DeQing Mengguncang Xi’an: Perjalanan Dramatis Menuju Takhta FIBA 3×3 dan Tiket World Tour Amsterdam 2026

Redaksi LajuBerita | LajuBerita
18 Mei 2026, 02:46 WIB
DeQing Mengguncang Xi'an: Perjalanan Dramatis Menuju Takhta FIBA 3x3 dan Tiket World Tour Amsterdam 2026

LajuBerita — Gemuruh publik Xi’an, China, pecah saat peluit akhir dibunyikan, menandai keberhasilan fenomenal tim lokal DeQing dalam menancapkan dominasi mereka di panggung internasional. Dalam gelaran bergengsi Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) 3×3 Xi’an Challenger 2026, DeQing sukses menyabet gelar juara sekaligus mengamankan tiket emas menuju kasta tertinggi kompetisi, yakni FIBA 3×3 World Tour Amsterdam 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 19-21 Juni mendatang.

Kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan meraih trofi, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa kekuatan basket 3×3 di Asia, khususnya China, kini semakin sulit untuk dipandang sebelah mata. DeQing berhasil menumbangkan tim tangguh asal Amerika Serikat, Phoenix, dalam partai final yang penuh ketegangan dengan skor akhir 22-17. Laga ini membuktikan bahwa strategi matang dan mentalitas baja menjadi kunci utama di tengah format permainan yang sangat cepat dan menguras fisik ini.

Berita Lainnya

BMKG Beri Peringatan Dini: Mayoritas Kota Besar Indonesia Dikepung Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang Selasa Ini

BMKG Beri Peringatan Dini: Mayoritas Kota Besar Indonesia Dikepung Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang Selasa Ini

Dominasi Tuan Rumah yang Tak Terbendung

Bermain di hadapan publik sendiri memberikan energi tambahan bagi para pemain DeQing. Sejak fase grup hingga babak gugur, mereka tampil konsisten dengan tempo permainan yang sulit diredam oleh lawan-lawannya. Dukungan ribuan penonton di Xi’an menciptakan atmosfer yang mengintimidasi bagi tim tamu, namun di saat yang sama menjadi bahan bakar bagi Guo Hanyu dan kawan-kawan untuk terus menekan.

Dalam sejarah turnamen bola basket 3×3, Xi’an Challenger edisi 2026 ini tercatat sebagai salah satu seri Challenger terkuat sepanjang musim. Hal ini dikarenakan partisipasi deretan tim elit dunia yang berambisi mengumpulkan poin kualifikasi demi mendongkrak peringkat global mereka. Namun, DeQing menunjukkan bahwa mereka memiliki koordinasi tim yang jauh lebih padu dibandingkan para pesaingnya.

Berita Lainnya

Jadwal Lengkap Samsat Keliling Jadetabek Jumat Ini: Cek 14 Lokasi Strategis untuk Bayar Pajak Kendaraan

Pertarungan Sengit di Partai Puncak: DeQing vs Phoenix

Memasuki babak final, tensi pertandingan langsung memuncak sejak detik pertama. DeQing tidak membuang waktu dan langsung mengambil inisiatif serangan. Mereka sempat unggul cepat dengan skor 8-3, memanfaatkan kelengahan pertahanan Phoenix di area perimeter. Kualifikasi basket tingkat tinggi seperti ini memang menuntut konsentrasi penuh, dan DeQing berhasil mengeksekusi rencana permainan mereka dengan hampir sempurna pada awal laga.

Namun, Phoenix yang dihuni oleh pemain berpengalaman seperti Kyle Guy dan Malik Hluchoweckyj menolak untuk menyerah begitu saja. Perlahan tapi pasti, tim asal Negeri Paman Sam tersebut mulai mengejar. Melalui tembakan-tembakan akurat Kyle Guy, Phoenix sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 14-16. Pada titik ini, momentum seakan berpindah ke tangan tim tamu, dan publik Xi’an sempat terdiam menyaksikan perlawanan sengit tersebut.

Berita Lainnya

Menuju Indonesia Emas 2045: Rektor Unimed Tekankan Pentingnya Lulusan Menjadi Agen Solusi dan Inovator Masa Depan

Menuju Indonesia Emas 2045: Rektor Unimed Tekankan Pentingnya Lulusan Menjadi Agen Solusi dan Inovator Masa Depan

Dalam situasi krusial, DeQing merespons dengan ketenangan luar biasa. Mereka melancarkan laju poin 3-0 yang kembali menjauhkan margin keunggulan. Francis Lacis dan Guo Hanyu menjadi pahlawan di menit-menit akhir. Kerja sama apik keduanya membuahkan hasil saat kemenangan 22-17 terkunci ketika waktu pertandingan masih menyisakan 2 menit. Dalam aturan 3×3, mencapai poin 21 (atau lebih melalui tembakan dua angka terakhir) sebelum waktu habis adalah cara paling prestisius untuk mengakhiri pertandingan.

Zhang Dianliang: Sang Dirigen dan MVP Turnamen

Jika ada satu nama yang paling layak mendapat sorotan, ia adalah Zhang Dianliang. Sepanjang turnamen, Zhang berperan sebagai jenderal lapangan yang mengatur ritme permainan, baik saat menyerang maupun bertahan. Konsistensinya dalam menjaga area bawah ring dan akurasinya dalam memberikan umpan-umpan matang membuat DeQing memiliki variasi serangan yang sulit ditebak.

Berita Lainnya

Siasat Menhub Jaga Keseimbangan Tarif Pesawat: Antara Daya Beli Rakyat dan Kelangsungan Maskapai

Siasat Menhub Jaga Keseimbangan Tarif Pesawat: Antara Daya Beli Rakyat dan Kelangsungan Maskapai

Berkat performa impresifnya, Zhang Dianliang dinobatkan sebagai pemain terbaik atau Most Valuable Player (MVP) Xi’an Challenger 2026. Statistik mencatat bahwa ia mengoleksi total 38 poin di sepanjang turnamen, angka tertinggi di antara seluruh pemain yang berpartisipasi. Tak hanya itu, Zhang juga membukukan player value sebesar 40,5, sebuah angka yang menunjukkan efektivitas luar biasa dalam setiap menit ia berada di lapangan olahraga internasional ini.

Guo Hanyu juga tampil gemilang di partai final dengan sumbangan 10 poin, menjadikannya pencetak angka terbanyak di laga pamungkas tersebut. Sinergi antara Zhang sebagai motor serangan dan Guo sebagai eksekutor utama menjadi formula mematikan yang belum ditemukan penawarnya oleh Phoenix.

Drama Semifinal: Lolos dari Lubang Jarum

Langkah DeQing menuju tangga juara sebenarnya tidaklah mulus tanpa hambatan. Di babak semifinal, mereka nyaris terjungkal saat berhadapan dengan Skyliners asal Jerman. Tim Jerman yang diperkuat oleh spesialis 3×3, Stefan Kojic, sempat memimpin dengan skor 9-12. Skyliners memanfaatkan keunggulan fisik dan permainan taktis yang disiplin untuk meredam agresivitas DeQing.

Namun, sekali lagi mentalitas juara berbicara. Di saat-saat kritis, Francis Lacis melepaskan tiga poin terakhir yang krusial untuk membalikkan keadaan. Kemenangan tipis 18-16 atas Skyliners tersebut menjadi titik balik yang meningkatkan kepercayaan diri DeQing sebelum menghadapi Phoenix di final. Pertandingan ini disebut-sebut sebagai laga paling emosional dalam turnamen kali ini.

Menatap Amsterdam: Tantangan di Kasta Tertinggi

Meskipun harus puas di posisi kedua dan ketiga, Phoenix dan Skyliners tidak pulang dengan tangan hampa. Sesuai regulasi, ketiga tim terbaik di Xi’an Challenger berhak mendapatkan tiket kualifikasi menuju FIBA World Tour Amsterdam 2026. Ini berarti persaingan mereka akan berlanjut di Belanda pada pertengahan Juni mendatang.

World Tour Amsterdam dikenal sebagai salah satu seri paling bergengsi dengan atmosfer penonton yang sangat fanatik. DeQing, Phoenix, dan Skyliners akan bergabung dengan tim-tim raksasa lainnya seperti Ub dari Serbia yang sebelumnya menjuarai World Tour Chengdu, serta Liman yang membuka musim dengan kemenangan di Utsunomiya. Menghadapi lawan-lawan sekaliber itu, DeQing tentu harus mempersiapkan diri lebih matang jika ingin kembali naik ke podium tertinggi.

Ekosistem 3×3 yang Semakin Kompetitif di Tahun 2026

Perkembangan basket 3×3 dalam beberapa tahun terakhir memang sangat pesat. Dengan durasi pertandingan yang singkat namun intensitas yang sangat tinggi, olahraga ini semakin digemari oleh generasi muda. Keberhasilan Xi’an Challenger 2026 dalam menyedot perhatian publik membuktikan bahwa strategi FIBA untuk mendesentralisasi turnamen ke berbagai belahan dunia berjalan sukses.

Bagi tim-tim seperti DeQing, kemenangan ini merupakan bukti nyata dari investasi panjang dalam pengembangan atlet dan infrastruktur basket di China. Dengan kualifikasi menuju Amsterdam yang sudah di tangan, fokus kini beralih pada pemulihan fisik dan pembenahan taktik. Panggung dunia di Amsterdam akan menjadi ujian sesungguhnya, apakah dominasi DeQing di Asia mampu diterjemahkan menjadi supremasi di tingkat global. Kita tunggu saja bagaimana aksi Zhang Dianliang dan kolega di Amsterdam nanti.

Redaksi LajuBerita

Redaksi LajuBerita

Tim redaksi LajuBerita mengkurasi dan menulis berita terbaru dari berbagai sumber terpercaya di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *