Kurs Rupiah Terkapar, Badai PHK Menghantui Puluhan Ribu Buruh: Sektor Manufaktur Paling Berdarah
LajuBerita — Awan mendung kembali menggelayuti langit ketenagakerjaan Indonesia. Di tengah fluktuasi ekonomi global yang kian tak menentu, sebuah laporan teranyar memberikan peringatan keras bagi para pelaku industri dan angkatan kerja nasional. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan adanya gelombang tambahan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berpotensi menyapu belasan hingga puluhan ribu tenaga kerja dalam waktu dekat.
Tekanan ini bukanlah isapan jempol belaka. Melemahnya nilai tukar mata uang garuda terhadap dolar AS, yang kini berada di level yang mengkhawatirkan, menjadi pemicu utama di balik goyahnya fondasi dunia usaha. Berdasarkan analisis mendalam CORE Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja yang kini berada dalam posisi terancam kehilangan mata pencaharian mereka akibat efisiensi yang terpaksa dilakukan perusahaan.
Analisis Harga Emas Antam Hari Ini: Koreksi Tipis di Tengah Fluktuasi Pasar Global, Saatnya Beli atau Jual?
Sektor Manufaktur Berada di Titik Nadir
LajuBerita mencatat bahwa industri manufaktur menjadi sektor yang paling babak belur dalam badai ekonomi kali ini. Sebagai tulang punggung ekonomi nasional, sektor ini sangat bergantung pada kestabilan pasokan bahan baku yang sayangnya sebagian besar masih mengandalkan impor. Ketika kurs rupiah terus merosot, biaya produksi otomatis membengkak secara drastis.
Dalam publikasi bertajuk ‘Badai PHK (Belum) Berlalu’ yang disusun oleh tim ahli CORE—Yusuf Rendy Manilet, Azhar Syahida, Dwi Setyorini, dan Lailatun Nikmah—terungkap angka-angka yang cukup menggetarkan. Sektor manufaktur diprediksi menyumbang angka PHK terbesar, yakni mencapai 8,7 ribu hingga 12,1 ribu pekerja. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya ketahanan industri pengolahan kita saat menghadapi guncangan harga input produksi.
Ekonomi RI Melesat 5,61% di Kuartal I 2026: Lampaui Raksasa China dan AS, Indonesia Pimpin Pertumbuhan G20
Tidak hanya manufaktur, efek domino ini juga merembet ke sektor lain. Sektor jasa diperkirakan akan memangkas sekitar 3,3 ribu hingga 4,5 ribu pekerja, sementara sektor pertanian, yang biasanya dianggap lebih stabil, juga berpotensi kehilangan 3,3 ribu hingga 3,6 ribu tenaga kerja. Kondisi ini menggambarkan bahwa tidak ada sektor yang benar-benar aman dari terjangan badai ekonomi kali ini.
Efek Domino Konflik Global dan Pelemahan Rupiah
Mengapa kondisi ini bisa terjadi? CORE Indonesia menggunakan Tabel Input-Output 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk membedah masalah ini. Ada dua faktor eksternal utama yang menjadi motor penggerak krisis: ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan pelemahan nilai tukar yang ekstrem.
Laporan ADB 2026: Indonesia Menjadi Titik Terang di Tengah Bayang-Bayang Lesunya Ekonomi Asia
Gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi dan logistik global, telah menyebabkan rantai pasok dunia tersendat. Kelangkaan bahan baku menjadi ancaman nyata bagi perusahaan-perusahaan di tanah air. Di sisi lain, ekonomi Indonesia semakin terhimpit oleh nilai tukar rupiah yang diproyeksikan bisa terus melampaui angka Rp 17.400 per dolar AS.
Analisis CORE menyajikan dua skenario utama. Dalam skenario sedang, perusahaan yang mengalami kenaikan harga bahan baku di atas 1,5 persen akan mulai memangkas output sebesar 0,1 persen. Namun, dalam skenario buruk, pemangkasan output bisa mencapai 0,15 persen. Dampaknya jelas: ketika produksi berkurang, maka kebutuhan akan tenaga kerja pun ikut menyusut, dan PHK menjadi jalan pintas yang pahit bagi perusahaan untuk bertahan hidup.
Kabar Gembira Bagi Pelaku Usaha: DJP Resmi Hapuskan Sanksi Keterlambatan SPT Badan Hingga Akhir Mei 2026
Masa Depan Suram Tenaga Kerja Formal
Salah satu poin paling krusial yang disorot oleh LajuBerita dalam laporan CORE adalah semakin rapuhnya pasar tenaga kerja formal di Indonesia. Selama periode 2021-2025, pertumbuhan tenaga kerja di sektor formal hanya tercatat sebesar 0,8 persen. Angka ini kalah jauh jika dibandingkan dengan pertumbuhan di sektor informal yang melesat hingga 3,2 persen.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa sektor formal, yang seharusnya memberikan perlindungan sosial dan kesejahteraan yang lebih baik, justru sedang mengalami stagnasi. Faktanya, sepanjang 2022-2026, tambahan serapan tenaga kerja di sektor formal hanya mampu mencakup 73 persen dari total tambahan pekerja di sektor informal. Ini adalah alarm bahaya bagi kualitas lapangan kerja di masa depan.
Puncaknya terlihat pada data Februari 2026, di mana jumlah angkatan kerja baru yang berhasil terserap sebagai pekerja formal hanya mencapai 38 ribu orang. Angka ini mencerminkan kejatuhan yang sangat tajam, yakni merosot hingga 86 persen jika dibandingkan dengan rata-rata periode 2010-2019 maupun 2022-2025. Indonesia seolah kehilangan kemampuannya untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi generasi mudanya.
Migrasi Masif ke Sektor Informal
Dampak langsung dari badai PHK ini adalah beralihnya para korban pemecatan ke sektor informal. Sektor ini sering kali menjadi ‘bantal pelindung’ terakhir, namun dengan risiko tanpa jaminan hari tua, pendapatan yang tidak tetap, dan perlindungan hukum yang minim. Hingga Februari 2026, tercatat ada 87,74 juta orang yang menggantungkan hidup di sektor informal, atau setara dengan 59,42 persen dari total tenaga kerja aktif di Indonesia.
“Implikasi dari potensi tambahan jumlah PHK ini adalah naiknya jumlah angkatan kerja yang menganggur atau naiknya tenaga kerja di sektor informal,” tulis CORE dalam laporannya. Fenomena ini mempertegas bahwa industri manufaktur dan sektor formal lainnya sedang kehilangan daya saing dan daya serapnya.
Kesimpulan: Kerapuhan yang Sudah Lama Terjadi
Meskipun faktor eksternal seperti perang di Timur Tengah dan kenaikan suku bunga global menjadi pemantik utama, CORE Indonesia menegaskan bahwa masalah ketenagakerjaan di dalam negeri sebenarnya sudah rapuh sejak lebih dari satu dekade terakhir. Ketergantungan yang tinggi pada input impor dan kurangnya diversifikasi industri membuat pasar tenaga kerja domestik mudah goyah saat dihantam badai dari luar.
Tanpa adanya intervensi kebijakan yang berani dan struktural dari pemerintah untuk memperkuat industri dalam negeri dan menstabilkan nilai tukar, impian Indonesia Emas bisa terganjal oleh masalah pengangguran dan rendahnya kualitas serapan tenaga kerja. Badai PHK ini mungkin belum berlalu, dan bagi ribuan buruh di luar sana, hari-hari ke depan akan menjadi ujian ketahanan yang sesungguhnya di tengah ketidakpastian ekonomi yang kian pekat.