Dolar AS Tembus Rp 17.000, Menko Airlangga Hartarto Soroti Tekanan Mata Uang Global
LajuBerita — Dinamika pasar keuangan global kembali memanas seiring dengan pergerakan perkasa mata uang Negeri Paman Sam yang berhasil menembus level psikologis baru. Berdasarkan pantauan pasar terbaru, nilai tukar rupiah kini harus rela tertekan hingga menyentuh level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sebuah angka yang memicu perhatian serius dari berbagai otoritas ekonomi nasional.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, angkat bicara untuk memberikan kepastian di tengah masyarakat. Menurut pandangannya, tren pelemahan ini bukan merupakan fenomena domestik yang berdiri sendiri, melainkan dampak dari dominasi dolar AS yang sedang menguat secara masif terhadap hampir seluruh mata uang dunia.
Pemerintah Pantau Gejolak Kurs Global
“Itu bukan hanya rupiah, berbagai currency (mata uang) lain pun mengalami hal yang serupa,” ujar Airlangga saat memberikan keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa posisi ekonomi Indonesia saat ini sedang berhadapan dengan faktor eksternal yang sangat kuat.
Diplomasi di Kremlin: Putin Buka-bukaan Soal Perlambatan Ekonomi RI-Rusia di Depan Prabowo
Data yang dihimpun dari Bloomberg menunjukkan bahwa pada pagi hari sekitar pukul 09.14 WIB, dolar AS bertengger di posisi Rp 17.078. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 43,00 poin atau menguat 0,25 persen dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Lonjakan ini menunjukkan betapa agresifnya permintaan terhadap dolar di pasar valuta asing.
Dolar AS Dominasi Kawasan Asia-Pasifik
LajuBerita mencatat bahwa badai penguatan dolar AS ini turut menyapu mata uang di kawasan Asia-Pasifik secara merata. Won Korea Selatan, misalnya, terpantau melemah 0,18 persen. Tren serupa juga dialami oleh mata uang negara tetangga seperti Ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,24 persen dan Peso Filipina yang merosot 0,32 persen.
Di sisi lain, mata uang utama lainnya seperti Yen Jepang dan Yuan China juga tak luput dari tekanan, masing-masing melemah sebesar 0,13 persen dan 0,10 persen. Baht Thailand bahkan mengalami penurunan yang lebih dalam yakni mencapai 0,37 persen. Meski mayoritas mata uang terjungkal, Rupee India dan Dolar Hong Kong menunjukkan ketangguhan dengan mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar AS.
Ekspansi Masif Merdeka Gold di Gorontalo: Prospek Kolokoa Incar Cadangan Hingga 40 Juta Ton
Meskipun tekanan terhadap mata uang garuda kian nyata, pemerintah tetap optimis bahwa fundamental ekonomi nasional masih memiliki daya tahan. Hal ini didukung oleh performa sektor riil, termasuk catatan positif ekspor produk perikanan Indonesia yang sempat mencapai angka signifikan pada periode sebelumnya, yang diharapkan mampu menjadi penyeimbang di tengah fluktuasi nilai tukar yang tidak menentu ini.