Pesan Tegas Menhan Sjafrie Sjamsoeddin: ASN Komcad Harus Jadi Benteng Birokrasi dari Ancaman ‘Deep State’

Redaksi LajuBerita | LajuBerita
03 Jun 2026, 14:46 WIB
Pesan Tegas Menhan Sjafrie Sjamsoeddin: ASN Komcad Harus Jadi Benteng Birokrasi dari Ancaman 'Deep State'

LajuBerita — Di tengah dinamika geopolitik yang kian tak menentu dan tantangan internal yang semakin kompleks, penguatan pilar-pilar negara menjadi harga mati. Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, memberikan peringatan keras sekaligus pembekalan mendalam kepada ribuan aparatur sipil negara (ASN) yang kini resmi menyandang status sebagai anggota Komponen Cadangan (Komcad). Pesan utamanya sangat jelas: waspadai perusak birokrasi yang bergerak dalam senyap.

Bertempat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, suasana khidmat menyelimuti ribuan personel Komponen Cadangan dari unsur ASN. Menhan Sjafrie, dengan gaya bicaranya yang lugas namun penuh wibawa, mengingatkan bahwa ancaman terhadap kedaulatan negara tidak hanya datang dalam bentuk serangan fisik, melainkan juga upaya pelemahan struktur pemerintahan melalui infiltrasi pengaruh yang merusak birokrasi.

Berita Lainnya

Esensi Idul Adha di Mata Menag Nasaruddin Umar: Dari Ritual Ibadah Menuju Gerakan Berbagi Nutrisi Nasional

Esensi Idul Adha di Mata Menag Nasaruddin Umar: Dari Ritual Ibadah Menuju Gerakan Berbagi Nutrisi Nasional

Kewaspadaan Terhadap ‘Musuh dalam Selimut’

Dalam arahannya, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “musuh dalam selimut”. Pihak-pihak ini, menurut Menhan, adalah mereka yang merasa terancam jika birokrasi Indonesia tumbuh menjadi sistem yang kuat, bersih, dan berwibawa. Baginya, pelatihan Komcad bagi ASN bukan sekadar latihan fisik, melainkan upaya membentuk karakter unggul yang mampu menjadi teladan di instansi masing-masing.

“Saya pernah cerita dulu ada musuh dalam selimut, yaitu pihak yang tidak suka kalau birokrasi di Indonesia kuat. Padahal kamu dilatih supaya birokrasi menjadi kuat dan menjadi teladan,” tegas Sjafrie di hadapan 1.773 ASN yang bersiap menjalankan tugas barunya. Beliau menekankan bahwa pengabdian sebagai ASN Komcad adalah tanggung jawab ganda: sebagai pelayan publik sekaligus garda terdepan pertahanan negara di lingkup sipil.

Berita Lainnya

Dominasi Paris Berlanjut: Tekuk Bayern Muenchen, PSG Amankan Tiket Final Liga Champions Dua Musim Beruntun

Dominasi Paris Berlanjut: Tekuk Bayern Muenchen, PSG Amankan Tiket Final Liga Champions Dua Musim Beruntun

Mengenal Ancaman ‘Deep State’ dan Infiltrasi Ideologi

Salah satu poin yang mencuri perhatian dalam pidato Menhan adalah penyebutan istilah “deep state”. Sjafrie mengindikasikan adanya kekuatan tersembunyi, baik dari luar maupun dari dalam negeri, yang secara sistematis berupaya menghambat perkembangan birokrasi di Indonesia. Meskipun tidak merinci secara spesifik siapa aktor di balik istilah tersebut, peringatan ini menjadi sinyal kuat agar setiap aparatur negara tetap waspada terhadap setiap gerakan yang mencurigakan.

“Orang-orang di luar tidak ingin birokrasi di Indonesia kuat. Bahkan juga ada orang-orang di dalam Indonesia yang kita sebut sebagai deep state,” ungkap Menhan. Fenomena ini, jika dibiarkan, dapat menggerogoti profesionalisme dan integritas yang menjadi pondasi utama pelayanan publik. Oleh karena itu, ketahanan ideologi menjadi krusial dalam menghadapi serangan semacam ini.

Berita Lainnya

Guncangan Pasar Modal: Mengapa IHSG Terkoreksi Tajam dan Apa Dampaknya Bagi Investor?

Guncangan Pasar Modal: Mengapa IHSG Terkoreksi Tajam dan Apa Dampaknya Bagi Investor?

Menhan menekankan bahwa birokrasi Indonesia harus memiliki imun yang kuat terhadap ideologi-ideologi luar yang bertentangan dengan jati diri bangsa. Ia mengingatkan bahwa Pancasila adalah satu-satunya ideologi yang harus dipegang teguh, sementara Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan kompas politik yang sah bagi setiap warga negara, terutama bagi mereka yang bekerja di dalam struktur pemerintahan.

Nasionalisme dan Patriotisme Sebagai Landasan Kerja

Pelatihan Komcad yang dijalani oleh para ASN ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme yang mendalam. Sjafrie berharap, sepulangnya mereka ke instansi masing-masing, ada perubahan paradigma dalam bekerja. Integritas dan profesionalisme bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah kebutuhan dasar dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara.

Berita Lainnya

Dominasi Total di Horsens: Anthony Ginting Segel Kemenangan Mutlak Indonesia Atas Aljazair di Piala Thomas 2026

Dominasi Total di Horsens: Anthony Ginting Segel Kemenangan Mutlak Indonesia Atas Aljazair di Piala Thomas 2026

“Satu hal yang harus kau perhatikan adalah kewaspadaan. Jangan sampai kamu kena pengaruh ideologi karena ideologi kita sudah jelas Pancasila. Politik kita sudah jelas Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” tambah Menhan. Dengan landasan moral yang kuat, diharapkan para ASN Komcad mampu memberikan kinerja terbaik dan pelayanan prima bagi masyarakat luas.

Proses Pendidikan Militer Bagi Sipil yang Terukur

Sebanyak 1.773 personel ASN ini telah melalui perjalanan yang tidak mudah. Sebelumnya, mereka dilepas secara resmi oleh Kepala Badan Cadangan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Letnan Jenderal TNI Gabriel Lema. Selama satu setengah bulan, para peserta harus menanggalkan atribut keseharian mereka sebagai pegawai kantor untuk menjalani Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).

Pelatihan ini tersebar di berbagai fasilitas elit milik TNI, mulai dari Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikkes), Skadron Pendidikan (Skadik) 301, hingga Pusat Bahasa TNI Angkatan Udara (Pusbahasa AU). Tidak hanya itu, gemblengan fisik dan mental juga dilakukan di bawah pengawasan Komando Daerah Militer (Kodam) Jaya dan Pasukan Marinir (Pasmar) 1 Cilandak. Lokasi-lokasi ini dipilih untuk memberikan spektrum pelatihan yang luas, mulai dari kedisiplinan, manajemen krisis, hingga wawasan kebangsaan.

Masa Depan Komcad: Menuju Gelombang Kedua

Kesuksesan pelatihan gelombang pertama ini memicu optimisme tinggi bagi pemerintah. Kementerian Pertahanan telah menyusun rencana matang untuk membuka pelatihan Komcad bagi ASN gelombang kedua dalam waktu dekat. Komitmen ini menunjukkan keseriusan negara dalam memperkuat pertahanan semesta yang melibatkan seluruh elemen bangsa, termasuk para birokrat.

Pada gelombang kedua mendatang, kuota yang disiapkan jauh lebih besar, yakni mencapai 2.000 peserta. Hal ini membuktikan bahwa minat dan kebutuhan akan penguatan kapasitas pertahanan di kalangan ASN semakin meningkat. Langkah ini juga menjadi bagian dari transformasi Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dalam membangun postur pertahanan Indonesia yang lebih modern dan adaptif.

Dengan hadirnya ASN Komcad, diharapkan birokrasi Indonesia tidak hanya menjadi mesin administrasi yang kaku, melainkan menjadi kekuatan yang tangguh, disiplin, dan setia kepada kepentingan nasional. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menangkal segala bentuk pengaruh negatif dan menjadi teladan bagi rekan sejawatnya dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan berdaulat.

Pesan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin di Halim Perdanakusuma hari itu bukan sekadar formalitas pelantikan, melainkan sebuah maklumat bagi seluruh aparatur negara untuk tetap berdiri tegak di tengah gempuran kepentingan yang ingin melemahkan bangsa dari dalam. Kini, bola ada di tangan para lulusan Komcad untuk membuktikan bahwa mereka adalah benteng birokrasi yang sesungguhnya.

Redaksi LajuBerita

Redaksi LajuBerita

Tim redaksi LajuBerita mengkurasi dan menulis berita terbaru dari berbagai sumber terpercaya di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *