Kemenperin Tangkis Isu Deindustrialisasi: Bukti Pertumbuhan Manufaktur RI Masih Berada di Jalur Hijau

Reporter Nasional | LajuBerita
29 Apr 2026, 20:46 WIB
Kemenperin Tangkis Isu Deindustrialisasi: Bukti Pertumbuhan Manufaktur RI Masih Berada di Jalur Hijau

LajuBerita — Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sektor manufaktur Indonesia kerap kali menjadi sorotan tajam. Belakangan, narasi mengenai fenomena deindustrialisasi atau penurunan peran industri dalam perekonomian nasional kembali mencuat ke permukaan. Namun, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dengan tegas membantah tudingan tersebut. Melalui berbagai indikator makroekonomi yang komprehensif, pemerintah menunjukkan bahwa struktur industri manufaktur Indonesia justru masih menunjukkan ketangguhan yang signifikan dan terus berkontribusi positif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menakar Isu Deindustrialisasi: Perspektif Baru dari Kemenperin

Isu deindustrialisasi biasanya didasarkan pada tiga indikator utama yang sering disalahpahami oleh banyak kalangan. Indikator tersebut mencakup penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB secara drastis, laju pertumbuhan industri yang terus berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, serta adanya pergeseran besar-besaran modal dan tenaga kerja dari sektor industri menuju sektor jasa. Namun, menurut Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, melihat data-data tersebut secara sekilas tanpa memahami latar belakang metodologinya adalah sebuah kekeliruan besar.

Berita Lainnya

Ketegangan di Selat Hormuz: Kapal Tanker China Terpaksa Menyerah pada Blokade AS

Ketegangan di Selat Hormuz: Kapal Tanker China Terpaksa Menyerah pada Blokade AS

Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Febri menekankan bahwa klaim mengenai penurunan kontribusi industri pengolahan harus dilihat dengan kacamata yang lebih jernih. Menurutnya, pemahaman yang keliru sering kali muncul akibat penggunaan data lintas periode yang tidak sebanding, atau yang sering ia sebut sebagai perbandingan yang tidak apple to apple.

Jebakan Metodologi: Mengapa Perbandingan Data Jangka Panjang Sering Keliru

Salah satu poin krusial yang ditegaskan oleh Kemenperin adalah adanya perubahan besar dalam cara Badan Pusat Statistik (BPS) mengklasifikasikan lapangan usaha. Perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) dan metode penghitungan PDB yang terjadi pada tahun 2009 dan 2020 telah mengubah komposisi apa yang dikategorikan sebagai sektor industri pengolahan.

Berita Lainnya

Kurs Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Meroket Hingga Tembus Level Rp 17.078

Kurs Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Meroket Hingga Tembus Level Rp 17.078

“Perubahan cara menghitung PDB itu terjadi pada tahun 2009 dan 2020 oleh BPS. Definisi mengenai apa yang masuk ke dalam kategori industri pengolahan mengalami pergeseran. Oleh karena itu, membandingkan data kontribusi PDB dari awal tahun 2000-an dengan data saat ini tidak bisa dilakukan secara mentah-mentah,” jelas Febri. Ia menambahkan bahwa jika kita melihat data yang lebih konsisten pasca-implementasi metodologi baru pada tahun 2020, tren kontribusi sektor manufaktur justru menunjukkan grafik yang stabil dan cenderung meningkat, terutama seiring dengan pemulihan ekonomi nasional setelah hantaman pandemi global.

Pertumbuhan yang Sejalan dengan Ekonomi Nasional

Selain soal kontribusi PDB, Kemenperin juga memaparkan data mengenai laju pertumbuhan fisik industri itu sendiri. Berdasarkan catatan resmi, sektor manufaktur Indonesia rata-rata masih mampu tumbuh di angka 4% hingga 6%. Angka ini, menurut Febri, sangat kompetitif dan sejalan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5%.

Berita Lainnya

Beban Berat Biaya Berobat: Warga RI Rogoh Rp 175 Triliun dari Kantong Pribadi Akibat Minim Asuransi

Beban Berat Biaya Berobat: Warga RI Rogoh Rp 175 Triliun dari Kantong Pribadi Akibat Minim Asuransi

Keberhasilan industri manufaktur untuk tetap tumbuh di level tersebut membuktikan bahwa mesin produksi nasional belum melambat. Bahkan, dalam beberapa periode tertentu, sektor industri mampu melampaui laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Hal ini mematahkan indikator kedua dari gejala deindustrialisasi, yakni industri yang tumbuh lebih lambat dari ekonomi nasional secara konsisten dalam jangka panjang.

Daya Tarik Investasi: Manufaktur Tetap Menjadi Primadona

Sektor manufaktur juga masih menjadi magnet utama bagi para penanam modal, baik dari dalam maupun luar negeri. Febri Hendri menyoroti bahwa arus investasi asing dan domestik ke sektor industri pengolahan tetap tinggi. Bagi para investor, Indonesia masih dianggap sebagai basis produksi yang sangat menguntungkan karena ketersediaan bahan baku, pasar yang luas, dan kebijakan insentif yang mendukung.

Berita Lainnya

Wapres Gibran Bongkar Praktik Manipulasi Harga Ekspor-Impor: 4 Sektor Ini Jadi Sasaran Empuk

Wapres Gibran Bongkar Praktik Manipulasi Harga Ekspor-Impor: 4 Sektor Ini Jadi Sasaran Empuk

“Jika memang terjadi deindustrialisasi, kita akan melihat pelarian modal besar-besaran dari sektor manufaktur ke sektor jasa. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Investasi di sektor manufaktur terus bertumbuh, yang menandakan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek jangka panjang industri di tanah air masih sangat kuat,” tegasnya. Kemenperin meyakini bahwa hilirisasi industri yang tengah digencarkan pemerintah menjadi salah satu pendorong utama terjaganya minat investasi ini.

Mitos Pergeseran Tenaga Kerja ke Sektor Jasa

Salah satu poin yang paling menarik dalam penjelasan Kemenperin adalah mengenai dinamika tenaga kerja. Banyak pengamat menilai bahwa meningkatnya jumlah pekerja di sektor jasa adalah bukti bahwa sektor manufaktur mulai ditinggalkan. Namun, Febri memberikan analisis yang berbeda. Ia menyatakan bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur sebenarnya terus naik setiap tahunnya, dengan rata-rata tambahan 200.000 hingga 300.000 pekerja baru.

Penyebab utama mengapa sektor jasa terlihat mendominasi bukan karena adanya migrasi pekerja dari pabrik ke kantor jasa, melainkan karena besarnya pasokan angkatan kerja baru yang masuk ke pasar setiap tahunnya. Karena kapasitas penyerapan sektor manufaktur memiliki batasan tertentu sesuai dengan skala ekspansi industrinya, kelebihan pasokan tenaga kerja ini akhirnya terserap ke sektor non-manufaktur, terutama jasa.

“Jadi ini bukan fenomena orang keluar dari manufaktur lalu pindah ke jasa. Ini adalah angkatan kerja baru yang masuk ke dunia kerja dan terserap ke sektor jasa karena laju suplai tenaga kerja kita memang sangat besar, melebihi kecepatan penciptaan lapangan kerja di manufaktur saat ini,” urai Febri dengan gamblang.

Menghadapi Tantangan Global: Kurs Rupiah dan Efisiensi Industri

Meskipun indikator internal menunjukkan performa yang solid, Kemenperin tidak menampik adanya tantangan eksternal yang cukup berat. Salah satunya adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat penguatan dolar AS. Kondisi ini secara langsung berdampak pada biaya impor bahan baku bagi beberapa subsektor industri yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Untuk memitigasi hal ini, pemerintah terus mendorong pelaku industri untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan atau yang dikenal dengan Local Currency Settlement (LCS). Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar dan memberikan stabilitas biaya produksi di tengah volatilitas pasar global. Strategi ini merupakan bagian dari upaya besar untuk menjaga agar daya saing industri nasional tidak tergerus oleh faktor-faktor moneter eksternal.

Kesimpulan: Optimisme di Tengah Transformasi

Melalui pemaparan data yang mendalam ini, LajuBerita melihat bahwa optimisme pemerintah terhadap masa depan industri manufaktur bukan tanpa alasan. Bantahan terhadap isu deindustrialisasi ini merupakan bentuk penegasan bahwa Indonesia masih berada di jalur yang benar dalam memperkuat struktur ekonominya. Dengan fokus pada hilirisasi, peningkatan investasi, dan manajemen data yang lebih akurat, sektor manufaktur diharapkan tetap menjadi tulang punggung utama bagi visi Indonesia Emas 2045.

Pemerintah mengajak para pengamat dan ekonom untuk lebih berhati-hati dalam menginterpretasikan data statistik agar tidak menciptakan persepsi yang salah di mata publik dan pelaku usaha. Ke depan, sinkronisasi kebijakan antara sektor moneter, fiskal, dan riil akan menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa setiap hambatan, baik dari sisi suplai tenaga kerja maupun tekanan nilai tukar, dapat diatasi dengan strategi yang tepat sasaran.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *