India Terancam Lumpuh: Blokade Selat Hormuz oleh AS Cekik Stok Minyak Hingga Tersisa 30 Hari
LajuBerita — India kini berada di titik nadir keamanan energinya. Kebijakan drastis Amerika Serikat (AS) yang melakukan blokade di Selat Hormuz telah mengirimkan gelombang kejut yang melumpuhkan stabilitas ekonomi New Delhi. Terjepit di antara bara geopolitik global dan kebutuhan domestik yang mendesak, India kini menghadapi ancaman krisis energi yang nyata di depan mata.
Langkah ekstrem ini diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump pada Minggu (12/4) waktu setempat, menyusul buntunya negosiasi damai dengan Iran yang dihelat di Pakistan. Bagi India, keputusan ini adalah pukulan telak yang datang di waktu yang salah. Belum lama ini, negara tersebut baru saja membuka kembali keran impor minyak mentah dari Iran setelah tujuh tahun absen demi mengamankan pasokan di tengah badai perang global. Namun, blokade ini justru memutus urat nadi pasokan tersebut dalam sekejap.
Pastikan Ketahanan Pangan Aman, Presiden Prabowo Pantau Langsung Meluapnya Stok Beras di Gudang BULOG Magelang
Mukesh Sahdev, seorang analis senior dari XAnalysts, mengungkapkan bahwa India kini menghadapi tekanan ganda yang mencekik. “India kehilangan akses terhadap sekitar 3 juta barel minyak mentah setiap harinya yang biasanya melintasi Selat Hormuz. Kondisi ini memaksa para pengusaha kilang untuk memutar otak dan berebut mencari sumber alternatif ke negara lain,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari CNBC Internasional.
Krisis Energi dan Cadangan yang Menipis
Tekanan yang dialami India bersifat sistemik. Selain jalur Hormuz yang tertutup, masa berlaku “izin khusus” dari AS yang memperbolehkan India membeli minyak dari Rusia juga telah berakhir pada 11 April lalu. Sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia, India sangat rentan karena menggantungkan 85% atau sekitar 5,5 juta barel kebutuhan harian energinya dari pasar internasional.
Awan Mendung Ketenagakerjaan: 10 Perusahaan Besar Mulai Beri Sinyal PHK Massal dalam Tiga Bulan ke Depan
Data menunjukkan ketimpangan yang mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan kekuatan ekonomi lainnya. Sementara China memiliki cadangan minyak yang sanggup bertahan hingga 300 hari, India hanya menyimpan sekitar 160 juta barel. Angka ini secara matematis hanya cukup untuk menyangga kebutuhan nasional selama kurang lebih 30 hari. Jika gangguan pasokan energi ini terus berlanjut, India diprediksi akan segera mengalami kelangkaan bahan bakar yang masif.
Efek Domino ke Ekonomi Nasional
Dampak dari ketegangan di Timur Tengah ini sudah mulai merambat ke indikator makroekonomi India. Purchasing Managers’ Index (PMI) dari HSBC mencatat bahwa aktivitas sektor swasta India pada Maret lalu merosot ke level terendah sejak Oktober 2022. Lemahnya permintaan domestik, pasar yang tidak stabil, serta lonjakan inflasi menjadi bukti nyata betapa rapuhnya ekonomi India saat ini.
Pipa Minyak Strategis Dihantam Iran, Arab Saudi Kehilangan Jutaan Barel di Jalur Laut Merah
Kementerian Keuangan India bahkan telah mengeluarkan peringatan dini. Target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pada angka 7,0%-7,4% kini terancam meleset akibat melambungnya biaya energi dan terganggunya rantai pasok global akibat konflik yang berkepanjangan.
Di Bawah Tekanan Washington
Kondisi ini semakin mempertegas betapa sulitnya posisi India yang seolah berada di bawah dikte Amerika Serikat. Samir Kapadia, pimpinan Vogel Group, menyatakan keprihatinannya atas kedaulatan ekonomi India yang ruang geraknya semakin dipersempit oleh kebijakan luar negeri AS. Sebelumnya, AS sempat menuduh India mendanai perang di Ukraina melalui pembelian minyak Rusia yang didiskon, bahkan mengenakan tarif tambahan 25% pada ekspor India.
Demi menjaga hubungan dagang dengan Negeri Paman Sam, India sempat memangkas pembelian dari Rusia dan beralih ke Timur Tengah. Namun, strategi itu hancur berantakan setelah pecahnya perang di kawasan tersebut. Meskipun situasi memanas, Pemerintah India melalui Kementerian Perminyakan dan Gas Alam tetap berusaha meredam kepanikan publik dengan mengklaim bahwa seluruh kilang masih beroperasi pada kapasitas tinggi dan inventaris minyak masih terkendali.
Evaluasi Sepekan WFH ASN: Menpan RB Sebut Kinerja Tetap Moncer dan Hemat Energi
Kini, publik menanti langkah berani apa yang akan diambil New Delhi untuk keluar dari krisis ekonomi dan energi yang mengancam stabilitas nasional ini.