan perut rakyat yang berkaitan langsung dengan stabilitas nasional. Komitmen yang ditunjukkan oleh Mentan Amran Sulaiman diharapkan dapat menjadi efek jera bagi oknum lainnya yang berniat melakukan praktik serupa.

Kedepannya, diharapkan adanya integrasi data yang lebih baik antara produksi di sawah, ketersediaan di gudang, hingga distribusi di pasar retail. Dengan teknologi pemantauan yang lebih modern, setiap pergerakan harga dan penurunan kualitas bisa terdeteksi lebih dini sebelum menimbulkan kerugian triliunan rupiah bagi negara.

Perjuangan melindungi 256 juta jiwa rakyat Indonesia dari praktik koruptif di sektor pangan adalah amanat konstitusi yang harus dijaga. Sebagaimana yang ditegaskan Amran, kepentingan jutaan rakyat harus selalu berada di atas kepentingan segelintir kelompok yang mencari keuntungan dengan cara-cara yang zalim dan merugikan bangsa.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *