Kebuntuan di Islamabad: China Tetap Dorong Jalur Diplomasi Meski Perundingan AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan

Redaksi LajuBerita | LajuBerita
14 Apr 2026, 08:52 WIB
Kebuntuan di Islamabad: China Tetap Dorong Jalur Diplomasi Meski Perundingan AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan

LajuBerita — Di tengah awan mendung yang menyelimuti peta politik Timur Tengah, Pemerintah China tetap memegang teguh optimisme bahwa dialog adalah satu-satunya jalan keluar. Meskipun perundingan damai tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa titik temu, Beijing mendesak semua pihak untuk tidak angkat kaki dari meja negosiasi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa pertemuan di Islamabad tersebut sebenarnya merupakan langkah krusial menuju deeskalasi. Dalam konferensi pers yang digelar di Beijing pada Senin (13/4), ia menyatakan bahwa perdamaian di kawasan Teluk hanya bisa dipulihkan jika perselisihan diselesaikan melalui kanal politik dan diplomatik, bukan moncong senjata.

Berita Lainnya

Aksi Tegas KKP di Selat Malaka: Tiga Kapal Ilegal Asal Malaysia Diringkus, Rp20,2 Miliar Diselamatkan

Aksi Tegas KKP di Selat Malaka: Tiga Kapal Ilegal Asal Malaysia Diringkus, Rp20,2 Miliar Diselamatkan

Titik Nadir Negosiasi di Islamabad

Pertemuan yang berlangsung pada 10-11 April 2026 tersebut mempertemukan delegasi AS yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden J.D. Vance dengan pihak Iran yang diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf. Namun, optimisme dunia seketika luruh setelah Vance menyatakan bahwa tidak ada kesepakatan yang berhasil dicapai dalam pembicaraan tatap muka tersebut.

Salah satu ganjalan terbesar dalam negosiasi ini adalah isu strategis mengenai Selat Hormuz. China menilai bahwa dialog tetap jauh lebih baik daripada menyulut kembali api peperangan yang bisa melalap stabilitas ekonomi global.

Saling Tuding dan Syarat Maksimalis

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, memberikan gambaran yang lebih kelam mengenai kegagalan tersebut. Lewat pernyataannya, Araghchi menyebut bahwa sikap “maksimalis” dari Washington serta ancaman blokade Angkatan Laut AS menjadi penyebab utama runtuhnya draf kesepakatan yang hampir ditandatangani.

Berita Lainnya

Update Lokasi SIM Keliling Jakarta Hari Ini Minggu: Simak Syarat, Biaya, dan Prosedur Terbarunya

Update Lokasi SIM Keliling Jakarta Hari Ini Minggu: Simak Syarat, Biaya, dan Prosedur Terbarunya

“Iran telah terlibat dengan iktikad baik selama puluhan tahun untuk mengakhiri perselisihan ini. Namun, saat kami hanya tinggal selangkah lagi menuju ‘MoU Islamabad’, kami justru dihadapkan pada tuntutan yang berubah-ubah dan ancaman blokade,” ungkap Araghchi. Baginya, diplomasi adalah soal timbal balik; niat baik harus dibalas dengan niat baik, sementara permusuhan hanya akan melahirkan kebencian baru dalam diplomasi internasional.

Dampak Nyata pada Krisis Energi Dunia

Konflik ini bukan sekadar urusan dua negara. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari 2026 telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar global. Jalur sempit ini adalah urat nadi utama bagi pengiriman minyak mentah, gas alam cair (LNG), hingga pupuk, terutama untuk pasar Asia.

Berita Lainnya

Memasuki Pekan 34 Liga Inggris: Drama Perebutan Takhta Antara Arsenal dan Manchester City Kian Memanas

Memasuki Pekan 34 Liga Inggris: Drama Perebutan Takhta Antara Arsenal dan Manchester City Kian Memanas

Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia bergantung pada jalur ini. Jika ketegangan terus berlanjut, krisis energi global yang lebih parah sulit untuk dihindari. Harga energi yang melonjak menjadi hantu menakutkan bagi pemulihan ekonomi banyak negara.

Gencatan Senjata yang Rapuh

Meski kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026, kondisi di lapangan tetap jauh dari kata tenang. Israel dilaporkan masih melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon, sebuah isu yang menjadi perdebatan panas antara Teheran dan Washington. Iran menganggap isu Lebanon adalah bagian dari paket gencatan senjata, sementara AS menolaknya.

Di sisi lain, kehadiran militer AS di sekitar Selat Hormuz menambah ketegangan. Klaim AS mengenai operasi pembersihan ranjau yang dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dibantah keras oleh Teheran. Keberadaan ranjau-ranjau ini menimbulkan kekhawatiran bahwa meskipun blokade berakhir, jalur pelayaran tersebut tidak akan langsung aman untuk dilalui kapal tanker dalam waktu dekat.

Berita Lainnya

BKSAP DPR RI Kecam Agresi Israel di Timur Tengah: Ancaman Nyata Perang Dunia Ketiga

BKSAP DPR RI Kecam Agresi Israel di Timur Tengah: Ancaman Nyata Perang Dunia Ketiga

LajuBerita akan terus memantau perkembangan situasi ini, seiring dengan upaya China dan komunitas internasional lainnya yang terus berupaya mencegah pecahnya konflik terbuka di kawasan yang paling krusial bagi ketahanan energi dunia ini.

Redaksi LajuBerita

Redaksi LajuBerita

Tim redaksi LajuBerita mengkurasi dan menulis berita terbaru dari berbagai sumber terpercaya di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *