Kisah Presiden Prabowo Jadi ‘Korban’ AI: Dari Fasih Bahasa Arab Hingga Mendadak Jago Nyanyi
LajuBerita — Fenomena kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar wacana teknis, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh orang nomor satu di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini berbagi pengalaman unik sekaligus mencemaskan saat dirinya menjadi objek manipulasi AI yang mampu mengubah suara dan penampilannya secara dramatis.
Dalam sebuah pengarahan pada Rapat Kerja Pemerintah yang digelar di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (27/11), Presiden Prabowo menceritakan bagaimana dirinya kerap mendapati video-video viral di media sosial yang menampilkan sosoknya berbicara dalam berbagai bahasa asing hingga bernyanyi dengan suara merdu.
Transformasi Suara Melalui Deepfake
Presiden Prabowo mengaku terkejut saat melihat sebuah konten di platform video yang menampilkan dirinya sedang bernyanyi. Dengan nada berkelakar, ia mengakui bahwa kemampuan vokalnya di dunia nyata tidaklah sebaik apa yang digambarkan oleh AI tersebut.
Strategi Blok Masela: Memperkuat Kedaulatan Ekonomi RI di Tengah Gejolak Global
“AI bisa membuat seseorang berbicara yang sebenarnya tidak dia bicarakan. Saya sering loh jadi korbannya. Saya ini suaranya jelek, saya tidak bisa nyanyi. Tapi di YouTube ada video saya nyanyi dan suaranya bagus banget. Saya saja sampai kaget,” tutur Presiden yang disambut tawa para peserta rapat.
Tak hanya soal tarik suara, teknologi tersebut juga memanipulasi Presiden seolah-olah fasih berpidato dalam bahasa Mandarin dan bahasa Arab. Prabowo sempat menyinggung dengan seloroh bahwa saat masa kampanye lalu, dirinya tidak terlalu memusingkan hal tersebut karena dianggap membawa dampak positif di wilayah-wilayah tertentu, seperti kawasan tapal kuda.
Ancaman Echo Chamber dan Stabilitas Negara
Namun, di balik cerita jenaka tersebut, Presiden Prabowo memberikan peringatan serius mengenai sisi gelap perkembangan teknologi digital. Ia menekankan bahwa teknologi ini merupakan pedang bermata dua yang jika disalahgunakan bisa menjadi alat untuk menyebarkan fitnah dan hoaks secara masif.
Drama Empat Gol di Parc des Princes: Laju Kemenangan PSG Terganjal Ketangguhan Lorient
“Dulu untuk merusak sebuah negara butuh kiriman pasukan atau bom. Sekarang tidak perlu lagi. Cukup dengan permainan media sosial, melalui fitnah dan hoaks, sebuah bangsa bisa diguncang,” tegasnya.
Ia menyoroti fenomena echo chamber atau ruang gema, di mana opini publik dapat dimanipulasi melalui ribuan akun palsu yang digerakkan oleh segelintir orang. Dengan perangkat yang relatif murah, sekelompok kecil orang dapat menciptakan kesan seolah-olah ada gerakan besar yang sedang terjadi, padahal itu hanyalah rekayasa informatika.
Waspada Intelijen Digital
Menurut Presiden, strategi menciptakan kegaduhan melalui ribuan akun ini telah menjadi bagian dari studi intelijen modern untuk merusak kedaulatan negara lain dari dalam. Ia mengingatkan jajaran Kabinet Merah Putih, eselon I, hingga Dirut BUMN untuk selalu waspada terhadap distorsi informasi yang dapat memecah belah persatuan.
Evaluasi Mendalam Tangerang Hawks: Belajar dari Kekalahan Kontra Hornbills Demi Misi Besar di Playoff IBL 2026
Presiden Prabowo menutup arahannya dengan menekankan pentingnya literasi digital dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi tantangan keamanan siber demi menjaga stabilitas nasional di tengah derasnya arus disrupsi teknologi.