Skandal Udara: Presenter AS James Eppler Menuai Kecaman Global Usai Lontarkan ‘Lelucon’ Rasis Terkait Kolaborasi Oreo x BTS
LajuBerita — Dunia hiburan internasional tengah digemparkan oleh sebuah insiden yang memicu gelombang kemarahan besar, khususnya di kalangan pecinta musik K-Pop. Sebuah segmen berita di televisi Amerika Serikat yang seharusnya memberikan informasi ringan justru berubah menjadi panggung narasi kebencian. James Eppler, seorang pembawa acara berita senior, kini berada di pusaran kontroversi setelah melontarkan komentar yang dianggap rasis dan sangat tidak pantas mengenai produk kolaborasi terbaru antara brand biskuit ikonik Oreo dan grup megabintang asal Korea Selatan, BTS.
Sentimen negatif ini bermula ketika Oreo secara resmi meluncurkan kampanye global mereka yang sangat dinantikan. Kolaborasi Oreo x BTS ini menampilkan biskuit dengan sentuhan warna ungu yang khas, identik dengan warna fandom mereka, ARMY. Tak hanya estetika visual, krim di dalamnya pun mengusung cita rasa unik khas Korea Selatan, yakni hotteok atau pancake gula aren yang merupakan jajanan pinggir jalan yang sangat populer. Namun, kehangatan kolaborasi budaya ini justru dinodai oleh pernyataan provokatif dari Eppler dalam siaran langsung di stasiun televisi FOX34.
Terjebak di Kelas! 4 Rekomendasi Drakor Zombie Bertema Sekolah yang Paling Mencekam
Narasi Kebencian yang Terbungkus dalam ‘Lelucon’
Dalam potongan video yang viral di berbagai media sosial, James Eppler terlihat sedang mengulas bentuk dan desain produk Oreo x BTS. Alih-alih memberikan apresiasi terhadap inovasi rasa atau desain grafis biskuit tersebut, Eppler justru melakukan manuver verbal yang mengejutkan. Ia menyinggung desain tulisan yang terukir pada lapisan biskuit dan membuat klaim yang sangat berbahaya secara politik dan etnis.
Dengan nada yang dianggap meremehkan, Eppler melontarkan pernyataan bahwa ke-13 desain tulisan yang ada pada biskuit tersebut, jika digabungkan, akan membentuk kalimat “Death to America” atau “Kematian untuk Amerika.” Bagi publik global, frasa ini bukanlah sekadar kata-kata biasa; ini adalah slogan politik ekstrem yang sering dikaitkan dengan sentimen anti-Amerika di wilayah konflik seperti Iran, Afghanistan, dan Irak. Mengaitkan grup musik yang menyebarkan pesan perdamaian seperti BTS dengan slogan bermuatan politis dan penuh kekerasan semacam itu dianggap sebagai tindakan yang melampaui batas kewajaran jurnalisme.
Japanese Bob: Tren Rambut Geometris yang Mendefinisikan Ulang Makna Elegan dan Modern
Fakta di Balik Desain Manis Oreo x BTS
Apa yang diutarakan oleh Eppler berbanding terbalik 180 derajat dengan kenyataan yang ada. Tim redaksi LajuBerita melakukan penelusuran mendalam terhadap desain resmi yang diluncurkan oleh pihak produsen. Alih-alih pesan kebencian, biskuit tersebut justru dihiasi dengan pesan-pesan penuh cinta yang didedikasikan khusus untuk para penggemar.
Beberapa tulisan yang terukir manis di atas biskuit tersebut antara lain adalah “The Biggest Love, BTS ARMY,” “Our Universe, BTS ARMY,” “Our Happiness, BTS ARMY,” hingga “Dear BTS ARMY.” Pesan-pesan ini mencerminkan hubungan emosional yang mendalam antara grup beranggotakan tujuh orang tersebut dengan basis penggemar mereka yang tersebar di seluruh dunia. Tuduhan Eppler tidak hanya dinilai sebagai rasisme, tetapi juga sebagai bentuk disinformasi yang sangat nyata di industri hiburan.
Momen Langka Sultan Brunei Tampil ‘Low Profile’ di Wisuda Putri Ameerah, Netizen: Kirain Rakyat Biasa
Reaksi Keras ARMY dan Tuntutan Pertanggungjawaban
Kemarahan ARMY tidak dapat dibendung lagi. Sebagai salah satu basis massa terbesar di internet, ARMY segera mengorganisir gerakan untuk menuntut keadilan. Tak lama setelah siaran tersebut mengudara pada Rabu malam waktu setempat, akun Instagram pribadi James Eppler langsung dibanjiri oleh puluhan ribu komentar dari berbagai belahan dunia. Para penggemar menuntut permohonan maaf secara terbuka dan personal kepada seluruh anggota BTS.
Kritik yang dialamatkan kepada Eppler tidak hanya menyasar kapasitasnya sebagai pembawa acara berita, tetapi juga perannya dalam dunia pendidikan. Diketahui bahwa Eppler juga menjabat sebagai profesor Jurnalisme di Texas Tech University. Banyak pihak menyayangkan bagaimana seorang pendidik di bidang komunikasi dan etika jurnalistik bisa melontarkan komentar yang begitu sarat akan rasisme dan xenofobia. Desakan agar pihak universitas mengambil tindakan tegas, termasuk pemecatan, kini tengah menggema kuat di platform X (dahulu Twitter).
Pesona Harry dan Meghan di Pesta Netflix: Tetap Glamor di Tengah Badai Gugatan Hukum Sentebale
Ironi di Balik Standar Jurnalisme Profesional
Kasus ini menjadi sebuah ironi besar di tengah upaya global memerangi sentimen anti-Asia yang belakangan ini meningkat di negara-negara Barat. BTS, yang dikenal luas karena prestasi mereka di kancah internasional—termasuk memenangkan Artist of the Year di American Music Awards—seharusnya mendapatkan perlakuan yang bermartabat di media massa. Pernyataan Eppler dianggap sebagai kemunduran besar bagi standar jurnalisme profesional yang seharusnya menjunjung tinggi objektivitas dan sensitivitas budaya.
Menyusul gelombang kecaman yang tak kunjung reda, James Eppler terpantau telah mengubah pengaturan akun Instagram-nya menjadi privat. Langkah ini dianggap oleh banyak pihak sebagai upaya untuk menghindari tanggung jawab dan menutup diri dari kritik publik, alih-alih memberikan penjelasan atau permintaan maaf yang tulus. Hingga berita ini diturunkan, pihak FOX34 maupun Texas Tech University belum memberikan pernyataan resmi terkait tindakan staf mereka tersebut.
Pentingnya Literasi Budaya di Media Massa
Insiden ini menjadi pengingat keras bagi seluruh praktisi media di seluruh dunia akan pentingnya literasi budaya. Di era globalisasi di mana batas-batas negara semakin kabur melalui musik dan produk budaya lainnya, ketidaktahuan atau kepicikan seorang jurnalis dapat berdampak fatal terhadap reputasi mereka sendiri maupun institusi yang mereka wakili.
BTS telah berulang kali membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang bisa menyatukan perbedaan. Lewat kolaborasi dengan brand global seperti Oreo, mereka berupaya membawa sedikit kehangatan budaya Korea ke meja makan masyarakat dunia. Sangat disayangkan apabila niat baik dan pesan cinta tersebut harus terdistorsi oleh narasi kebencian yang tidak berdasar. Publik kini menunggu langkah selanjutnya dari otoritas terkait untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
LajuBerita akan terus memantau perkembangan kasus ini, termasuk kemungkinan adanya tuntutan hukum atau sanksi disipliner yang akan dijatuhkan kepada James Eppler atas pernyataannya yang telah melukai hati jutaan orang di seluruh dunia.