Tensi Memanas di Timur Tengah: Menlu Iran Ungkap Penyebab Gagalnya Kesepakatan Damai Islamabad dengan AS
LajuBerita — Harapan dunia untuk melihat meredanya gejolak di kawasan Timur Tengah tampaknya harus kembali tertunda. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, secara terbuka mengungkapkan bahwa perundingan damai terbaru antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu. Padahal, menurut Araghchi, kedua belah pihak sebenarnya sudah berada di ambang kesepakatan bersejarah.
Melalui unggahan di platform media sosial X pada Senin (13/4) pagi waktu setempat, Araghchi menjelaskan bahwa Teheran dan Washington hanya tinggal “selangkah lagi” dari penandatanganan nota kesepahaman yang disebut sebagai ‘MoU Islamabad’. Perundingan ini sejatinya dipandang sangat krusial karena merupakan pertemuan tingkat tinggi paling intensif yang melibatkan kedua negara dalam kurun waktu hampir lima dekade terakhir.
Kebuntuan di Islamabad: Mengapa Perundingan Maraton Iran dan Amerika Serikat Berakhir Tanpa Kesepakatan?
Tuntutan Maksimalis dan Ancaman Blokade Laut
Araghchi menyayangkan sikap delegasi Amerika yang dinilainya tiba-tiba berubah di detik-detik terakhir. Ia menuding adanya tuntutan maksimalis dan perubahan sikap yang tidak konsisten dari pihak Gedung Putih sebagai penghambat utama. “Kami terlibat dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Namun, di saat kesepakatan sudah di depan mata, kami justru menghadapi tuntutan yang berubah-ubah dan ancaman blokade. Tidak ada pelajaran yang dipetik dari masa lalu,” tegas Araghchi.
Situasi semakin keruh ketika Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan provokatif melalui akun Truth Social miliknya. Trump menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk bersiap melakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz, jalur logistik energi paling vital di dunia.
Mengawal Danantara: Makassar Jadi Titik Awal Debat Publik Terkait Masa Depan Superholding Rp14.700 Triliun
Respons Keras Militer Iran: “Sangat Konyol”
Ancaman blokade tersebut langsung memicu reaksi keras dari jajaran militer Teheran. Komandan Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, menyebut gertakan Trump sebagai sesuatu yang “konyol dan menggelikan”. Mengutip laporan kantor berita Tasnim, militer Iran saat ini tengah memantau secara ketat setiap pergerakan pasukan Amerika Serikat di seluruh kawasan tersebut.
Senada dengan itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga merilis pernyataan resmi yang bersifat peringatan terakhir. Mereka menegaskan bahwa setiap kehadiran kapal militer asing yang mencoba mendekati wilayah strategis tersebut dengan dalih apa pun akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata. IRGC memastikan akan mengambil tindakan tegas dan tanpa kompromi demi menjaga stabilitas geopolitik Timur Tengah serta kedaulatan maritim mereka.
Komitmen Menteri ESDM: Targetkan Seluruh Kepulauan Sulawesi Utara Terang Benderang pada 2027
Kegagalan diplomasi di Islamabad ini menandai babak baru ketegangan yang semakin tidak menentu antara Washington dan Teheran, di mana narasi perdamaian kini kembali tertutup oleh bayang-bayang konfrontasi militer di jalur pelayaran global.