Eskalasi Perang AS-Iran Kian Memanas, Harapan Penurunan BI Rate Kini Menipis

Reporter Nasional | LajuBerita
08 Apr 2026, 14:30 WIB
Eskalasi Perang AS-Iran Kian Memanas, Harapan Penurunan BI Rate Kini Menipis

LajuBerita — Awan mendung nampaknya tengah menyelimuti prospek pelonggaran kebijakan moneter di tanah air. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memberikan sinyal kuat bahwa ruang untuk memangkas suku bunga acuan atau BI Rate kini semakin sempit, menyusul ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang kian berkepanjangan.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Rabu (8/4/2026), Perry mengungkapkan bahwa dinamika global yang tak menentu memaksa bank sentral untuk bersikap lebih waspada. Meski BI telah mempertahankan tingkat suku bunga di level 4,75% hingga Maret 2026, optimisme akan adanya penurunan di masa mendatang justru kian pudar akibat dampak domino dari konflik di Timur Tengah.

Berita Lainnya

Mati Suri di Tengah Kota: Menilik Kondisi Stasiun Mampang yang Kian Terlupakan

Mati Suri di Tengah Kota: Menilik Kondisi Stasiun Mampang yang Kian Terlupakan

Dampak Domino Konflik terhadap Ekonomi Global

Konflik yang melibatkan kekuatan besar bukan sekadar persoalan militer, melainkan telah merembet ke sektor ekonomi global yang sangat sensitif. Perry menyoroti bagaimana defisit fiskal pemerintah AS yang membengkak akibat biaya pembiayaan perang telah memicu lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury, baik untuk tenor 2 tahun maupun 10 tahun.

“Melihat situasi ini, kami harus menyikapinya dengan mengedepankan stabilitas,” tegas Perry di hadapan para anggota dewan. Ia menjelaskan bahwa gejolak ini telah mengubah peta proyeksi ekonomi dunia secara signifikan.

Proyeksi Pertumbuhan dan Ancaman Inflasi

Berdasarkan analisis terbaru, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 diperkirakan akan melambat menjadi 3,1%, turun dari proyeksi sebelumnya yang berada di angka 3,2%. Penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor krusial yang saling berkaitan:

Berita Lainnya

Transformasi Pemuda Pulau Obi: Mencetak Generasi Mekanik Andal di Tengah Geliat Industri Nikel

Transformasi Pemuda Pulau Obi: Mencetak Generasi Mekanik Andal di Tengah Geliat Industri Nikel
  • Lonjakan Harga Minyak: Perang mengganggu jalur perdagangan dan memicu kenaikan harga energi, yang berdampak langsung pada rantai pasok global.
  • Tekanan Inflasi: Inflasi global diprediksi merangkak naik dari 3,8% menjadi 4,1%, yang pada gilirannya mempersempit ruang kebijakan moneter banyak negara.
  • Ketidakpastian The Fed: Kondisi ini kemungkinan besar akan menunda penurunan Fed Fund Rate oleh Bank Sentral AS.

Selain ancaman inflasi, pasar keuangan global juga tengah menghadapi tekanan hebat dengan menguatnya nilai tukar dolar AS (Greenback). Fenomena ini memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Bagi Bank Indonesia, fokus utama saat ini adalah memastikan stabilitas nilai tukar Rupiah dan menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah badai geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Berita Lainnya

Ekspansi Masif Merdeka Gold di Gorontalo: Prospek Kolokoa Incar Cadangan Hingga 40 Juta Ton

Ekspansi Masif Merdeka Gold di Gorontalo: Prospek Kolokoa Incar Cadangan Hingga 40 Juta Ton
Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *