Strategi Besar Komisi VII DPR: Menjadikan Siaran Piala Dunia 2026 sebagai Katalisator Ekonomi Kerakyatan di Seluruh Pelosok Negeri

Redaksi LajuBerita | LajuBerita
09 Jun 2026, 20:47 WIB
Strategi Besar Komisi VII DPR: Menjadikan Siaran Piala Dunia 2026 sebagai Katalisator Ekonomi Kerakyatan di Seluruh Pelo

LajuBerita — Gelaran akbar Piala Dunia 2026 bukan sekadar panggung bagi para bintang sepak bola dunia untuk memperebutkan trofi emas. Di balik euforia lapangan hijau, terdapat potensi ekonomi raksasa yang siap digarap hingga ke tingkat daerah. Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menegaskan bahwa hak siar yang telah diamankan oleh negara harus menjadi instrumen kuat untuk menggerakkan roda ekonomi daerah secara signifikan.

Visi ini muncul bukan tanpa alasan. Novita memandang bahwa Piala Dunia 2026 memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar agenda penyiaran televisi konvensional. Baginya, ini adalah momentum emas bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta sektor pariwisata untuk bersinar di tengah sorotan mata dunia. Melalui kemasan yang kreatif, siaran ini bisa diubah menjadi rangkaian festival yang menghidupkan suasana kota hingga pedesaan.

Berita Lainnya

Mengarungi Badai Geopolitik: Strategi Perdagangan Intra-Asia Indonesia dan Lonjakan Arus Peti Kemas Pelindo 2026

Mengarungi Badai Geopolitik: Strategi Perdagangan Intra-Asia Indonesia dan Lonjakan Arus Peti Kemas Pelindo 2026

Transformasi Hak Siar Menjadi Dampak Riil di Masyarakat

Pemerintah melalui Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (TVRI) telah berhasil mengamankan hak siar untuk turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat tersebut. Namun, Novita Hardini memberikan catatan kritis agar kemenangan administratif ini tidak berhenti di layar kaca saja. Ia menekankan pentingnya strategi tindak lanjut yang mampu menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat luas.

“Jangan sampai hak siar sudah dimiliki negara tetapi dampak ekonomi ikutannya tidak maksimal dirasakan masyarakat,” ungkap Novita dalam pernyataan resminya. Ia mendorong agar pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait mulai merancang skema kegiatan pendukung, seperti area nonton bareng (nobar) yang terintegrasi dengan pasar rakyat. Dengan adanya nonton bareng yang terorganisir, pedagang kaki lima, pengusaha kuliner, hingga penyedia jasa lainnya akan mendapatkan lonjakan omzet yang tidak sedikit.

Berita Lainnya

Ledakan Laba Samsung Q1 2026: Rekor Sejarah di Tengah Kejayaan Industri Semikonduktor dan AI

Ledakan Laba Samsung Q1 2026: Rekor Sejarah di Tengah Kejayaan Industri Semikonduktor dan AI

Lonjakan Pertandingan: Peluang Bisnis yang Berlipat Ganda

Salah satu poin krusial dalam edisi Piala Dunia 2026 adalah peningkatan jumlah pertandingan yang sangat drastis. Jika pada edisi 2022 di Qatar hanya menyuguhkan 64 pertandingan, pada tahun 2026 nanti jumlahnya melonjak menjadi 104 pertandingan. Penambahan durasi dan frekuensi ini merupakan kabar baik bagi para pelaku bisnis di daerah.

Setiap pertandingan adalah kesempatan untuk mengumpulkan massa. Dengan total 104 laga, durasi perputaran uang di sektor riil akan berlangsung lebih lama. Festival UMKM yang diselenggarakan di sela-sela jadwal pertandingan dapat menjadi wadah bagi produk lokal untuk dikenal lebih luas. Novita optimis bahwa jika dikelola dengan manajemen yang apik, sektor pariwisata lokal juga akan terdampak positif lewat kunjungan wisatawan domestik yang ingin merasakan atmosfer Piala Dunia di tempat-tempat ikonik daerah.

Berita Lainnya

Misi Kemanusiaan di Sumatra: Menteri PKP Maruarar Sirait Kucurkan Rp2,2 Triliun Demi Percepatan Hunian Tetap

Misi Kemanusiaan di Sumatra: Menteri PKP Maruarar Sirait Kucurkan Rp2,2 Triliun Demi Percepatan Hunian Tetap

Menjamin Inklusivitas Siaran hingga Wilayah 3T

Salah satu mandat utama yang diemban TVRI adalah memastikan siaran gratis ini menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Komisi VII DPR RI sangat menaruh perhatian pada aspek pemerataan informasi ini. Novita mengingatkan bahwa semangat kebangsaan dan atmosfer kebanggaan nasional harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali, termasuk mereka yang berada di pelosok negeri.

Namun, tantangan teknis masih membayangi. Transisi ke siaran digital menuntut kesiapan infrastruktur yang mumpuni di seluruh penjuru nusantara. “Persiapan harus maksimal karena ini Piala Dunia pertama yang kembali ditayangkan TVRI setelah puluhan tahun. Kualitas siaran, akses publik, dan kenyamanan menonton harus dijamin sepenuhnya,” tegas Novita. Ia meminta adanya penguatan kampanye publik agar masyarakat tahu bagaimana cara mengakses siaran tersebut dengan kualitas terbaik.

Berita Lainnya

Strategi Jitu BTN Tekan Rasio NPL KPR Menjadi 2,8 Persen di Awal Tahun 2026

Strategi Jitu BTN Tekan Rasio NPL KPR Menjadi 2,8 Persen di Awal Tahun 2026

Optimalisasi Sektor Kreatif dan Promosi Pariwisata

Piala Dunia 2026 adalah panggung promosi yang sangat efektif. Melalui siaran yang masif, pemerintah dapat menyisipkan pesan-pesan promosi destinasi wisata unggulan daerah. Novita menyarankan agar setiap jeda pertandingan atau program pendukung siaran digunakan untuk memperkenalkan potensi kekayaan alam dan budaya Indonesia kepada khalayak luas.

Selain itu, sektor ekonomi kreatif seperti kerajinan tangan bertema sepak bola, produksi jersey lokal, hingga merchandise khas daerah bisa menjadi komoditas unggulan. Kreativitas dalam mengemas acara pendukung di tingkat lokal akan menentukan seberapa besar nilai tambah yang didapatkan oleh masing-masing daerah dari momentum empat tahunan ini.

Fungsi Pengawasan DPR dalam Menyukseskan Penyiaran

Sebagai anggota legislatif, Novita Hardini memastikan bahwa Komisi VII akan menjalankan fungsi pengawasan secara ketat. Hal ini mencakup monitoring terhadap alokasi anggaran, kesiapan teknologi pemancar, hingga efektivitas kolaborasi antarlembaga, termasuk koordinasi dengan LKBN ANTARA dalam hal diseminasi informasi dan dokumentasi.

Fungsi pengawasan ini bertujuan untuk memastikan bahwa penyiaran Piala Dunia 2026 berjalan secara optimal dan inklusif. DPR ingin memastikan tidak ada praktik monopoli yang merugikan rakyat kecil dan memastikan bahwa akses gratis yang dijanjikan benar-benar terwujud tanpa kendala teknis yang berarti di lapangan.

Membangun Kebanggaan Nasional Melalui Sepak Bola

Di luar urusan angka dan ekonomi, Piala Dunia selalu membawa pesan persatuan. Menonton pertandingan bersama tetangga dan kerabat menciptakan ruang sosial yang memperkuat ikatan komunitas. Novita berharap melalui siaran gratis ini, peran media publik seperti TVRI kembali diperhitungkan dan menjadi kebanggaan di hati masyarakat Indonesia.

“Ini bukan hanya soal bola, tapi soal bagaimana negara hadir memberikan hiburan berkualitas yang sekaligus memberdayakan ekonomi rakyatnya,” tutup Novita. Dengan persiapan yang matang sejak dini, Piala Dunia 2026 diharapkan menjadi tonggak baru kebangkitan ekonomi kreatif dan pariwisata di Indonesia, yang berawal dari sebuah layar televisi namun berdampak nyata hingga ke piring nasi masyarakat di daerah.

Keberhasilan skenario ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Jika semua elemen ini bergerak selaras, maka Piala Dunia 2026 bukan mustahil akan dikenang sebagai salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi paling dinamis di dekade ini, membuktikan bahwa sepak bola memang memiliki kekuatan ajaib untuk mengubah dunia, atau setidaknya, mengubah ekonomi sebuah daerah menjadi lebih sejahtera.

Redaksi LajuBerita

Redaksi LajuBerita

Tim redaksi LajuBerita mengkurasi dan menulis berita terbaru dari berbagai sumber terpercaya di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *