Eksodus Modal Asing: IHSG Terkapar di Level 7.129, Saham Perbankan Raksasa Jadi Korban Aksi Jual

Reporter Nasional | LajuBerita
25 Apr 2026, 06:48 WIB
Eksodus Modal Asing: IHSG Terkapar di Level 7.129, Saham Perbankan Raksasa Jadi Korban Aksi Jual

LajuBerita — Panggung pasar modal Indonesia tengah mengalami guncangan hebat pada penutupan pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa harus mengakui dominasi sentimen negatif yang menyelimuti lantai bursa sepanjang perdagangan Jumat (24/4/2026). Tanpa ampun, indeks komposit nasional ini terjun bebas dan menetap di zona merah dengan koreksi yang cukup dalam, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar domestik.

Berdasarkan pantauan tim redaksi di lapangan, IHSG tercatat melemah signifikan sebesar 3,38 persen, yang menyeret posisinya ke level 7.129,49. Penurunan tajam ini bukanlah tanpa alasan; derasnya aksi jual bersih oleh investor asing atau yang akrab disebut net foreign sell menjadi motor utama di balik rontoknya pertahanan indeks. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran likuiditas besar-besaran yang keluar dari pasar saham Indonesia menuju instrumen lain yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global.

Berita Lainnya

Rekor Sejarah! Stok Beras Nasional Tembus 4,9 Juta Ton, Mentan dan Dirut BULOG Pastikan Pangan Aman

Rekor Sejarah! Stok Beras Nasional Tembus 4,9 Juta Ton, Mentan dan Dirut BULOG Pastikan Pangan Aman

Rincian Aliran Dana Asing: Tekanan Jual yang Masif

Mengacu pada data yang dihimpun dari RTI Business, tekanan jual di pasar reguler tampak begitu nyata dengan torehan angka net foreign sell mencapai Rp 3,02 triliun. Meskipun terdapat upaya perlawanan melalui aksi beli bersih atau net foreign buy di pasar negosiasi dan tunai sebesar Rp 1,02 triliun, angka tersebut belum cukup kuat untuk menopang kejatuhan indeks secara keseluruhan.

Secara kumulatif, akumulasi jual bersih asing di seluruh pasar menembus angka Rp 2 triliun hanya dalam satu hari perdagangan di hari Jumat tersebut. Situasi ini menciptakan efek domino yang memukul investasi saham di berbagai sektor, terutama pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar (blue-chip) yang selama ini menjadi tulang punggung pergerakan IHSG.

Berita Lainnya

Akses Menuju Stadion Kelas Dunia Kian Terbuka, Stasiun KRL JIS Targetkan Operasi Juni 2026

Akses Menuju Stadion Kelas Dunia Kian Terbuka, Stasiun KRL JIS Targetkan Operasi Juni 2026

Sektor Perbankan Jadi Sasaran Utama Likuidasi

Sektor finansial, khususnya perbankan kelas kakap, menjadi pihak yang paling terdampak dalam badai koreksi kali ini. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang dikenal sebagai saham dengan bobot terbesar terhadap indeks, harus rela dilepas oleh investor asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp 2,1 triliun. Tekanan luar biasa ini membuat harga saham BBCA merosot 5,84 persen dan terparkir di level Rp 6.050 per lembar saham pada penutupan sesi.

Tidak berhenti di situ, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga tak luput dari bidikan aksi jual. Bank plat merah ini mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 655,1 miliar. Secara teknikal, pergerakan saham Mandiri melemah 2,81 persen ke posisi harga Rp 4.500 per lembar. Banyak analis menilai bahwa pelepasan saham saham perbankan ini berkaitan dengan upaya profit taking maupun rebalancing portofolio oleh pengelola dana global.

Berita Lainnya

Diplomasi Global: Xi Jinping Desak MBS Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka demi Stabilitas Dunia

Diplomasi Global: Xi Jinping Desak MBS Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka demi Stabilitas Dunia

Melengkapi deretan perbankan yang tertekan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turut mencatatkan angka jual bersih asing sebesar Rp 447,3 miliar. Harga saham BBRI pun ikut melandai sebesar 2,85 persen menuju angka Rp 3.070 per lembar. Pelemahan trio perbankan besar ini secara otomatis memangkas poin IHSG cukup dalam, mengingat peran krusial mereka dalam menjaga stabilitas bursa.

Pelemahan Merambat ke Sektor Telekomunikasi dan Infrastruktur

Selain sektor keuangan, raksasa telekomunikasi Indonesia, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), juga menghadapi tekanan jual yang konstan. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih terhadap kepemilikan saham TLKM senilai Rp 92 miliar. Kondisi ini membuat harga saham perusahaan telekomunikasi milik negara tersebut melemah 2,43 persen ke level Rp 2.810 per lembar.

Berita Lainnya

Mengupas Gaji dan Masa Depan Manajer Kopdes Merah Putih: Peluang Emas di Bawah Naungan PT Agrinas

Mengupas Gaji dan Masa Depan Manajer Kopdes Merah Putih: Peluang Emas di Bawah Naungan PT Agrinas

Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati para pemodal terhadap prospek pertumbuhan sektor infrastruktur digital di tengah fluktuasi ekonomi. Penurunan harga saham TLKM seringkali menjadi indikator bahwa sentimen negatif tidak hanya terbatas pada sektor perbankan, melainkan sudah mulai menjalar ke sektor-sektor strategis lainnya di pasar modal Indonesia.

Saham Konglomerasi: Dari Prajogo Pangestu hingga Grup Bakrie

Tren negatif ini ternyata juga menghinggapi saham-saham yang terafiliasi dengan nama-nama besar konglomerat tanah air. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO), yang merupakan bagian dari ekosistem bisnis Prajogo Pangestu, mencatatkan aksi jual bersih asing sebesar Rp 36,44 miliar. Dampaknya sangat terasa pada harga sahamnya yang anjlok tajam hingga 9,31 persen ke level Rp 5.600 per lembar.

Sektor yang dikelola oleh Grup Bakrie pun tidak luput dari pantauan. PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 8,60 miliar hingga penutupan sesi pertama. Sementara itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), yang berfokus pada pengembangan kendaraan listrik, juga mencatat jual bersih asing sebesar Rp 3,86 miliar.

Penurunan saham-saham ini menunjukkan bahwa volatilitas pasar saat ini sangat tinggi, di mana para investor cenderung menarik modalnya dari instrumen yang memiliki risiko fluktuasi besar, termasuk saham-saham lapis kedua dan ketiga yang sempat menjadi primadona beberapa waktu lalu.

Analisis Psikologi Pasar dan Proyeksi Mendatang

Apa yang sebenarnya terjadi di balik kejatuhan massal ini? Para pakar di analisis ekonomi berpendapat bahwa kombinasi antara faktor makroekonomi global—seperti ekspektasi suku bunga dan ketegangan geopolitik—dengan sentimen domestik telah menciptakan campuran yang eksplosif bagi pasar saham. Aksi jual masif oleh asing biasanya dipicu oleh kepanikan kolektif atau strategi manajemen risiko global untuk mengurangi eksposur di pasar berkembang (emerging markets).

Kendati demikian, koreksi tajam ini juga seringkali dipandang sebagai peluang bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi pada harga yang lebih kompetitif. Namun, diperlukan strategi manajemen risiko yang ketat agar tidak terjebak dalam pusaran penurunan yang lebih dalam jika sentimen belum sepenuhnya pulih.

Menjelang pembukaan pekan depan, para pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan memperhatikan rilis data ekonomi terbaru, baik dari dalam maupun luar negeri. Stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga akan menjadi faktor kunci yang menentukan apakah investor asing akan kembali masuk atau justru terus melanjutkan aksi buang saham mereka di lantai bursa Indonesia.

Secara keseluruhan, perdagangan Jumat ini menjadi pengingat bagi para investor bahwa pasar modal selalu bergerak dinamis. Tetap tenang dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi adalah kunci untuk bertahan di tengah terjangan badai merah IHSG ini.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *