Jejak Duka Lhok Pungki: Menelusuri ‘Dusun yang Hilang’ di Jantung Aceh Utara

Redaksi LajuBerita | LajuBerita
11 Apr 2026, 10:49 WIB
Jejak Duka Lhok Pungki: Menelusuri 'Dusun yang Hilang' di Jantung Aceh Utara

LajuBerita — Perjalanan menyusuri serpihan memori di tanah Rencong membawa tim kami pada sebuah realitas yang getir. Pada medio Februari 2026, bertepatan dengan persiapan masyarakat menyambut bulan suci Ramadan, LajuBerita kembali menelusuri sejauh mana gerak rekonstruksi pascabencana dan rehabilitasi di tanah Aceh. Namun, yang kami temukan bukan sekadar data teknis, melainkan potret ketegaran di tengah reruntuhan.

Lhok Pungki: Titik Nol yang Terisolasi

Langkah kaki kami terhenti di Dusun Lhok Pungki, sebuah wilayah pedalaman di ujung Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Lokasi ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bireuen dan Bener Meriah, sebuah titik yang kini lebih dikenal sebagai “dusun yang hilang”. Tragedi banjir bandang dan tanah longsor yang melanda pada akhir November 2025 silam telah menghapus wajah dusun ini dari peta pemukiman.

Berita Lainnya

Perkuat Ketahanan Pangan Ibu Kota, DKI Jakarta Jalin Sinergi Strategis dengan Kota Pariaman

Perkuat Ketahanan Pangan Ibu Kota, DKI Jakarta Jalin Sinergi Strategis dengan Kota Pariaman

Akses menuju Lhok Pungki adalah ujian nyali tersendiri. Jalanan yang dulunya bisa dilalui kendaraan, kini tertutup lumpur pekat yang karakternya berubah-ubah mengikuti curah hujan. Hujan rintik saja sudah cukup untuk mengisolasi kawasan ini kembali. Di tengah perjalanan, tim LajuBerita beberapa kali harus turun tangan, menimbun lubang-lubang jalan dengan bebatuan gunung agar kendaraan tidak terperosok ke dalam kubangan maut.

Hamparan Puing dan Batu Vulkanik

Setibanya di lokasi, pemandangan yang tersaji begitu menyesakkan dada. Lhok Pungki yang dulu padat penduduk kini berubah menjadi padang puing yang sunyi. Material banjir yang tertinggal bukanlah sekadar pasir atau kerikil, melainkan bongkahan batu raksasa menyerupai batu vulkanik dan batang-batang kayu gelondongan yang berserakan tak beraturan. Sulit membayangkan bahwa di bawah tumpukan material ini, pernah ada kehidupan yang berdenyut hangat.

Berita Lainnya

Misi Pemerataan Pendidikan: Mengapa Wilayah Pinggiran Papua Barat Menjadi Fokus Utama Beasiswa PIP 2026?

Misi Pemerataan Pendidikan: Mengapa Wilayah Pinggiran Papua Barat Menjadi Fokus Utama Beasiswa PIP 2026?

Ramadan Tanpa Pusara untuk Diziarahi

Di sudut reruntuhan, kami bertemu dengan Adi (40). Pria paruh baya ini berdiri mematung di depan sisa-sisa bangunan yang pernah menjadi rumah adiknya. Bagi Adi, bencana ini bukan hanya soal kehilangan harta benda, melainkan luka yang sulit mengering. Ia kehilangan kakak dan adiknya dalam terjangan air bah tersebut.

Namun, duka paling mendalam dirasakannya saat menyadari bahwa makam kedua orang tuanya pun turut tersapu banjir. Menjelang bulan suci Ramadan—momen di mana warga Aceh biasanya melakukan tradisi ziarah kubur—Adi hanya bisa menatap tanah kosong yang gersang. Tak ada batu nisan untuk diusap, tak ada pusara untuk ditaburi bunga. Jenazah saudara-saudaranya pun hingga kini belum ditemukan.

Berita Lainnya

Bukan Sekadar Estetika, Inilah Filosofi Mendalam Seragam Tahanan Kuning di Film “Ghost in the Cell” Karya Joko Anwar

Bukan Sekadar Estetika, Inilah Filosofi Mendalam Seragam Tahanan Kuning di Film “Ghost in the Cell” Karya Joko Anwar

“Orang tua sudah tidak ada, jenazahnya juga sudah hilang tersapu air. Satu keluarga habis. Kakak dan adik pun tidak meninggalkan jejak,” tutur Adi dengan suara lirih yang nyaris hilang ditelan angin.

Menatap Masa Depan di Hunian Sementara

Meski memikul beban duka yang berat, Adi dan 85 kepala keluarga lainnya kini mulai mencoba bangkit. Setelah empat bulan bertahan di bawah terpal pengungsian yang sempit, cahaya harapan mulai muncul lewat pembangunan hunian sementara (huntara) di Desa Gunci.

Kepala Desa Gunci, Fazir Ramli, menjelaskan bahwa proses transisi ini sangat krusial bagi psikologis warga. “Saat ini sudah tersedia 86 unit huntara dan semuanya sudah ditempati oleh warga dari Lhok Pungki. Ini adalah langkah awal agar mereka bisa kembali menata hidup sebelum relokasi permanen dilakukan,” jelas Fazir.

Berita Lainnya

BKSAP DPR RI Kecam Agresi Israel di Timur Tengah: Ancaman Nyata Perang Dunia Ketiga

BKSAP DPR RI Kecam Agresi Israel di Timur Tengah: Ancaman Nyata Perang Dunia Ketiga

Bagi para penyintas, huntara ini lebih dari sekadar tempat berteduh. Ia adalah simbol keberlanjutan hidup di tengah keterbatasan yang ada. Di sana, di tengah doa-doa yang dipanjatkan menjelang Ramadan, warga Lhok Pungki membuktikan bahwa meski dusun mereka hilang, semangat untuk bertahan tetap kokoh berdiri.

Redaksi LajuBerita

Redaksi LajuBerita

Tim redaksi LajuBerita mengkurasi dan menulis berita terbaru dari berbagai sumber terpercaya di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *