Strategi Besar Danantara: Menguak Fakta di Balik Profitabilitas BUMN yang Kerap Dipandang Sebelah Mata

Reporter Nasional | LajuBerita
23 Mei 2026, 16:57 WIB
Strategi Besar Danantara: Menguak Fakta di Balik Profitabilitas BUMN yang Kerap Dipandang Sebelah Mata

LajuBerita — Selama ini, narasi mengenai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sering kali diwarnai oleh skeptisisme publik. Anggapan bahwa perusahaan plat merah hanya menjadi beban negara, tidak efisien, hingga terus-menerus merugi seolah telah menjadi stigma yang sulit luntur. Namun, tabir pesimisme tersebut kini disingkap dengan data yang tajam oleh jajaran pimpinan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Danantara.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, secara tegas menepis segala pandangan miring yang menyebut BUMN tidak mampu menghasilkan keuntungan. Dalam sebuah diskusi mendalam di ajang Jogja Financial Festival pada Sabtu (23/5/2026), Dony membawa bukti-bukti konkret yang menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan negara justru menjadi motor penggerak utama ekonomi nasional melalui kontribusi finansial yang masif.

Berita Lainnya

Serbu Transmart Full Day Sale: Set Alat Masak Premium Banting Harga Hingga Jutaan Rupiah!

Serbu Transmart Full Day Sale: Set Alat Masak Premium Banting Harga Hingga Jutaan Rupiah!

Melawan Stigma dengan Data Keuntungan yang Fantastis

Dony Oskaria tidak sekadar berargumen tanpa dasar. Ia memaparkan bahwa sepanjang tahun 2025, BUMN secara kolektif berhasil membukukan laba bersih yang sangat signifikan, yakni mencapai angka Rp 335 triliun. Angka ini menjadi jawaban telak bagi pihak-pihak yang sering mengkritik kinerja finansial entitas plat merah tersebut. Keuntungan sebesar ini bukanlah hasil dari monopoli semata, melainkan buah dari transformasi tata kelola yang lebih modern dan transparan.

“Seringkali kita membaca di berbagai platform atau mendengar diskusi publik bahwa BUMN itu tidak pernah untung. Saya tegaskan di sini, itu adalah pandangan yang keliru,” ujar Dony di hadapan para peserta festival. Ia menekankan bahwa realitas di lapangan menunjukkan performa kinerja perusahaan negara yang kian tangguh di tengah tantangan pasar global yang dinamis.

Berita Lainnya

Badai PHK Mengancam Sektor Manufaktur: Dilema Industri di Tengah Tensi Geopolitik Global

Badai PHK Mengancam Sektor Manufaktur: Dilema Industri di Tengah Tensi Geopolitik Global

Lebih lanjut, Dony menjelaskan bahwa profitabilitas ini mencerminkan keberhasilan strategi restrukturisasi yang dilakukan pemerintah selama beberapa tahun terakhir. Keuntungan yang diraih bukan hanya untuk memperkuat neraca perusahaan, tetapi juga dikembalikan kepada rakyat dalam berbagai bentuk kontribusi negara.

Kontribusi Pajak: Tulang Punggung Penerimaan Negara

Selain laba bersih, peran BUMN sebagai wajib pajak terbesar di Indonesia juga menjadi sorotan utama. Dony membeberkan bahwa kontribusi BUMN terhadap penerimaan pajak negara telah menyentuh angka kurang lebih Rp 215 triliun. Jumlah ini merupakan angka yang fantastis dan memberikan ruang fiskal yang cukup besar bagi pemerintah untuk mendanai berbagai program sosial dan pembangunan infrastruktur.

Dengan total setoran pajak tersebut, BUMN membuktikan diri sebagai institusi yang sangat “powerful” dalam menjaga stabilitas fiskal. “Kita harus melihat BUMN sebagai aset strategis. Jika perusahaan-perusahaan ini terus berkembang, maka kapasitas fiskal negara melalui pajak negara juga akan semakin kuat,” tambahnya. Hal ini sekaligus menepis anggapan bahwa BUMN hanya menyusu pada APBN; sebaliknya, mereka justru menjadi salah satu penyokong terbesar dana pembangunan.

Berita Lainnya

Revolusi Logistik di Jawa Tengah: Menelisik Proyek Dryport KEK Batang yang Mengintegrasikan Jalur Rel dan Pelabuhan Dunia

Revolusi Logistik di Jawa Tengah: Menelisik Proyek Dryport KEK Batang yang Mengintegrasikan Jalur Rel dan Pelabuhan Dunia

Target Ambisius Menuju Rp 450 Triliun

Meski telah mencatatkan angka yang memuaskan, Danantara tidak lantas berpuas diri. Sebagai institusi yang kini mengelola portofolio investasi besar negara, Danantara memiliki peta jalan yang sangat ambisius. Untuk tahun berjalan ini, Dony menetapkan target laba BUMN yang lebih tinggi, yakni sebesar Rp 360 triliun. Target ini dianggap realistis mengingat iklim investasi yang semakin membaik dan sinergi antar-BUMN yang kian solid di bawah koordinasi Danantara.

Bahkan, Dony Oskaria memiliki visi jangka panjang yang sangat personal sekaligus profesional. Ia menargetkan bahwa sebelum masa tugasnya berakhir atau saat ia memasuki masa pensiun nanti, BUMN harus mampu mencatatkan laba setidaknya Rp 450 triliun per tahun. Sebuah angka yang jika tercapai, akan menempatkan BUMN Indonesia sebagai salah satu kelompok korporasi negara paling menguntungkan di kawasan Asia Tenggara.

Berita Lainnya

Strategi Besar Presiden Prabowo: Ekspansi Masif Proyek Hilirisasi di 13 Lokasi Strategis Indonesia

Strategi Besar Presiden Prabowo: Ekspansi Masif Proyek Hilirisasi di 13 Lokasi Strategis Indonesia

“Saya sendiri punya harapan besar, paling tidak ketika saya pensiun nanti, BUMN kita sudah bisa membukukan keuntungan sedikitnya Rp 450 triliun. Ini bukan sekadar mimpi, tapi target yang kita kejar dengan kerja keras dan strategi yang tepat,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengatur BUMN tersebut.

Danantara: Era Baru Pengelolaan Aset Negara

Kehadiran Danantara sebagai badan pengelola investasi membawa angin segar bagi pola pengelolaan BUMN. Dengan pendekatan yang lebih mirip dengan *Sovereign Wealth Fund* (SWF), Danantara mengedepankan profesionalitas dan efisiensi dalam mengoptimalkan nilai aset negara. Dony meyakini bahwa di bawah kelolaan Danantara, BUMN akan bertransformasi menjadi entitas yang lebih lincah dan kompetitif di kancah internasional.

Kontribusi dividen BUMN terhadap negara saat ini bahkan diklaim setara dengan sepertiga dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini menunjukkan betapa krusialnya kesehatan finansial BUMN bagi kelangsungan kebijakan publik di Indonesia. Tanpa dividen dan pajak dari BUMN, beban APBN untuk mendanai subsidi dan pelayanan masyarakat tentu akan semakin berat.

“Kami di Danantara berkomitmen untuk melakukan pengelolaan dengan pendekatan yang jauh lebih baik. Fokus kami adalah bagaimana memberikan kontribusi maksimal bagi percepatan pertumbuhan ekonomi kita ke depan. BUMN bukan lagi sekadar operator, tapi harus menjadi katalisator kemakmuran,” pungkas Dony menutup pembicaraannya.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Meskipun data menunjukkan tren positif, tantangan besar tetap membentang. Efisiensi operasional, pemberantasan praktik korupsi di internal korporasi, serta adaptasi terhadap teknologi digital menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara konsisten. Publik tentu berharap bahwa angka-angka triliunan rupiah yang dipaparkan oleh Danantara benar-benar terakumulasi menjadi kesejahteraan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

Dengan pengelolaan yang transparan dan target yang terukur, masa depan BUMN di bawah naungan Danantara tampak menjanjikan. Jika target Rp 450 triliun tersebut berhasil dicapai, maka Indonesia akan memiliki kemandirian finansial yang jauh lebih kokoh, meminimalkan ketergantungan pada utang luar negeri, dan memastikan roda pembangunan terus berputar demi kepentingan rakyat.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *