Menuju Usia 80 Tahun, Khofifah Ajak Muslimat NU Rawat Tradisi Gotong Royong dan Teduhkan Peradaban
LajuBerita — Semangat kebersamaan dan pengabdian kembali menggema di tengah keluarga besar Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, melontarkan seruan penting kepada seluruh kader perempuan untuk terus menjaga dan merawat akar tradisi kegotongroyongan sebagai fondasi utama organisasi.
Pesan ini disampaikan Khofifah saat menghadiri rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU yang berlangsung di Yogyakarta pada Minggu. Dalam balutan suasana yang penuh khidmat, tokoh nasional yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur tersebut menekankan bahwa eksistensi Muslimat NU selama delapan dekade tak lepas dari kesetiaan mereka dalam memegang teguh nilai-nilai luhur bangsa.
Tiga Pilar Utama Harlah ke-80
Menyongsong usia emasnya pada tahun 2026 mendatang, Khofifah menjelaskan bahwa Muslimat NU mengusung tiga tema besar yang menjadi kompas pergerakan organisasi ke depan: merawat tradisi, menguatkan kemandirian, dan meneduhkan peradaban. Ketiga poin ini bukan sekadar jargon, melainkan ruh yang harus diimplementasikan oleh setiap anggota di berbagai lapisan masyarakat.
Aksi Heroik di Serie A: Torino Bungkam Verona, Cagliari Amankan Poin Vital atas Cremonese
- Merawat Tradisi: Fokus pada kesantunan, gotong royong, serta penguatan persaudaraan berdasarkan prinsip Ahlu Sunnah Wal jamaah (Aswaja).
- Menguatkan Kemandirian: Mendorong organisasi untuk terus berdikari dalam aspek sosial, pendidikan, dan ekonomi.
- Meneduhkan Peradaban: Mewujudkan kedamaian mulai dari lingkup terkecil hingga kancah global.
Implementasi Nilai Moderasi dan Toleransi
Menurut Khofifah Indar Parawansa, tradisi Aswaja yang dianut oleh nahdliyin mengandung tiga unsur fundamental yang sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini, yakni moderasi (tawasuth), toleransi (tasamuh), dan keadilan (i’tidal). Ia menilai bahwa nilai-nilai inilah yang menjadi benteng dalam menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.
“Pola-pola seperti ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ada tradisi kebaikan yang harus diperkuat dan dirawat secara konsisten,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Khofifah juga memaparkan bahwa saat ini Muslimat NU telah bertransformasi menjadi kekuatan besar dengan anggota mencapai sekitar 36 juta orang di seluruh Indonesia.
Misi Tempur di Grup Neraka: Timnas Crossfire Indonesia Siap Taklukkan Tantangan SEA ENC 2026
Kekuatan massa yang masif ini telah membuktikan kemandirian mereka melalui berbagai layanan nyata. Mulai dari sektor pendidikan melalui PAUD dan TK, layanan kesehatan yang merata, penguatan ekonomi kreatif, hingga aktivitas dakwah yang menyejukkan masyarakat di akar rumput.
Mewujudkan Peradaban Tanpa Kekerasan
Satu hal yang menjadi sorotan utama dalam narasi “Meneduhkan Peradaban” adalah isu kemanusiaan dan perlindungan sosial. Khofifah menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan, baik yang menyasar perempuan maupun anak-anak.
Diskusi mengenai peradaban yang teduh ini sebenarnya telah digulirkan sejak dua tahun lalu. Cakupannya sangat luas, mulai dari harmonisasi dalam rumah tangga, komunitas lokal, hingga pengaruhnya di tingkat regional dan internasional. Tujuannya adalah membangun proses penetrasi sosial agar tercipta kedamaian yang berkelanjutan.
Babak Baru Kasus LNG Pertamina: Eks Direktur Sebut Pengadaan Gas Tak Perlu Restu Komisaris dan RUPS
“Kita ingin melakukan pola-pola yang membuat seluruh aspek kehidupan menjadi lebih teduh, sejuk, dan damai bagi semua orang,” pungkas mantan Menteri Sosial tersebut mengakhiri arahannya.