Eksperimen Mode Katy Perry di Opening Ceremony Piala Dunia 2026: Antara Seni Stella McCartney dan Olok-olok Netizen

Reporter Lifestyle | LajuBerita
13 Jun 2026, 18:46 WIB
Eksperimen Mode Katy Perry di Opening Ceremony Piala Dunia 2026: Antara Seni Stella McCartney dan Olok-olok Netizen

LajuBerita — Gemerlap panggung pembukaan FIFA World Cup 2026 di SoFi Stadium, Los Angeles, seharusnya menjadi momen magis yang menyatukan gairah olahraga dan kemegahan hiburan dunia. Namun, di tengah hiruk-pikuk sorakan suporter dan dentuman musik dari para superstar global, perhatian publik justru terbelah. Bukan karena skor pertandingan antara Amerika Serikat kontra Paraguay yang menjadi tajuk utama, melainkan pilihan busana Katy Perry yang dinilai terlalu eksentrik bagi sebagian orang.

Panggung Megah di Jantung California

Jumat malam, 12 Juni 2026, menjadi saksi bagaimana SoFi Stadium bertransformasi menjadi pusat semesta. Upacara pembukaan yang dinanti-nantikan ini tidak main-main dalam menyajikan daftar penampil. Nama-nama besar seperti Future, Anitta, hingga sensasi global Lisa BLACKPINK, Rema, dan Tyla, turut memanaskan atmosfer sebelum peluit pertama dibunyikan. Namun, saat Katy Perry melangkah ke tengah lapangan, atmosfer berubah menjadi diskusi hangat di jagat maya.

Berita Lainnya

Ramalan Zodiak Cinta 9 Mei: Gelombang Romansa Capricorn dan Ujian Loyalitas Gemini

Ramalan Zodiak Cinta 9 Mei: Gelombang Romansa Capricorn dan Ujian Loyalitas Gemini

Katy, yang belakangan ini kerap menjadi sorotan karena kehidupan pribadinya, tampil dengan kepercayaan diri tinggi. Mengenakan gaun perak metalik yang berkilau di bawah lampu stadion yang terang benderang, pelantun lagu hits ini mencoba membawa napas futuristik ke dalam perhelatan sepak bola paling bergengsi di planet ini. Sayangnya, visi artistik tersebut tampaknya tidak sepenuhnya selaras dengan selera kolektif netizen yang dikenal tajam dalam melontarkan kritik.

Detail Busana: Eksperimen Avant-Garde yang Berisiko

Gaun yang dikenakan Katy Perry bukanlah busana sembarangan. Diketahui, pakaian tersebut merupakan hasil karya desainer kenamaan Stella McCartney yang diambil dari koleksi Fall/Winter 2026. Gaun dengan potongan halter neck ini menampilkan siluet yang unik, dengan bagian pinggang yang melebar secara struktural dan menjuntai hingga menyentuh lantai. Material metalik yang dominan ditambah dengan aksen fringe memberikan kesan gerak yang dinamis saat Katy beraksi di panggung.

Berita Lainnya

Tren ‘City Work Date’: Saat Romantisme Bertemu Produktivitas di Atas Aspal Jalanan

Tren ‘City Work Date’: Saat Romantisme Bertemu Produktivitas di Atas Aspal Jalanan

Untuk melengkapi penampilannya yang sudah sangat “berisik,” Katy memilih gaya minimalis pada area wajah dan rambut. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai tanpa aksesori tambahan, sementara riasan wajahnya dibuat natural. Mungkin tujuannya adalah agar fokus penonton tertuju sepenuhnya pada gaun perak tersebut. Namun, kesederhanaan di bagian kepala ini justru membuat struktur gaun yang kaku di bagian bawah semakin mencolok mata.

Gelombang Kritik dan Meme: Dari Cokelat hingga Kap Lampu

Tak butuh waktu lama bagi para pengguna media sosial untuk mengubah penampilan fashion selebriti ini menjadi bahan lelucon. Platform X (dahulu Twitter) langsung dibanjiri dengan berbagai perbandingan visual yang jenaka sekaligus pedas. Salah satu yang paling viral adalah unggahan yang menyandingkan foto Katy dengan bungkus cokelat ikonik Hershey’s Kiss. Kemiripan bentuk kerucut metalik pada gaun tersebut dengan bungkus cokelat itu sulit untuk diabaikan.

Berita Lainnya

Ramalan Zodiak Hari Ini 9 Mei: Strategi Scorpio Menghadapi Tantangan dan Jalan Tenang untuk Libra

Ramalan Zodiak Hari Ini 9 Mei: Strategi Scorpio Menghadapi Tantangan dan Jalan Tenang untuk Libra

“Katy Perry secara harfiah tampil sebagai kostum Hershey’s Kiss malam ini,” tulis salah satu pengguna yang langsung mendapatkan ribuan suka. Tak berhenti di situ, imajinasi liar netizen terus berkembang. Ada yang menyebutnya mirip dengan kap lampu klasik, dekorasi pohon Natal yang tertinggal, hingga loyang aluminium yang digunakan untuk memanggang ayam. Istilah “UFO jatuh di tengah lapangan” pun sempat menjadi tren di kolom komentar.

Antara Kritik Estetika dan Kualitas Vokal

Kritik yang diterima Katy tidak hanya berhenti pada urusan kain dan jahitan. Beberapa penonton juga mempertanyakan kualitas vokalnya malam itu. Seorang pengguna X menuliskan kekecewaannya, “Apa yang sebenarnya saya tonton? Siapa yang membiarkan Katy Perry berpakaian seperti hiasan Natal? Dan lebih penting lagi, siapa yang membiarkan suaranya terdengar seperti itu? Astaga, ini sungguh buruk.”

Berita Lainnya

Ramalan Zodiak Cinta 30 April: Menavigasi Badai Asmara Melalui Kedewasaan dan Komunikasi yang Hangat

Ramalan Zodiak Cinta 30 April: Menavigasi Badai Asmara Melalui Kedewasaan dan Komunikasi yang Hangat

Sentimen negatif ini kontras dengan penampilan musisi lain yang tampil di acara yang sama. Penampilan Piala Dunia 2026 yang seharusnya menjadi puncak karier bagi banyak artis, justru menjadi medan ranjau bagi Katy. Meski begitu, bagi para pengamat mode, apa yang dilakukan Katy dan Stella McCartney adalah sebuah keberanian untuk keluar dari zona nyaman busana panggung yang membosankan dan repetitif.

Kolaborasi dengan Tius Luka: Sisi Emosional di Tengah Kontroversi

Di balik riuhnya komentar miring mengenai busananya, Katy Perry sebenarnya membawakan sebuah pesan emosional lewat penampilannya. Ia berduet dengan penyanyi cilik berbakat asal Norwegia, Tius Luka, yang baru berusia 10 tahun. Keduanya membawakan lagu berjudul ‘Wonder’ yang sarat akan pesan harapan dan kekaguman. Kehadiran Tius Luka memberikan sentuhan kemurnian yang sedikit banyak menyeimbangkan nuansa metalik kaku dari busana Katy.

Ribuan penonton di SoFi Stadium tetap memberikan tepuk tangan meriah saat lagu berakhir. Bagaimanapun, energi panggung yang diberikan Katy tetaplah maksimal. Ia tetaplah seorang profesional yang mampu menguasai lapangan luas meskipun sedang mengenakan busana yang memicu perdebatan global. Penampilan ini membuktikan bahwa dalam industri hiburan, pujian dan cacian seringkali datang dalam satu paket yang sama.

Mengapa Pilihan Mode di Acara Olahraga Selalu Sensitif?

Fenomena kritik terhadap gaun Katy Perry ini sebenarnya mencerminkan bagaimana gaya hidup dan fashion kini menjadi elemen tak terpisahkan dari turnamen olahraga. Penonton Piala Dunia tidak hanya berasal dari kalangan pecinta sepak bola, tetapi juga publik luas yang memperhatikan detail terkecil dari presentasi visual. Sebuah gaun bukan lagi sekadar pakaian, melainkan sebuah pernyataan politik, seni, atau bahkan branding pribadi.

Stella McCartney, sebagai desainer di balik gaun tersebut, dikenal dengan pendekatan mode berkelanjutan dan desain yang seringkali menantang arus utama. Memilih koleksi Fall/Winter 2026 untuk acara musim panas adalah sebuah langkah berisiko yang memang ditujukan untuk menarik perhatian. Dalam dunia pemasaran, perhatian—baik itu positif maupun negatif—adalah komoditas yang sangat berharga.

Kesimpulan: Gaya yang Akan Terus Diingat

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat apakah gaun perak Katy Perry di Opening Ceremony Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai kegagalan mode atau justru sebagai momen ikonik yang mendahului zamannya. Sejarah mode seringkali berulang; apa yang hari ini dihina sebagai “kap lampu,” mungkin sepuluh tahun lagi akan dipuja sebagai karya jenius avant-garde.

Katy Perry sekali lagi membuktikan bahwa dirinya adalah magnet bagi berita. Baik melalui musiknya, hubungan asmaranya dengan tokoh-tokoh penting, hingga pilihan busananya yang memancing tawa, ia tetap berada di pusat percakapan dunia. Di tengah semua meme dan kritik, satu hal yang pasti: semua orang membicarakan Katy Perry, dan itulah inti dari menjadi seorang megabintang di era digital ini.

Reporter Lifestyle

Reporter Lifestyle

Menyajikan berita hiburan, teknologi, kesehatan, travel, dan otomotif dengan gaya menarik dan informatif.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *