Kilau Emas Meredup: Deflasi 3,76% Akhiri Rekor Reli Panjang 30 Bulan, Investor Mulai Berpaling?

Reporter Nasional | LajuBerita
04 Mei 2026, 12:48 WIB
Kilau Emas Meredup: Deflasi 3,76% Akhiri Rekor Reli Panjang 30 Bulan, Investor Mulai Berpaling?

LajuBerita — Panggung pasar komoditas global baru saja dikejutkan oleh sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam hampir tiga tahun terakhir. Setelah menjadi primadona bagi para pencari suaka aset aman atau safe-haven, harga emas kini dipaksa bertekuk lutut. Tren kenaikan yang seolah tak terbendung sejak akhir tahun 2023 akhirnya menemui titik balik yang cukup menyakitkan bagi para pemegangnya. Laju inflasi komoditas logam mulia ini resmi terhenti, berganti dengan angka deflasi yang cukup dalam pada periode April 2026.

Titik Balik Dramatis Setelah 30 Bulan Berjaya

Laporan terbaru menunjukkan bahwa harga emas dan perhiasan mengalami kontraksi harga yang cukup signifikan. Fenomena deflasi emas sebesar 3,76% pada April 2026 menjadi penanda berakhirnya masa kejayaan emas yang telah berlangsung selama 30 bulan berturut-turut. Sejak September 2023 hingga Februari 2026, emas telah menjadi instrumen investasi yang memberikan keuntungan konsisten bagi para pemiliknya, namun kini dinamika pasar berkata lain.

Berita Lainnya

Gairah Investasi 2026: BPS Beberkan Data Kuat di Balik Optimisme Pemodal di Tanah Air

Gairah Investasi 2026: BPS Beberkan Data Kuat di Balik Optimisme Pemodal di Tanah Air

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, dalam sebuah konferensi pers di Jakarta Pusat, mengungkapkan bahwa penurunan ini bukan sekadar fluktuasi kecil. “Pada April 2026, emas perhiasan mengalami deflasi yang cukup tinggi yaitu 3,76% dengan andil deflasinya mencapai 0,09% terhadap angka deflasi nasional,” ujar Ateng di hadapan awak media pada Senin (4/5/2026).

Mengapa Emas Rontok? Menelusuri Akar Geopolitik dan Dominasi Dolar

Pertanyaan besar yang muncul di benak publik adalah: Mengapa emas bisa jatuh saat situasi dunia masih dibayangi ketidakpastian? Biasanya, emas akan melonjak ketika tensi konflik geopolitik memanas. Namun, dinamika di Timur Tengah kali ini memberikan dampak yang sedikit berbeda pada psikologi pasar. Alih-alih menumpuk emas, para investor global tampak lebih tertarik untuk mengamankan likuiditas mereka ke dalam mata uang Dolar Amerika Serikat (AS).

Berita Lainnya

Pertamina Tegaskan Pendaftaran Pangkalan LPG 3 Kg Gratis, Waspada Hoax Biaya Siluman

Pertamina Tegaskan Pendaftaran Pangkalan LPG 3 Kg Gratis, Waspada Hoax Biaya Siluman

Penguatan indeks dolar (DXY) menjadi musuh utama bagi logam kuning ini. Saat dolar AS menguat, harga emas yang dibanderol dalam mata uang Paman Sam tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, yang pada akhirnya menekan permintaan. Tekanan jual yang masif di pasar global inilah yang merembet hingga ke pasar domestik Indonesia, menyebabkan harga emas batangan maupun perhiasan terkoreksi tajam.

Dampak Sektoral: Kelompok Perawatan Pribadi Terpukul

Penurunan harga emas tidak hanya memengaruhi portofolio investor besar, tetapi juga memberikan dampak nyata pada indikator ekonomi makro di sektor ritel. Berdasarkan data BPS, komoditas emas dan perhiasan memberikan andil deflasi terdalam pada kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini tercatat mengalami deflasi sebesar 0,99% dengan andil terhadap deflasi umum sebesar 0,07%.

Berita Lainnya

Rupiah Kian Terjepit, Dolar AS Tembus Rekor Baru Rp 17.134 di Perdagangan Pagi

Rupiah Kian Terjepit, Dolar AS Tembus Rekor Baru Rp 17.134 di Perdagangan Pagi

Angka ini bukanlah angka sembarangan. Ateng Hartono menegaskan bahwa tingkat deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya ini merupakan yang terdalam sejak Januari 2020. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan harga emas telah menarik turun rata-rata harga pada kategori jasa dan barang kebutuhan sekunder masyarakat secara kolektif.

Rincian Penurunan Harga Emas Antam di Pasar Domestik

Bagi masyarakat Indonesia, acuan utama harga logam mulia seringkali merujuk pada produk PT Aneka Tambang Tbk atau Antam. Pantauan tim LajuBerita menunjukkan tren penurunan yang konsisten dalam beberapa pekan terakhir. Hari ini, harga emas Antam 24 karat kembali terkoreksi tipis Rp 1.000 per gram, sehingga kini bertengger di level Rp 2.795.000 per gram.

Berita Lainnya

Banjir Promo Transmart Full Day Sale 12 April 2026: Diskon Jumbo Barang Elektronik Hingga Jutaan Rupiah!

Banjir Promo Transmart Full Day Sale 12 April 2026: Diskon Jumbo Barang Elektronik Hingga Jutaan Rupiah!

Jika kita menilik data sepekan ke belakang, fluktuasi harga emas Antam berada di rentang Rp 2.809.000 hingga Rp 2.795.000 per gram. Sementara jika ditarik dalam perspektif bulanan, penurunannya terasa lebih dramatis dari harga puncak di Rp 2.857.000 per gram. Ini menunjukkan adanya tren pelemahan yang cukup stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda rebound yang kuat dalam waktu dekat.

Harga Buyback: Sinyal Waspada Bagi Investor Jangka Pendek

Bukan hanya harga jual, harga beli kembali atau buyback juga mengalami tekanan serupa. Harga buyback emas Antam saat ini turun menjadi Rp 2.585.000 per gram. Selisih atau spread yang cukup lebar antara harga beli dan harga jual ini tentu menjadi pertimbangan krusial bagi para investor, terutama mereka yang baru saja masuk ke pasar emas pada saat harga sedang tinggi-tingginya beberapa bulan lalu.

Kondisi ini memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat mengenai risiko investasi pada aset komoditas. Meski dikenal sebagai lindung nilai inflasi, emas tetap memiliki risiko pasar yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, terutama dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), serta sentimen risiko global yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Prediksi ke Depan: Akankah Emas Kembali Berkilau?

Meskipun saat ini emas sedang dalam fase deflasi, banyak analis yang melihat ini sebagai koreksi sehat setelah reli panjang selama 30 bulan. Pasar saat ini tengah melakukan penyesuaian terhadap ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat. Jika ke depannya inflasi global kembali tak terkendali atau jika ekonomi global mengalami resesi yang lebih dalam, bukan tidak mungkin emas akan kembali dicari sebagai tempat berlindung.

Namun untuk jangka pendek, tekanan terhadap harga emas diprediksi masih akan berlanjut selama dolar AS tetap perkasa. Para pelaku pasar disarankan untuk tetap tenang dan melihat penurunan ini dengan kepala dingin. Bagi investor jangka panjang, periode deflasi atau penurunan harga seringkali dianggap sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi aset atau dollar cost averaging di harga yang lebih kompetitif.

Kesimpulannya, fenomena deflasi emas sebesar 3,76% di bulan April 2026 ini adalah pengingat bahwa tidak ada aset yang harganya akan terus naik selamanya tanpa ada koreksi. Dinamika ekonomi yang dipicu oleh konflik geopolitik dan penguatan dolar telah mengubah peta kekuatan investasi tahun ini. Tetap pantau perkembangan pasar bersama kami untuk mendapatkan informasi terkini mengenai pergerakan ekonomi dan komoditas lainnya.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *