Nostalgia Cerulean Blue: Meryl Streep Hidupkan Kembali Pesona Ikonis di ‘The Devil Wears Prada 2’

Reporter Lifestyle | LajuBerita
07 Apr 2026, 06:24 WIB
Nostalgia Cerulean Blue: Meryl Streep Hidupkan Kembali Pesona Ikonis di 'The Devil Wears Prada 2'

LajuBerita — Sang ratu mode layar lebar, Meryl Streep, baru saja memberikan kejutan manis bagi para pecinta sinema dan fashion di seluruh dunia. Dalam rangkaian promosi film terbarunya, The Devil Wears Prada 2, peraih Piala Oscar ini tampil memukau dengan mengenakan sweater berwarna cerulean yang sangat ikonis—sebuah rona biru yang telah menjadi simbol legendaris bagi karakternya, Miranda Priestly.

Penampilan Streep di New York City kali ini bukan sekadar urusan estetika belaka, melainkan sebuah penghormatan mendalam terhadap salah satu momen paling bersejarah dalam sejarah perfilman modern. Sweater kasmir yang dikenakannya merupakan hasil rancangan khusus dari J.Crew, yang dikembangkan secara eksklusif bersama penata gaya kenamaan, Micaela Erlanger. Menariknya, bagi para penggemar yang ingin menyontek gaya fashion selebriti ini, versi komersial dari busana tersebut kini telah tersedia di pasaran, membuktikan bahwa tren klasik selalu memiliki ruang di era kontemporer.

Berita Lainnya

Misi Pangeran William: Memutus Kutukan ‘Si Cadangan’ Agar Tak Ada Drama Seperti Pangeran Harry

Misi Pangeran William: Memutus Kutukan ‘Si Cadangan’ Agar Tak Ada Drama Seperti Pangeran Harry

Lebih dari Sekadar Warna: Sebuah Tesis Budaya

Olympia Gayot, seorang desainer terkemuka, mendeskripsikan warna cerulean bukan hanya sebagai pilihan palet, melainkan sebuah “tesis budaya”. Melalui monolog tajam Miranda Priestly di film pertama, warna ini menjadi bukti nyata bagaimana industri fashion bekerja secara sistematis. Kekuatan mode tidak hanya berhenti pada keindahan visual, tetapi juga pada narasi besar yang membentuk cara masyarakat berpakaian secara global.

Dalam sebuah wawancara hangat di acara The Late Show with Stephen Colbert, Streep sempat melontarkan candaan segar. Ia menyebut bahwa sweater biru yang ia kenakan sebenarnya adalah milik Anne Hathaway, merujuk pada karakter Andy Sachs yang pernah dicemooh karena mengenakan “lumpy blue sweater” di awal film pertamanya. “Ini adalah pakaian yang dipakai Anne di film pertama,” ujar Streep dengan nada jenaka yang langsung disambut tawa penonton.

Berita Lainnya

Ok TaecYeon 2PM Resmi Menikah Hari Ini: Mengulas Janji Suci 10 Tahun dan Pesta Privat di Hotel Shilla

Ok TaecYeon 2PM Resmi Menikah Hari Ini: Mengulas Janji Suci 10 Tahun dan Pesta Privat di Hotel Shilla

Siklus Mode yang Terus Berputar

Momen ini seolah menghidupkan kembali memori tentang bagaimana tren mode meresap dari panggung runway kelas atas hingga ke rak-rak diskon. Dalam dialog ikonisnya dulu, Miranda menjelaskan bahwa cerulean bukanlah biru biasa; itu adalah hasil kurasi desainer ternama seperti Oscar de la Renta yang kemudian diproduksi massal. Narasi ini menyoroti bahwa setiap pilihan busana kita, sadar atau tidak, dipengaruhi oleh ekosistem fashion global.

Kembalinya rona cerulean dalam tur promosi sekuel ini bukanlah sebuah kebetulan tanpa rencana. Sebelumnya, Anne Hathaway sendiri sempat terlihat mengenakan hoodie dengan palet warna serupa yang bertuliskan “ceruleo”—istilah bahasa Italia untuk cerulean—seperti yang dibagikan oleh penata gaya Ashley Afriyie.

Berita Lainnya

Rahasia Percaya Diri Sabrina Carpenter: Transformasi dari Dilema Tubuh Mungil Menuju Ikon Mode Global

Rahasia Percaya Diri Sabrina Carpenter: Transformasi dari Dilema Tubuh Mungil Menuju Ikon Mode Global

Meryl Streep juga berbagi kisah menarik dalam wawancaranya dengan Harper’s Bazaar mengenai perubahan drastis sikap dunia mode terhadap proyek film ini. Jika di film pertama tim produksi sempat menghadapi tantangan besar untuk mendapatkan dukungan dari brand mewah, kini keadaannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Tren mode dunia justru menyambut hangat kehadiran sekuel ini dengan tangan terbuka.

Fenomena kembalinya cerulean blue ini mempertegas sebuah fakta dalam industri kreatif: bahwa warna dan gaya memiliki siklus yang abadi. Ia akan selalu menemukan jalan untuk kembali relevan, bertransformasi dari sekadar tren di atas panggung mode menjadi sebuah memori kolektif yang tak lekang oleh waktu.

Berita Lainnya

Kisah Scarlett Johansson: Berjuang Melawan Insecurity Akibat Jerawat di Tengah Standar Kecantikan Hollywood yang Keras

Kisah Scarlett Johansson: Berjuang Melawan Insecurity Akibat Jerawat di Tengah Standar Kecantikan Hollywood yang Keras
Reporter Lifestyle

Reporter Lifestyle

Menyajikan berita hiburan, teknologi, kesehatan, travel, dan otomotif dengan gaya menarik dan informatif.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *