LajuBerita: Strategi Barter Mendag Budi Santoso di Tengah Badai Rupiah Rp 18.000

Reporter Nasional | LajuBerita
05 Jun 2026, 08:47 WIB
LajuBerita: Strategi Barter Mendag Budi Santoso di Tengah Badai Rupiah Rp 18.000

LajuBerita — Badai nilai tukar yang tengah menghantam mata uang Garuda nampaknya memaksa pemerintah untuk memutar otak lebih keras dalam menjaga stabilitas perdagangan nasional. Dengan posisi nilai tukar rupiah yang kini telah menyentuh angka psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), Menteri Perdagangan Budi Santoso mulai menyiapkan langkah-langkah luar biasa yang jarang terpikirkan di era ekonomi digital modern ini. Salah satu manuver yang mencuri perhatian adalah rencana menghidupkan kembali sistem barter dalam transaksi perdagangan internasional.

Kembali ke Akar: Mengapa Barter Menjadi Pilihan?

Rencana ini muncul bukan tanpa alasan yang kuat. Tekanan dolar AS yang kian perkasa terhadap mata uang di kawasan Asia Tenggara telah membuat biaya transaksi menggunakan mata uang Negeri Paman Sam tersebut menjadi sangat mahal. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan bahwa pemerintah sedang membuka pintu lebar bagi alternatif perdagangan yang lebih resilien, termasuk melakukan pertukaran barang secara langsung atau sistem barter dengan Filipina.

Berita Lainnya

Drama Pencekalan Tyo Nugros di Bandara Soetta: Terungkapnya Tabir Utang Negara yang Menjerat Sang Drummer

Drama Pencekalan Tyo Nugros di Bandara Soetta: Terungkapnya Tabir Utang Negara yang Menjerat Sang Drummer

Gagasan ini berawal dari diskusi intensif dalam gelaran pertemuan ASEAN beberapa waktu lalu. Budi bercerita bahwa pelemahan mata uang tidak hanya menjadi momok bagi Indonesia, namun juga bagi negara tetangga seperti Filipina. Dalam situasi di mana kedua mata uang nasional sama-sama sedang terpuruk terhadap dolar, menggunakan dolar sebagai perantara perdagangan dianggap hanya akan menambah beban biaya bagi kedua belah pihak.

“Kemarin saat acara ASEAN, kami bertemu dengan salah satu pengusaha besar dari Filipina. Selama ini dia rajin mengimpor barang-barang dari kita. Namun, mereka juga mengeluhkan kondisi nilai tukar di Filipina yang sedang kurang bagus. Dari sana muncul ide, mengapa kita tidak menggunakan skema barter saja untuk menjaga kelancaran arus barang?” ungkap Budi saat ditemui tim LajuBerita di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Berita Lainnya

Fenomena Libur Idul Adha: Whoosh Tembus 22 Ribu Penumpang, KCIC Operasikan 68 Perjalanan Sehari

Fenomena Libur Idul Adha: Whoosh Tembus 22 Ribu Penumpang, KCIC Operasikan 68 Perjalanan Sehari

Langkah Nyata: Penandatanganan Kontrak dan Kesiapan Buyer

Banyak pihak yang mungkin meragukan efektivitas barter di zaman modern, namun Mendag Budi Santoso menegaskan bahwa ini bukan sekadar wacana di atas kertas. Pemerintah telah bergerak cepat untuk memetakan potensi dan mencari mitra yang tepat agar skema ini bisa segera diimplementasikan. Menurutnya, kesiapan dari sisi pembeli atau buyer sudah matang dan tinggal menunggu eksekusi formal.

Rencananya, penandatanganan kontrak untuk skema barter perdana ini akan dilakukan pada pertengahan Juni, tepatnya tanggal 12 Juni mendatang. Meski publik masih dibuat penasaran mengenai jenis komoditas apa saja yang akan ditukar, Budi memberikan sinyal bahwa daftar barang tersebut sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Langkah ini diharapkan menjadi pilot project yang nantinya bisa diterapkan dengan negara-negara mitra dagang lainnya yang juga mengalami masalah serupa dengan gejolak dolar.

Berita Lainnya

Gelombang PHK Capai 8.389 Orang, Begini Strategi Kemnaker Bendung Badai Tenaga Kerja

Gelombang PHK Capai 8.389 Orang, Begini Strategi Kemnaker Bendung Badai Tenaga Kerja

“Kami sudah mencarikan buyer-nya dan semuanya sudah siap. Nanti pada tanggal 12, kita akan melakukan penandatanganan kontrak secara resmi dengan pihak pembeli. Ini adalah upaya konkret agar perdagangan kita tetap berputar meski dolar AS sedang tidak bersahabat,” jelas Budi dengan nada optimistis.

Ancaman Inflasi Impor dan Nasib Bahan Pokok

Melemahnya rupiah ke level Rp 18.000 tentu membawa efek domino yang mengkhawatirkan bagi industri dalam negeri. Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor untuk beberapa sektor vital. Kenaikan harga barang impor secara otomatis akan mendongkrak biaya produksi, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual.

Sektor-sektor seperti pertanian sangat rentan karena ketergantungan pada bahan baku pupuk impor. Begitu pula dengan industri makanan yang membutuhkan pasokan kedelai dalam jumlah besar dari luar negeri, serta sektor otomotif dan manufaktur yang membutuhkan suku cadang atau sparepart impor. Tekanan ini disebut sebagai imported inflation atau inflasi yang diimpor dari luar negeri akibat fluktuasi mata uang.

Berita Lainnya

Terobosan Baru Pasar Digital: Mengenal CFX10, Indeks Kripto Pertama yang Menjadi Kompas Investasi di Indonesia

Terobosan Baru Pasar Digital: Mengenal CFX10, Indeks Kripto Pertama yang Menjadi Kompas Investasi di Indonesia

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Mendag Budi Santoso mengklaim bahwa hingga saat ini harga dan stok bahan pokok di pasar domestik masih dalam kondisi terkendali. Ia memastikan kementeriannya terus memantau setiap pergerakan importasi bahan baku. Koordinasi dengan para produsen dilakukan secara intensif untuk memastikan tidak ada hambatan distribusi maupun kelangkaan stok yang bisa memicu kepanikan di masyarakat.

“Kami memonitor setiap detail importasi bahan baku. Komunikasi dengan produsen terus dijaga agar stok tetap tersedia di pasar. Kita tidak ingin ketidakpastian nilai tukar ini mengganggu ketersediaan barang di tangan masyarakat,” imbuhnya.

Taji Ekspor Indonesia yang Tetap Tajam

Meskipun awan mendung nilai tukar menyelimuti ekonomi nasional, Budi Santoso membawa kabar baik mengenai kinerja ekspor Indonesia. Berdasarkan data terbaru, ekspor nasional justru menunjukkan tren pertumbuhan yang positif sebesar 5,48% secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka ini menjadi bukti bahwa produk-produk Indonesia masih memiliki daya saing yang kuat di pasar global.

Logikanya, ketika rupiah melemah, harga produk ekspor Indonesia di pasar internasional menjadi lebih kompetitif atau lebih murah bagi pembeli luar negeri. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para eksportir untuk meningkatkan volume penjualan mereka. Budi percaya bahwa fundamental perdagangan Indonesia masih cukup tangguh untuk menghadapi guncangan nilai tukar kali ini.

“Jika kita melihat data secara jernih, kondisi perdagangan kita sebenarnya masih sangat bagus. Kenaikan ekspor sebesar 5,48% menunjukkan bahwa kita masih bisa bertahan dan bahkan tumbuh di tengah ketidakpastian global. Strategi barter yang kami siapkan hanyalah salah satu instrumen tambahan untuk memperkuat daya tahan tersebut,” pungkasnya.

Langkah berani dengan menghidupkan sistem barter ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga menjadi alternatif strategi perdagangan di masa depan ketika ketergantungan terhadap satu mata uang dunia menjadi terlalu berisiko. LajuBerita akan terus memantau perkembangan penandatanganan kontrak barter ini dan dampaknya terhadap perekonomian nasional ke depan.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *