Drama 101 Menit di Ennio Tardini: Brace Donyell Malen Bawa AS Roma Tundukkan Parma Secara Dramatis
LajuBerita — Stadion Ennio Tardini menjadi saksi bisu sebuah drama kolosal yang menguras emosi dalam lanjutan Liga Italia pekan ke-36. AS Roma, yang datang dengan ambisi besar mengamankan tiket kompetisi Eropa, berhasil mencuri tiga poin penuh lewat kemenangan tipis 3-2 atas tuan rumah Parma. Laga yang berlangsung pada Minggu malam tersebut tidak hanya menyajikan adu taktik, tetapi juga menunjukkan kekuatan mentalitas ‘pantang menyerah’ dari skuad asuhan Gian Piero Gasperini.
Dominasi Giallorossi di Babak Pertama
Sejak peluit pertama dibunyikan, tim tamu langsung mengambil inisiatif serangan. Mengandalkan kreativitas Paulo Dybala di lini tengah, Roma mencoba membongkar pertahanan rapat Parma yang dikomandoi oleh Enrico Delprato. Baru memasuki menit ke-9, pendukung Roma sempat bersorak saat Donyell Malen menggetarkan jala gawang Suzuki. Namun, kegembiraan itu sirna setelah wasit menganulir gol tersebut karena sang penyerang asal Belanda sudah berdiri dalam posisi offside.
Diplomasi Buntu AS-Iran Tekan Rupiah: Analisis Mendalam Dampak Geopolitik Terhadap Mata Uang Garuda
Meski gol pertamanya dibatalkan, intensitas serangan Roma tidak menurun. Mereka terus mengepung area penalti Parma melalui pergerakan lincah Soule dan umpan-umpan terukur dari lini tengah. Hasilnya manis pada menit ke-22. Berawal dari visi luar biasa Paulo Dybala yang melepaskan umpan terobosan akurat, Malen berhasil lolos dari jebakan offside. Dengan tenang, ia menaklukkan kiper Parma dalam situasi satu lawan satu, membawa Roma unggul 1-0. Skor ini bertahan hingga wasit meniup peluit tanda jeda babak pertama.
Parma Memberikan Perlawanan Sengit
Memasuki babak kedua, situasi berbalik 180 derajat. Tuan rumah Parma yang tidak ingin dipermalukan di depan pendukungnya sendiri langsung tampil menekan sejak awal. Hanya butuh dua menit setelah babak kedua dimulai, Stadio Ennio Tardini bergemuruh. Gabriel Strefezza melepaskan tembakan mendatar yang sangat presisi dari luar kotak penalti. Bola yang meluncur deras gagal dijangkau oleh Mile Svilar, membuat skor kembali imbang 1-1 pada menit ke-47.
Daftar Lengkap 6 Tim yang Lolos ke Piala Dunia 3×3 2026 di Polandia
Gol tersebut menyuntikkan kepercayaan diri luar biasa bagi Parma. Pertandingan menjadi sangat terbuka dengan kedua tim saling bertukar serangan. AS Roma sempat memasukkan beberapa tenaga baru seperti Devyne Rensch dan El Aynaoui untuk menyegarkan aliran bola, namun pertahanan Parma tampil sangat disiplin. Bencana bagi Roma seolah datang di menit ke-87. Melalui sebuah serangan balik cepat, Mandela Keita melepaskan tendangan keras yang menghujam pojok gawang Roma. Parma berbalik unggul 2-1, dan kemenangan seolah sudah berada di depan mata tuan rumah.
Drama Masa Injury Time dan Keajaiban Malen
Saat banyak pihak mengira Roma akan pulang dengan tangan hampa, keajaiban justru dimulai pada masa tambahan waktu (injury time). Roma memborbardir pertahanan Parma habis-habisan. Pada menit ke-94, kemelut terjadi di depan gawang Suzuki setelah bola liar hasil sundulan Daniel Ghilardi jatuh di kaki Devyne Rensch. Bek asal Belanda tersebut tidak menyia-nyiakan peluang dan menyambar bola dengan sepakan mendatar yang mengubah skor menjadi 2-2. Stadion kembali tegang.
Nottingham Forest vs Aston Villa: Gol Tunggal Chris Wood Bawa The Tricky Trees Selangkah Lebih Dekat ke Final Liga Europa
Namun, puncak drama sesungguhnya terjadi pada menit ke-98. Sebuah insiden di dalam kotak penalti melibatkan Sascha Britschgi dan Devyne Rensch memaksa wasit untuk meninjau monitor VAR. Setelah pengamatan yang cukup lama, wasit memutuskan bahwa Britschgi melakukan pelanggaran fatal terhadap Rensch. Tak hanya hadiah penalti untuk Roma, Britschgi juga harus menerima kartu kuning kedua dan meninggalkan lapangan lebih awal.
Donyell Malen maju sebagai algojo di bawah tekanan ribuan suporter lawan. Di menit ke-101—salah satu gol paling telat dalam sejarah musim ini—Malen dengan sangat dingin menyarangkan bola ke pojok gawang, mengunci kemenangan dramatis 3-2 untuk Roma. Kemenangan ini membuat Giallorossi kini kokoh di peringkat kelima klasemen dengan koleksi 67 poin, menjaga asa mereka untuk lolos ke Liga Champions musim depan.
Warning dari Komisi Yudisial: Ratusan Pendaftar Calon Hakim Agung Belum Lengkapi Berkas, Deadline Menanti!
Analisis Pertandingan dan Klasemen
Kemenangan ini mencerminkan karakter kuat yang ditanamkan oleh Gian Piero Gasperini. Meski sempat tertinggal di menit-menit akhir, Roma tidak kehilangan arah dan terus menekan. Di sisi lain, bagi Parma, kekalahan ini terasa sangat menyesakkan mengingat mereka sempat memimpin hingga menit ke-90. Parma kini tertahan di posisi ke-13 dengan 42 poin, posisi yang relatif aman dari zona degradasi namun jauh dari zona Eropa.
Statistik menunjukkan bahwa Roma mendominasi penguasaan bola hingga 58%, dengan total 15 tembakan di mana 7 di antaranya tepat sasaran. Peran pemain pengganti seperti Devyne Rensch menjadi kunci perubahan taktik yang sukses dilakukan Gasperini di babak kedua. Berikut adalah susunan pemain yang diturunkan dalam laga bersejarah ini:
- Parma (3-5-2): Suzuki; Delprato (Britschgi 74’), Circati, Troilo, Valenti, Valeri (Carboni 74’); Ordonez, Nicolussi Caviglia, Keita; Strefezza (Pellegrino 53’), Elphege.
- AS Roma (3-4-2-1): Svilar; Mancini, Ndicka, Hermoso (Ghilardi 53’); Celik (Rensch 75’), Cristante (El Aynaoui 58’), Kone (Venturino 75’), Wesley; Dybala, Soule (Pisilli 58’); Malen.
Dengan dua pertandingan tersisa di musim ini, setiap poin menjadi sangat krusial bagi Roma. Perjuangan memperebutkan posisi empat besar masih sangat terbuka, dan performa Donyell Malen yang tengah on-fire diharapkan mampu menjadi tumpuan di laga-laga pamungkas mendatang. LajuBerita akan terus mengawal perkembangan Serie A dan memberikan informasi terkini kepada para pecinta sepak bola di seluruh tanah air.