IHSG Terjun Bebas ke Level 6.900: Badai Royalti Minerba dan Ketidakpastian Global Hantam Pasar Modal
LajuBerita — Panggung pasar modal Indonesia dikejutkan dengan manuver tajam yang tidak terduga pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (8/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menunjukkan taringnya di awal sesi, secara dramatis harus merosot dan menyerah di level psikologis 6.900. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan investor setelah indeks mencatatkan koreksi yang cukup dalam, dipicu oleh sentimen domestik terkait kebijakan pertambangan dan tekanan eksternal yang kian memanas.
Berdasarkan pantauan tim redaksi dari data RTI Business, IHSG menutup hari dengan pelemahan signifikan sebesar 2,86 persen, yang membawa indeks bertengger di posisi 6.969,39. Padahal, jika menilik ke belakang pada pembukaan perdagangan pagi hari, optimisme sempat membuncah saat IHSG meroket ke level 7.189,83. Namun, memasuki sesi kedua, arus balik penjualan masif tak terbendung, membuat grafik pergerakan indeks menukik tajam hingga menjelang lonceng penutupan dibunyikan.
Kurs Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Meroket Hingga Tembus Level Rp 17.078
Sektor Pertambangan Logam Menjadi Beban Utama
Penyebab utama dari longsornya IHSG kali ini mengerucut pada performa buruk emiten di sektor pertambangan logam atau metal mining. Gelombang aksi jual di sektor ini bukan tanpa alasan. Para pelaku pasar bereaksi negatif terhadap rencana pemerintah yang tengah menggodok kebijakan kenaikan royalti komoditas mineral dan batu bara (minerba). Langkah ini diambil pemerintah dengan tujuan mempertebal pundi-pundi pendapatan negara, namun di sisi lain, kebijakan ini dipandang sebagai beban tambahan yang akan menggerus margin laba perusahaan tambang.
Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, memberikan pandangannya kepada tim kami mengenai situasi ini. Beliau menegaskan bahwa rontoknya saham tambang berbasis logam menjadi katalisator negatif yang sangat kuat. Investor cenderung melakukan aksi ambil untung atau bahkan ‘cut loss’ untuk menghindari risiko ketidakpastian regulasi yang bisa memangkas performa keuangan emiten di masa mendatang.
Strategi Baru BPJS Ketenagakerjaan: Sasar Jutaan Pekerja Informal dan Transformasi Layanan Kilat
Emiten Pelat Merah dan Holding MIND ID Terkoreksi Dalam
Dampak dari isu royalti ini terlihat sangat nyata pada pergerakan saham raksasa tambang milik negara. PT Timah (Persero) Tbk dengan kode saham TINS, mencatatkan sejarah kelam pada perdagangan hari ini dengan menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Saham TINS anjlok hingga 14,88 persen, berakhir di level Rp 3.490 per saham. Padahal, saat pasar dibuka, saham ini sempat bertengger di harga Rp 4.130. Kejatuhan ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap isu kebijakan fiskal di sektor sumber daya alam.
Kondisi serupa dialami oleh anggota holding MIND ID lainnya, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Emiten ini tidak mampu membendung tekanan jual dan terperosok hingga 13,89 persen ke posisi Rp 5.425 per saham. Penurunan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan harga pembukaan pagi tadi yang berada di level Rp 6.325. Fenomena rontoknya saham-saham ‘blue chip’ di sektor tambang ini secara otomatis memberikan tekanan berat pada bobot IHSG secara keseluruhan.
Badai PHK Mengintai: 10 Perusahaan Besar Beri Sinyal Pengurangan Karyawan dalam 3 Bulan ke Depan
Tekanan Nilai Tukar Rupiah dan Kondisi Makroekonomi
Selain faktor internal dari kebijakan minerba, kesehatan ekonomi makro Indonesia juga tengah diuji. Nilai tukar Rupiah tercatat terus melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang Garuda harus mengakui keunggulan Greenback yang menguat 0,28 persen, membawa posisi kurs ke angka Rp 17.382 per dolar AS. Pelemahan Rupiah ini menambah beban psikologis bagi pasar saham, mengingat banyak emiten yang memiliki ketergantungan pada bahan baku impor atau memiliki utang dalam valuta asing.
LajuBerita juga mencatat adanya sentimen negatif dari rilis data cadangan devisa nasional. Laporan dari Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia mengalami penyusutan. Per April 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 146,2 miliar, turun dari posisi Maret 2026 yang mencapai US$ 148,2 miliar. Angka ini merupakan titik terendah sejak Juli 2024. Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pembayaran utang luar negeri pemerintah hingga upaya Bank Indonesia dalam melakukan stabilisasi nilai tukar di tengah volatilitas pasar global yang ekstrem.
Aroma Manis Ekspor: Indonesia Guyur Pasar China dengan 459 Ton Durian Asal Sulawesi Tengah
Guncangan Geopolitik Global dan Dampaknya ke Bursa Asia
Pasar saham Indonesia tidak sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit ini. Ketidakpastian global yang bersumber dari konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Negosiasi yang buntu dan absennya titik temu dalam perundingan kedua negara menciptakan kabut tebal di pasar keuangan dunia. Dampaknya, mayoritas bursa Asia kompak memerah, mengikuti jejak pelarian modal ke aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven).
Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat terkoreksi 0,19 persen ke level 62.713,60. Di Hong Kong, indeks Hang Seng mengalami tekanan lebih berat dengan pelemahan 0,87 persen ke posisi 26.393,71. Tren negatif ini juga menjalar ke China dengan Shanghai Composite Index yang terpuruk di level 4.179,95, serta bursa Singapura, Straits Times Index (STI), yang melemah 0,41 persen ke posisi 4.921,89. Sinkronisasi pelemahan di kawasan regional ini menunjukkan bahwa sentimen menghindari risiko (risk-off) tengah mendominasi pola pikir para pengelola dana global.
Sektor Properti Ikut Melambat
Menambah daftar panjang beban indeks, sektor properti tanah air juga memberikan kabar yang kurang menggembirakan. Pertumbuhan indeks harga properti pada kuartal I-2026 tercatat hanya sebesar 0,62 persen secara tahunan (yoy). Angka ini menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan kuartal IV-2025 yang masih mampu tumbuh 0,83 persen (yoy). Penurunan kecepatan pertumbuhan ini disebut-sebut sebagai yang paling lambat sejak tahun 2003, menandakan adanya daya beli yang tertahan atau kejenuhan pasar di sektor hunian.
Secara keseluruhan, jatuhnya IHSG ke level 6.900 pada hari ini adalah hasil dari kombinasi ‘badai sempurna’ antara kebijakan domestik yang dianggap memberatkan korporasi, pelemahan indikator ekonomi makro, serta ketegangan geopolitik yang belum menemui akhir. Para analis menyarankan agar investor tetap waspada dan lebih selektif dalam memilih saham, sembari memantau perkembangan kebijakan pemerintah terkait royalti minerba dan pergerakan stabilisasi Rupiah oleh otoritas moneter.