Kontroversi Fashion Olivia Rodrigo: Mengapa Gaun Babydoll di Barcelona Memicu Debat Panas?
LajuBerita — Panggung hiburan internasional baru-baru ini diguncang oleh perdebatan sengit yang berfokus pada satu sosok: Olivia Rodrigo. Penyanyi muda berbakat yang kini berusia 23 tahun tersebut mendadak menjadi pusat perhatian, bukan karena vokal emasnya yang memukau, melainkan karena pilihan busananya yang dinilai kontroversial oleh sebagian kalangan netizen. Penampilannya di Barcelona memicu gelombang kritik yang mempertanyakan batasan antara ekspresi seni fashion retro dengan apa yang dianggap sebagai gaya yang terlalu kekanak-kanakan.
Panggung Barcelona yang Menjadi Sorotan
Semua bermula ketika Olivia Rodrigo hadir dalam acara eksklusif Spotify Billions Club yang digelar di Barcelona pada Sabtu, 9 Mei 2026. Acara ini bukan sekadar perayaan pencapaian angka streaming yang fantastis, melainkan juga bagian dari kemitraan strategis antara Spotify dan klub sepak bola raksasa, FC Barcelona, menjelang laga panas El Clásico. Di tengah atmosfer yang penuh energi tersebut, Olivia melangkah ke atas panggung dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Melawan Multiple Sclerosis dengan Kelembutan: Selma Blair Luncurkan Koleksi Piyama Mewah ‘Sea La Vie’
Namun, perhatian publik segera teralihkan pada busana yang ia kenakan. Olivia memilih atasan bergaya puff sleeve dengan detail embellishment yang rumit, sebuah karya dari label ternama Generation78. Hal yang memicu kegaduhan adalah fakta bahwa ia mengenakan atasan tersebut tanpa dipadukan dengan bawahan celana atau rok yang terlihat jelas, melainkan hanya mengandalkan potongan gaun pendek yang sangat longgar—sebuah gaya klasik yang dikenal dengan sebutan gaun babydoll. Untuk melengkapi tampilannya, pelantun lagu ‘Vampire’ ini mengenakan boots hitam tinggi dari Dr. Martens yang memberikan sentuhan pemberontakan pada gaya feminin tersebut.
Kritik Tajam Netizen: “Seperti Pakaian Bayi”
Tak butuh waktu lama bagi foto-foto Olivia di acara tersebut untuk menyebar luas di platform media sosial, terutama X (sebelumnya Twitter). Reaksi yang muncul sangat terbelah. Kritikus fashion dadakan di internet dengan cepat melabeli penampilan tersebut sebagai sesuatu yang aneh dan tidak pantas bagi seorang bintang pop dewasa. Beberapa pengguna internet bahkan tidak segan-segan menggunakan kata-kata yang cukup tajam untuk menggambarkan ketidaksukaan mereka.
Ramalan Zodiak 16 April: Sinyal Keberuntungan Capricorn dan Ujian Kesabaran bagi Aquarius
“Bisakah Olivia Rodrigo berbusana seperti pop star normal dan berhenti mencoba terlihat seperti balita?” tulis salah satu netizen yang komentarnya mendapatkan ribuan tanda suka. Kritik ini berakar pada persepsi bahwa potongan baju yang dikenakan Olivia sangat mirip dengan pakaian tidur bayi atau balita. Bahkan, ada yang menyamakan detail busana tersebut dengan penutup popok, yang kemudian memicu diskusi lebih luas mengenai tren infantilisme dalam industri musik pop modern.
Fenomena Seksualisasi dan Citra Anak Kecil
Debat ini berkembang menjadi lebih serius ketika beberapa netizen mulai menghubungkan gaya busana Olivia dengan tren yang lebih luas di kalangan penyanyi wanita saat ini. Nama Sabrina Carpenter pun ikut terseret dalam diskusi ini, karena ia juga dikenal sering mengenakan gaun-gaun mini dengan estetika yang serupa. Muncul kekhawatiran di tengah masyarakat mengenai tren di mana bintang pop dewasa mengadopsi elemen pakaian anak-anak, namun tetap mempertahankan elemen visual yang sensual.
Navigasi Asmara 4 Mei: Kiat Menjaga Kepercayaan Aries dan Redam Kecurigaan Leo demi Hubungan Harmonis
“Kita harus membicarakan tren aneh para bintang pop yang sangat seksual dan berdandan seperti anak perempuan kecil,” tulis seorang kritikus di media sosial. Hal ini memicu pertanyaan tentang pesan apa yang ingin disampaikan oleh manajemen artis dan desainer kepada audiens yang lebih muda. Apakah ini murni sebuah eksplorasi artistik, ataukah ada strategi pemasaran di baliknya yang mencoba mengeksploitasi estetika tertentu?
Pembelaan Penggemar: Menilik Sejarah Babydoll
Di tengah badai kritik, para penggemar setia Olivia Rodrigo—yang sering disebut sebagai Livies—tidak tinggal diam. Mereka melakukan riset mendalam dan memberikan argumen tandingan untuk membela idola mereka. Menurut para penggemar, kritik yang diarahkan kepada Olivia berasal dari ketidaktahuan publik mengenai sejarah sejarah fashion babydoll dress itu sendiri.
Fenomena ‘Eating Your Skincare’ Viral di TikTok: Benarkah Rahasia Kulit Glowing Ada di Piring Makan Anda?
Akun penggemar populer @liviefiles menjelaskan bahwa dalam era album terbarunya yang bertajuk ‘You seem pretty sad for a girl so in love’, Olivia memang sedang melakukan eksplorasi besar-besaran terhadap estetika masa lalu. Gaun babydoll, meskipun namanya terdengar kekanak-kanakan, sebenarnya memiliki akar yang kuat dalam sejarah lingerie wanita dewasa. “Meski namanya bisa membingungkan, sejarah dan desain babydoll sebenarnya berkaitan dengan pakaian tidur wanita dewasa di era 1940-an, bukan pakaian anak-anak,” tulis salah satu penggemar di kolom komentar.
Akar Grunge dan Pengaruh Courtney Love
Penting untuk diingat bahwa gaya yang ditampilkan Olivia Rodrigo bukanlah hal baru dalam dunia musik. Gaun babydoll yang dipadukan dengan sepatu boots kasar seperti Dr. Martens adalah seragam ikonik dari gerakan musik grunge di tahun 1990-an. Musisi legendaris seperti Courtney Love adalah pionir dalam mempopulerkan apa yang sering disebut sebagai estetika “kinderwhore”.
Estetika ini secara sengaja mencampurkan elemen-elemen feminin yang lembut, seperti renda dan pita, dengan sikap yang kasar dan musik yang keras sebagai bentuk protes terhadap ekspektasi masyarakat terhadap wanita. Dengan mengenakan busana yang serupa dalam video musik ‘Drop Dead’ dan penampilannya di Barcelona, Olivia tampaknya sedang memberikan penghormatan kepada para pendahulunya di genre musik rock dan alternatif. Ini adalah sebuah pernyataan seni yang menekankan kontras antara kepolosan dan pengalaman pahit kehidupan dewasa.
Evolusi Gaya di Era Album Baru
Perubahan gaya Olivia Rodrigo ini memang terlihat sangat konsisten sejak ia mulai mempromosikan album barunya. Ia tampak ingin melepaskan citra “gadis remaja sekolah menengah” yang melekat padanya saat debut dengan ‘Drivers License’, dan beralih ke narasi yang lebih kompleks, melankolis, namun tetap berani. Penggunaan siluet yang longgar, material chiffon yang transparan, serta detail ruffle adalah bagian dari bahasa visual yang ia gunakan untuk menceritakan kisah dalam lagu-lagunya.
Meskipun kontroversi ini mungkin terasa melelahkan, bagi seorang seniman seperti Olivia, diskusi publik adalah tanda bahwa karyanya berhasil memicu pemikiran. Dunia fashion selalu menjadi medan pertempuran bagi ide-ide baru dan interpretasi lama. Apa yang dianggap “salah” oleh satu generasi sering kali menjadi tren ikonik bagi generasi berikutnya. Pada akhirnya, apakah ini sebuah kesalahan fashion atau sebuah langkah jenius dalam branding, waktu yang akan menjawabnya. Namun yang pasti, Olivia Rodrigo telah berhasil membuktikan bahwa ia bukan sekadar penyanyi, melainkan seorang performer yang berani mengambil risiko dalam setiap aspek penampilannya.