Kebijakan Radikal Gavin Newsom: California Siap Sita 100 Persen ‘Dana Gelap’ Donald Trump Lewat Jalur Pajak

Reporter Nasional | LajuBerita
29 Mei 2026, 02:47 WIB
Kebijakan Radikal Gavin Newsom: California Siap Sita 100 Persen 'Dana Gelap' Donald Trump Lewat Jalur Pajak

LajuBerita — Hubungan antara negara bagian California dan pemerintah federal Amerika Serikat kembali memasuki fase konfrontasi yang tajam. Gubernur California, Gavin Newsom, baru-baru ini melontarkan pernyataan mengejutkan yang berpotensi memicu gejolak hukum besar di Negeri Paman Sam. Newsom secara terbuka menyatakan rencananya untuk mengenakan pajak sebesar 100 persen terhadap setiap pembayaran yang berasal dari dana kontroversial milik pemerintahan Presiden Donald Trump, yang nilainya mencapai hampir US$ 1,8 miliar.

Langkah provokatif ini diambil sebagai respons atas apa yang disebut sebagai upaya “persenjataan” politik amerika melalui distribusi dana kompensasi bagi mereka yang dianggap sebagai korban oleh kubu Trump. Dalam sebuah narasi yang diunggah melalui akun resmi kantor pers gubernur, dana sebesar US$ 1,776 miliar itu dijuluki secara eksplisit sebagai “dana gelap”. Angka tersebut diduga merujuk secara simbolis pada tahun kemerdekaan Amerika Serikat, namun bagi Newsom, dana itu tidak lebih dari alat politik yang tidak sah.

Berita Lainnya

Strategi ‘Economic Fury’ AS: Upaya Mematikan Urat Nadi Finansial Iran di Panggung G7

Strategi ‘Economic Fury’ AS: Upaya Mematikan Urat Nadi Finansial Iran di Panggung G7

Pernyataan Perang Pajak dari Sacramento

“Salah satu hal yang sedang kami godok saat ini adalah mengenakan pajak penuh atau 100 persen,” tegas Newsom dalam sebuah sesi wawancara yang kemudian dikutip secara luas oleh media internasional. Ia menegaskan bahwa setiap warga California yang menerima kucuran dana dari program tersebut tidak akan bisa menikmati hasilnya sama sekali. Menurut Newsom, kedaulatan negara bagian California memberikan mereka otoritas penuh untuk mengambil tindakan drastis melalui instrumen pajak california.

Meskipun pengumuman ini telah memicu perdebatan sengit di ruang publik, Newsom masih menyimpan rapat mengenai detail mekanisme dan kapan tepatnya aturan ini akan mulai diberlakukan. Di sisi lain, keheningan menyelimuti Gedung Putih dan Departemen Kehakiman. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan untuk menanggapi gertakan dari orang nomor satu di California tersebut. Ketidakpastian ini justru menambah tensi dalam dinamika strategi politik di tingkat nasional.

Berita Lainnya

Update Harga BBM: BP Ultimate Diesel Melonjak Tajam ke Rp 25.560, Produk Non-Subsidi Pertamina Ikut Menanjak

Update Harga BBM: BP Ultimate Diesel Melonjak Tajam ke Rp 25.560, Produk Non-Subsidi Pertamina Ikut Menanjak

Asal-Usul Dana dan Skandal IRS

Untuk memahami mengapa kebijakan ini begitu kontroversial, kita perlu menilik ke belakang pada asal-usul dana raksasa tersebut. Dana sebesar US$ 1,8 miliar ini muncul sebagai hasil dari penyelesaian hukum yang tidak biasa antara Donald Trump dengan Internal Revenue Service (IRS). Awal mula sengketa ini terjadi ketika Trump melayangkan gugatan terhadap IRS atas tuduhan kebocoran laporan pajaknya ke media massa yang dianggap merugikan reputasi bisnisnya.

Namun, yang menjadi sorotan tajam bukan hanya soal nominalnya, melainkan juga peruntukan dana tersebut. Sebagian besar dari dana ini dialokasikan untuk memberikan kompensasi kepada para terdakwa kasus kerusuhan Capitol 6 Januari. Sebagaimana diketahui, Trump telah memberikan pengampunan atau grasi kepada lebih dari 1.500 orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Kini, para pendukung fanatik tersebut mulai menghitung kerugian finansial yang mereka alami, mulai dari biaya pengacara, masa tahanan, hingga kebangkrutan bisnis, dengan harapan mendapatkan ganti rugi dari dana tersebut.

Berita Lainnya

Menerjang Pasar Global: 80 Ton Udang Berkualitas Super dari Kebumen Siap Taklukkan Meja Makan Amerika Serikat

Menerjang Pasar Global: 80 Ton Udang Berkualitas Super dari Kebumen Siap Taklukkan Meja Makan Amerika Serikat

Keadilan atau Penyalahgunaan Wewenang?

Langkah pemerintah federal di bawah kepemimpinan Trump ini dianggap oleh banyak pihak sebagai preseden buruk dalam sistem kasus hukum di Amerika. Para penerima dana mengklaim bahwa mereka adalah korban penyalahgunaan wewenang oleh Departemen Kehakiman pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden sebelumnya. Namun, narasi ini ditentang keras oleh kubu Demokrat dan bahkan sebagian politikus Republik.

Ketegangan semakin memuncak ketika terungkap bahwa bagian dari kesepakatan hukum antara Trump dan IRS mencakup klausul yang “melarang selamanya” lembaga pajak tersebut untuk mengaudit klaim pajak masa lalu milik Trump, anggota keluarganya, maupun kerajaan bisnisnya. Hal ini dipandang sebagai imunitas hukum yang tidak adil dan mencederai prinsip kesetaraan di mata hukum.

Berita Lainnya

Langkah Tegas Demi Nyawa: KAI Resmi Tutup 29 Perlintasan Sebidang Maut di Jawa dan Sumatra

Langkah Tegas Demi Nyawa: KAI Resmi Tutup 29 Perlintasan Sebidang Maut di Jawa dan Sumatra

Reaksi Keras dari Parlemen

Suara keberatan tidak hanya datang dari California. Senator Thom Tillis dari Partai Republik asal Carolina Utara turut melontarkan kritik pedas terhadap distribusi dana ini. Menurutnya, memberikan kompensasi kepada individu yang telah terbukti melakukan tindak kekerasan terhadap aparat penegak hukum adalah tindakan yang tidak logis dan mencederai moralitas publik.

“Bagaimana mungkin kita memberikan kompensasi kepada seseorang yang telah menyerang petugas kepolisian, mengakui kesalahannya, menjalani hukuman, kemudian diampuni, dan sekarang kita malah membayar mereka atas tindakan tersebut? Ini benar-benar tidak masuk akal,” ujar Tillis dengan nada geram. Kritik dari internal partai ini menunjukkan bahwa isu dana gelap ini telah melampaui batas sekat ideologi partai.

Langkah Hukum yang Menanti

Kebijakan pajak 100 persen yang direncanakan oleh Gavin Newsom dipastikan tidak akan berjalan mulus. Para pakar hukum memprediksi bahwa langkah ini akan segera digugat hingga ke Mahkamah Agung. Dua petugas kepolisian yang bertugas menjaga Gedung Capitol pada saat kerusuhan 6 Januari 2021 diketahui telah mengajukan tantangan hukum terhadap legalitas dana kompensasi tersebut. Mereka berpendapat bahwa dana itu menghina pengabdian dan pengorbanan para petugas yang terluka saat menjalankan tugas.

Di sisi lain, California mencoba memposisikan diri sebagai benteng terakhir melawan apa yang mereka sebut sebagai otoritarianisme administratif. Dengan mencoba menyita dana tersebut lewat jalur pajak, Newsom ingin mengirimkan pesan kuat bahwa negara bagian tidak akan tinggal diam melihat anggaran publik atau dana hasil penyelesaian hukum digunakan untuk tujuan yang dianggap merusak tatanan demokrasi.

Dampak Luas Bagi Ekonomi dan Politik

Jika rencana Newsom benar-benar terealisasi, hal ini akan menciptakan preseden baru dalam hukum perpajakan di Amerika Serikat. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah sebuah negara bagian memiliki hak untuk menetapkan tarif pajak yang secara efektif bersifat menyita atau konfiskatif terhadap jenis pendapatan tertentu? Jika California berhasil, bukan tidak mungkin negara bagian lain yang dikuasai Demokrat akan mengikuti jejak serupa, menciptakan fragmentasi sistem ekonomi yang semakin dalam.

Pertarungan ini juga menjadi panggung bagi Newsom untuk memperkuat profil politiknya di tingkat nasional. Dengan berani berhadapan langsung dengan kebijakan Trump, Newsom semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin utama kubu oposisi terhadap kebijakan-kebijakan konservatif yang kontroversial. Bagi rakyat Amerika, drama ini bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan soal integritas lembaga negara dan makna keadilan yang sesungguhnya di tengah ekonomi internasional yang juga sedang memperhatikan stabilitas politik AS.

Kini dunia menunggu langkah selanjutnya dari Sacramento. Akankah regulasi pajak ini disahkan dalam waktu dekat, ataukah ini hanya sekadar gertakan politik di tengah musim kampanye yang semakin panas? Satu hal yang pasti, kebijakan publik di Amerika Serikat kini telah menjadi medan pertempuran baru yang menggunakan instrumen fiskal sebagai senjata utamanya.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *