Mendag Budi Santoso Soroti Biaya Logistik yang Mencekik, Siapkan Pertemuan Strategis dengan Pelaku Usaha

Reporter Nasional | LajuBerita
13 Mei 2026, 19:01 WIB
Mendag Budi Santoso Soroti Biaya Logistik yang Mencekik, Siapkan Pertemuan Strategis dengan Pelaku Usaha

LajuBerita — Persoalan mengenai tingginya ongkos distribusi di Indonesia kembali mencuat ke permukaan dan menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso secara resmi menyatakan kesiapannya untuk segera memanggil para asosiasi pengusaha logistik guna membedah akar permasalahan yang selama ini membebani daya saing produk-produk dalam negeri. Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas keluhan yang datang dari berbagai sektor usaha yang merasa terhimpit oleh biaya logistik yang kian melambung tinggi.

Keluhan tersebut mengemuka dalam sebuah forum diskusi bertajuk ‘Ngobrol Produk Indonesia’ yang digelar di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Gabungan Penyuplai Hotel dan Restoran Indonesia, Fera Umbara, mengungkapkan kegelisahan para pelaku usaha mengenai sulitnya menjaga harga jual agar tetap kompetitif. Menurutnya, Harga Pokok Penjualan (HPP) dari barang-barang lokal sering kali tidak mampu bersaing dengan produk luar akibat besarnya porsi biaya pengiriman antar-pulau di nusantara.

Berita Lainnya

IHSG Tergelincir ke Level 7.600: Ratusan Saham ‘Kebakaran’ di Tengah Transaksi Rp 22 Triliun

IHSG Tergelincir ke Level 7.600: Ratusan Saham ‘Kebakaran’ di Tengah Transaksi Rp 22 Triliun

Dilema Negara Kepulauan dan Tantangan Ekonomi Global

Menanggapi hal tersebut, Mendag Budi Santoso mengakui bahwa kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan memang memberikan tantangan yang sangat kompleks bagi sektor distribusi. Namun, ia menegaskan bahwa tantangan ini tidak boleh dibiarkan tanpa solusi konkret. Efisiensi dalam ekonomi nasional sangat bergantung pada seberapa lancar dan murahnya barang dapat berpindah dari satu titik ke titik lainnya.

“Memang itu menjadi problem fundamental kita karena salah satunya faktor geografis sebagai negara kepulauan. Namun, pemerintah terus berupaya mencari jalan keluar. Saat ini, kita juga dihadapkan pada kenyataan bahwa biaya logistik global sedang merangkak naik,” ujar Budi Santoso saat ditemui di sela-sela acara tersebut pada Rabu (13/5/2026).

Berita Lainnya

Kilau Emas Meredup: Deflasi 3,76% Akhiri Rekor Reli Panjang 30 Bulan, Investor Mulai Berpaling?

Kilau Emas Meredup: Deflasi 3,76% Akhiri Rekor Reli Panjang 30 Bulan, Investor Mulai Berpaling?

Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa kenaikan biaya ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, tetapi juga tekanan dari situasi global yang sedang tidak menentu. Adanya krisis di berbagai belahan dunia serta fluktuasi harga minyak mentah dunia memberikan dampak domino terhadap biaya operasional transportasi. Bagi industri yang masih mengandalkan bahan baku impor, beban ini menjadi ganda: harga bahan baku naik, dan ongkos angkutnya pun ikut membengkak.

Mengurai Benang Kusut Distribusi Nasional

Bagi kementerian yang dipimpinnya, isu logistik ini dipandang sebagai ‘Pekerjaan Rumah’ (PR) besar yang menuntut kolaborasi lintas sektoral. Budi Santoso menekankan bahwa pemerintah tidak akan mengambil kebijakan secara sepihak tanpa mendengar suara dari para pemain di lapangan. Baginya, data teknis dan pengalaman nyata dari para pengusaha logistik adalah kunci untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran agar produk dalam negeri tetap dicintai dan terjangkau.

Berita Lainnya

KRL Lintas Cikarang-Bekasi Segera Kembali Berdenyut, Menhub Tunggu Restu Final KNKT

KRL Lintas Cikarang-Bekasi Segera Kembali Berdenyut, Menhub Tunggu Restu Final KNKT

“Kami akan segera menjadwalkan pertemuan formal di kantor. Waktu di sini tentu tidak cukup untuk membahas persoalan teknis yang sedemikian rumit. Kami ingin mendengar langsung kendala apa saja yang dialami teman-teman di lapangan. Mengapa distribusi kita masih tidak efisien? Di mana letak sumbatannya? Itu yang akan kita diskusikan bersama,” jelasnya dengan nada optimis.

Pertemuan yang direncanakan tersebut diharapkan dapat menghasilkan peta jalan baru dalam sistem logistik nasional. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil mampu memangkas rantai birokrasi dan hambatan teknis yang selama ini membuat harga barang melonjak saat sampai ke tangan konsumen akhir.

Dampak Terhadap Daya Saing Produk Lokal

Masalah mahalnya biaya logistik ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri manufaktur besar. Ketika biaya kirim dari Jakarta ke wilayah timur Indonesia lebih mahal daripada pengiriman dari luar negeri ke Jakarta, maka posisi produk lokal akan selalu berada di bawah bayang-bayang produk impor yang lebih murah.

Berita Lainnya

Tensi Global Memuncak: Donald Trump Perintahkan Blokade Total Selat Hormuz Usai Perundingan Damai Buntu

Tensi Global Memuncak: Donald Trump Perintahkan Blokade Total Selat Hormuz Usai Perundingan Damai Buntu

Fera Umbara dalam pernyataannya menekankan bahwa para penyuplai sering kali harus memutar otak untuk menekan margin keuntungan demi menjaga harga agar tidak terlalu tinggi bagi konsumen. Namun, strategi ini tentu tidak bisa bertahan lama jika tidak ada intervensi dari regulator. Ketidakmampuan bersaing dalam hal harga pada akhirnya akan melemahkan penetrasi pasar produk-produk asli Indonesia di negeri sendiri.

Harapan Baru di Meja Perundingan

Budi Santoso menutup penjelasannya dengan komitmen untuk melakukan langkah-langkah strategis dalam waktu dekat. Diskusi yang akan digelar nantinya diharapkan tidak hanya sekadar menjadi ajang keluh kesah, melainkan tempat lahirnya inovasi kebijakan. Salah satu poin yang mungkin akan dibahas adalah optimalisasi infrastruktur yang sudah dibangun oleh pemerintah agar lebih terintegrasi dengan kebutuhan dunia usaha.

Pemerintah menyadari bahwa distribusi barang yang efektif adalah tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Dengan menekan biaya logistik, diharapkan inflasi dapat lebih terkendali dan daya beli masyarakat tetap terjaga. Selain itu, dengan harga yang lebih kompetitif, produk-produk Indonesia diharapkan tidak hanya merajai pasar domestik, tetapi juga mampu berbicara banyak di kancah internasional.

Langkah sigap Mendag Budi Santoso ini dinilai banyak pihak sebagai angin segar. Sektor logistik yang selama ini dianggap kaku dan penuh tantangan birokrasi, kini diharapkan bisa lebih dinamis dan mendukung visi besar Indonesia sebagai pusat ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Semua mata kini tertuju pada pertemuan yang akan datang, menanti solusi cerdas untuk membebaskan dunia usaha dari jerat biaya logistik yang mahal.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *