Harmoni Laut dan Tradisi: Memperkuat Ketahanan Pangan Maluku Tengah Melalui Festival Kor’a Inasua
LajuBerita — Laut bukan sekadar hamparan biru bagi masyarakat Maluku Tengah, melainkan urat nadi kehidupan dan identitas yang harus terus dirawat. Menyadari hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) kini mengambil langkah strategis dalam memperkokoh ketahanan pangan lokal melalui perhelatan Festival Kor’a Inasua yang berlangsung meriah di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS).
Langkah ini bukan sekadar seremoni belaka, melainkan sebuah upaya sistematis untuk menyelaraskan pelestarian budaya dengan keberlanjutan ekosistem laut. Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menegaskan bahwa eksistensi inasua sebagai kuliner tradisional memiliki keterkaitan erat dengan kondisi alam. Jika lautnya sehat, maka warisan budaya dan ekonomi masyarakat pesisir akan terus berdenyut.
Dominasi Paris Berlanjut: Tekuk Bayern Muenchen, PSG Amankan Tiket Final Liga Champions Dua Musim Beruntun
Inasua: Lebih dari Sekadar Kuliner Tradisional
Bagi masyarakat TNS, inasua adalah simbol ketangguhan. Produk kuliner yang memanfaatkan metode fermentasi ikan dengan garam ini lahir dari kearifan lokal untuk menghadapi musim angin kencang ketika nelayan sulit melaut. Berkat nilai sejarah dan keunikannya, inasua telah diakui sebagai warisan budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak tahun 2015.
Festival Kor’a Inasua hadir sebagai panggung ekspresi sekaligus ruang edukasi. Di sini, masyarakat diingatkan kembali bahwa kualitas inasua yang lezat sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku berkualitas, seperti ikan gindara (Ruvettus pretiosus) yang mendiami laut dalam. Oleh karena itu, menjaga sumber daya laut menjadi harga mati demi keberlangsungan tradisi ini.
Sinyal Damai Yerusalem: Israel Dukung Jeda Pertempuran dengan Iran, Namun Lebanon Tetap Membara
Pemberdayaan Masyarakat dan Sentuhan Inovasi
Tak hanya bicara soal tradisi, festival ini juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi. Pemerintah fokus meningkatkan kapasitas kelompok perempuan melalui berbagai pelatihan, mulai dari teknik pengolahan inasua yang higienis, manajemen keuangan, hingga strategi pemasaran yang lebih modern. Harapannya, inasua tidak hanya dikonsumsi di meja makan lokal, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, regenerasi kesadaran lingkungan juga menjadi prioritas. Generasi muda dilibatkan secara aktif melalui kompetisi konten kreatif di media sosial dan permainan edukatif bertema konservasi. Cara ini dinilai efektif untuk menanamkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap laut sejak usia dini.
Strategi Tak Berjalan, Hendri Susilo Kecewa Berat Pemain Malut United Abaikan Instruksi Lawan Dewa United
Sinergi Global untuk Kelestarian Lokal
Kesuksesan perhelatan ini tidak lepas dari kolaborasi apik dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Melalui program kelautan yang komprehensif, YKAN mendukung penuh penguatan budaya lokal sebagai fondasi perikanan berkelanjutan.
Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menyebutkan bahwa praktik tradisional seperti inasua mencerminkan prinsip efisiensi yang sejalan dengan semangat konservasi modern. Menurutnya, ketika masyarakat memegang teguh adat dan tradisinya, secara otomatis mereka akan menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Melalui Festival Kor’a Inasua, Maluku Tengah ingin mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa kedaulatan pangan dan kelestarian alam dapat berjalan beriringan jika berakar pada kearifan lokal yang dijaga dengan sepenuh hati.
Wujudkan Mimpi Pesisir, Wamen PKP Fahri Hamzah Tinjau Proyek Strategis Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Jaya