Stella McCartney & H&M: Mendobrak Tembok Elitisme Lewat Revolusi Fashion Berkelanjutan

Reporter Lifestyle | LajuBerita
17 Apr 2026, 14:48 WIB
Stella McCartney & H&M: Mendobrak Tembok Elitisme Lewat Revolusi Fashion Berkelanjutan

LajuBerita — Industri mode seringkali dianggap sebagai menara gading yang hanya bisa disentuh oleh segelintir orang dengan kantong tebal. Namun, Stella McCartney, desainer kawakan yang dikenal dengan prinsip etisnya yang teguh, memilih untuk meruntuhkan batasan tersebut. Lewat kolaborasi terbarunya bersama raksasa retail H&M, McCartney membawa misi besar: menjadikan fashion berkelanjutan bukan lagi sebuah kemewahan eksklusif, melainkan akses yang bisa dinikmati oleh audiens yang lebih luas.

Sentuhan Personal dan Warisan Sang Legenda

Proyek ini menandai kali kedua McCartney bersinergi dengan brand high street tersebut setelah kesuksesan fenomenal mereka lebih dari dua dekade silam. Dalam koleksi kali ini, McCartney tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga menyisipkan narasi personal. Salah satu sorotan utama adalah kaus bertuliskan “Rock Royalty”, sebuah penghormatan emosional untuk ayahnya, Paul McCartney, sekaligus kilas balik ke gaya ikonik yang ia kenakan saat menghadiri Met Gala 1999.

Berita Lainnya

Bukan Sekadar Serat, Inilah Alasan Mengapa Pepaya Jadi Senjata Paling Ampuh Lawan Sembelit

Bukan Sekadar Serat, Inilah Alasan Mengapa Pepaya Jadi Senjata Paling Ampuh Lawan Sembelit

Koleksi ini juga memamerkan kemahiran McCartney dalam teknik tailoring modern. Mulai dari blazer pinstripe berpotongan oversized hingga celana berbahan wol yang diproduksi dengan standar tanggung jawab lingkungan yang ketat. Tidak ketinggalan, tas ikonik Falabella—yang telah menjadi simbol tas vegan sejak 2009—kini hadir dalam versi terbaru yang menggunakan material poliamida daur ulang, sebuah langkah nyata untuk memangkas ketergantungan industri pada bahan bakar fosil.

Melawan Stigma Eksklusivitas Mode

“Saya sangat membenci betapa elitisnya industri ini,” ungkap McCartney dengan lugas. Ia menyadari bahwa banyak orang, terutama generasi muda, menyukai desainnya namun sering kali terbentur oleh label harga yang fantastis pada lini utamanya. Melalui kolaborasi fashion ini, ia ingin merangkul audiens yang lebih beragam. Meski ia mengakui bahwa koleksi ini bukan yang termurah karena adanya biaya tambahan untuk memproduksi material ramah lingkungan, ini tetap menjadi jembatan inklusivitas yang lebih baik.

Berita Lainnya

Momen Langka Sultan Brunei Tampil ‘Low Profile’ di Wisuda Putri Ameerah, Netizen: Kirain Rakyat Biasa

Momen Langka Sultan Brunei Tampil ‘Low Profile’ di Wisuda Putri Ameerah, Netizen: Kirain Rakyat Biasa

Transparansi di Tengah Isu Greenwashing

Langkah kolaboratif ini bukannya tanpa tantangan. Di tengah isu greenwashing yang kerap menerpa perusahaan fast fashion, kerja sama ini sempat menuai kritik. Investigasi oleh media internasional pada tahun 2022 bahkan pernah menyebut klaim lingkungan dari pihak retail besar seringkali tidak akurat. Namun, McCartney menghadapi kritik tersebut dengan sikap pragmatis yang berani.

Ia mengakui sempat ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk terjun langsung. Baginya, mengubah sistem dari dalam jauh lebih efektif daripada sekadar mengkritik dari luar. “Lebih baik saya masuk ke dalam sistem dan berdialog dengan mereka, mencoba mengubah cara kerja mereka agar lebih sadar akan lingkungan hidup,” tuturnya. Ann-Sofie Johansson, penasihat kreatif H&M, juga mengakui bahwa sosok McCartney berperan besar dalam mendorong perusahaan untuk mulai beralih ke material organik dan bahan daur ulang.

Berita Lainnya

Ramalan Zodiak Cinta 30 April: Menavigasi Badai Asmara Melalui Kedewasaan dan Komunikasi yang Hangat

Ramalan Zodiak Cinta 30 April: Menavigasi Badai Asmara Melalui Kedewasaan dan Komunikasi yang Hangat

Edukasi dalam Setiap Helai Kain

McCartney tidak hanya fokus pada estetika, tetapi juga pada edukasi konsumen. Setiap item dalam koleksi ini dilengkapi dengan label transparan yang menjelaskan asal-usul materialnya. Mulai dari manik-manik yang terbuat dari 80% kaca daur ulang hingga jaket dengan efek python yang unik, yang ternyata diproduksi dari plastik berbasis limbah minyak nabati dan sisa pertanian.

Meski perjalanan menuju industri mode yang benar-benar bersih masih panjang—mengingat laporan pembuangan limbah tekstil yang masih terjadi di beberapa belahan dunia—bagi McCartney, setiap langkah kecil sangatlah berarti. Ia tetap konsisten pada jalurnya sebagai pionir yang menolak penggunaan kulit dan bulu binatang, membawa kesadaran lingkungan tepat ke jantung pusat belanja masyarakat dunia.

Berita Lainnya

Misi Pangeran William: Memutus Kutukan ‘Si Cadangan’ Agar Tak Ada Drama Seperti Pangeran Harry

Misi Pangeran William: Memutus Kutukan ‘Si Cadangan’ Agar Tak Ada Drama Seperti Pangeran Harry
Reporter Lifestyle

Reporter Lifestyle

Menyajikan berita hiburan, teknologi, kesehatan, travel, dan otomotif dengan gaya menarik dan informatif.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *