Ambisi Besar Ketahanan Pangan: Danantara Kucurkan Rp 5 Triliun demi Revolusi Hilirisasi Ayam Nasional

Reporter Nasional | LajuBerita
12 Jun 2026, 18:48 WIB
Ambisi Besar Ketahanan Pangan: Danantara Kucurkan Rp 5 Triliun demi Revolusi Hilirisasi Ayam Nasional

LajuBerita — Langkah strategis dalam memperkuat kemandirian pangan nasional kembali menunjukkan taringnya. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Danantara, secara resmi telah memberikan lampu hijau bagi pembiayaan megaproyek hilirisasi ayam terintegrasi. Tidak tanggung-tanggung, untuk tahap awal saja, dana segar sebesar Rp 5 triliun telah disiapkan guna menggerakkan roda industri peternakan dari hulu ke hilir secara masif di berbagai wilayah Indonesia.

Keputusan besar ini bukan sekadar tentang angka di atas kertas, melainkan sebuah manifestasi dari visi besar pemerintah dalam menciptakan kedaulatan pangan yang berkelanjutan. Proyek ini diharapkan mampu mengubah wajah industri peternakan unggas nasional yang selama ini seringkali terfragmentasi menjadi sebuah ekosistem yang solid, modern, dan memiliki nilai tambah tinggi bagi perekonomian nasional.

Berita Lainnya

Ironi di Balik Lonjakan Laba Bank Indonesia: Antara Tekanan Rupiah dan Keuntungan Valas yang Disorot DPR

Ironi di Balik Lonjakan Laba Bank Indonesia: Antara Tekanan Rupiah dan Keuntungan Valas yang Disorot DPR

Transformasi Sektor Peternakan melalui Tangan Dingin Danantara

Proyek hilirisasi pertanian ini dirancang untuk mengembangkan industri pengolahan ayam yang terintegrasi di enam wilayah strategis. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Jawa Timur, Gorontalo, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB). Pemilihan lokasi ini tentu tidak dilakukan secara sembarang, melainkan berdasarkan potensi produksi dan kebutuhan distribusi pangan di masing-masing area agar lebih efisien dan merata.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Berdikari, mengungkapkan bahwa proyek ini telah melewati kajian studi kelayakan (feasibility study) yang sangat mendalam. Berdasarkan hasil kajian tersebut, Danantara menyepakati total alokasi anggaran fantastis yang mencapai Rp 16,7 triliun. Anggaran ini diproyeksikan akan terus dikucurkan secara bertahap hingga tahun 2036 mendatang.

Berita Lainnya

RUU PPRT Segera Disahkan: Menaker Yassierli Tegaskan Pekerja Rumah Tangga Kini Punya Hak Setara Buruh Formal

RUU PPRT Segera Disahkan: Menaker Yassierli Tegaskan Pekerja Rumah Tangga Kini Punya Hak Setara Buruh Formal

“Untuk tahap pertama ini, berdasarkan informasi yang kami terima, anggaran yang disetujui berada di kisaran Rp 5 triliun. Proses pencairannya sendiri akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan progres pembangunan dan kebutuhan di lapangan,” ujar Agung saat ditemui LajuBerita setelah seremoni penandatanganan nota kesepahaman yang berlangsung khidmat di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

Rincian Anggaran: Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan

Investasi yang dikelola oleh Danantara ini menandai era baru dalam manajemen investasi pemerintah di sektor riil. Dengan total komitmen mencapai belasan triliun rupiah, pemerintah ingin memastikan bahwa rantai pasok ayam nasional tidak lagi rentan terhadap fluktuasi harga dan kelangkaan stok. Hilirisasi menjadi kunci utama agar setiap bagian dari proses produksi—mulai dari pakan, pembibitan, penggemukan, hingga pengolahan produk turunan—dapat dikelola dalam satu sistem yang terpadu.

Berita Lainnya

IHSG Terjun Bebas ke Level 6.900: Badai Royalti Minerba dan Ketidakpastian Global Hantam Pasar Modal

IHSG Terjun Bebas ke Level 6.900: Badai Royalti Minerba dan Ketidakpastian Global Hantam Pasar Modal

Agung menjelaskan bahwa PT Berdikari sebagai ujung tombak pelaksana telah menyiapkan seluruh dokumen teknis dan data pendukung yang diperlukan. Persiapan ini sangat krusial untuk memastikan bahwa dana yang dikucurkan oleh Danantara (DAM) dapat terserap secara optimal dan tepat sasaran. Fokus utama saat ini adalah memfinalisasi kebutuhan tiap unit kerja agar proses eksekusi fisik dapat segera dimulai tanpa kendala administratif yang berarti.

Enam Wilayah Strategis sebagai Motor Penggerak

Penyebaran proyek di enam daerah berbeda menunjukkan keinginan pemerintah untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa. Jawa Timur dan Lampung mungkin sudah dikenal sebagai sentra peternakan, namun masuknya Gorontalo, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan NTB dalam peta hilirisasi ini memberikan sinyal kuat akan adanya pemerataan infrastruktur industri pangan.

Berita Lainnya

Terobosan Baru Bank Indonesia: Yuan Kini Jadi Pilihan Utama Penempatan Devisa Hasil Ekspor SDA, Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Terobosan Baru Bank Indonesia: Yuan Kini Jadi Pilihan Utama Penempatan Devisa Hasil Ekspor SDA, Kurangi Ketergantungan Dolar AS
  • Jawa Timur: Sebagai basis produksi terbesar, wilayah ini akan menjadi hub utama pengolahan produk turunan ayam.
  • Lampung: Menjadi pintu gerbang logistik pangan untuk wilayah Sumatera.
  • Sulawesi Selatan & Gorontalo: Difokuskan untuk memenuhi kebutuhan protein di wilayah Indonesia Timur.
  • Kalimantan Timur: Strategis dalam mendukung pemenuhan pangan bagi kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
  • Nusa Tenggara Barat: Mengembangkan potensi ekspor dan pasar pariwisata lokal.

Dengan adanya fasilitas pengolahan yang canggih di daerah-daerah tersebut, diharapkan harga ayam di tingkat konsumen akan lebih stabil, sementara pendapatan peternak lokal dapat meningkat karena terserap oleh industri pengolahan yang memiliki kapasitas besar.

Sinergi BUMN Pangan dan Persiapan Tahap Awal

Tak hanya melibatkan Danantara dan Kementan, proyek ambisius ini juga melibatkan sinergi antar BUMN Pangan. PT Berdikari telah mengusulkan kepada Induk Holding BUMN Pangan, yaitu PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food, untuk mendapatkan persetujuan penggunaan anggaran awal sebesar Rp 16,7 miliar. Anggaran ini bersifat mendesak karena akan digunakan untuk persiapan-persiapan teknis di lapangan sebelum konstruksi besar dimulai.

“Kami sudah bersurat secara resmi kepada PT RNI untuk meminta persetujuan penggunaan anggaran Rp 16,7 miliar tersebut. Dana ini sangat diperlukan untuk langkah-langkah awal seperti pemasangan bowplank, perencanaan detail arsitektur, hingga proses penunjukan vendor-vendor terkait,” tambah Agung. Ia menekankan bahwa kecepatan respons dari pihak holding sangat menentukan waktu dimulainya pembangunan fisik di lokasi proyek.

Memahami Konsep Hilirisasi: Lebih dari Sekadar Beternak

Banyak pihak mungkin bertanya, mengapa hilirisasi ayam begitu penting? Selama ini, sebagian besar peternak hanya fokus pada penjualan ayam hidup atau karkas sederhana. Melalui proyek yang didanai Danantara ini, industri akan diarahkan untuk menghasilkan produk olahan siap saji (ready-to-eat) dan siap masak (ready-to-cook) yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi di pasar domestik maupun internasional.

Konsep terintegrasi yang diusung berarti mencakup pembangunan pabrik pakan mandiri, fasilitas breeding yang modern, hingga rumah potong hewan unggas (RPHU) yang dilengkapi dengan teknologi pembekuan (cold storage) kapasitas besar. Hal ini sangat penting dalam upaya menekan angka inflasi yang seringkali dipicu oleh kenaikan harga daging ayam akibat rantai distribusi yang terlalu panjang dan sistem penyimpanan yang buruk.

Dengan adanya dukungan dari Danantara, hambatan finansial yang selama ini menghalangi modernisasi industri peternakan diharapkan dapat teratasi. Langkah ini juga menjadi bukti nyata bahwa pemerintah serius dalam menata ulang struktur ekonomi nasional, beralih dari ketergantungan pada komoditas mentah menuju industri manufaktur berbasis pertanian yang kokoh.

Menatap Masa Depan Kedaulatan Pangan

Pembangunan megaproyek ini diharapkan menjadi standar baru (benchmark) bagi sektor peternakan lainnya di Indonesia. Jika hilirisasi ayam ini sukses, bukan tidak mungkin skema serupa akan diterapkan pada komoditas lain seperti sapi, jagung, atau kedelai. Kehadiran Danantara sebagai institusi pengelola investasi strategis memberikan angin segar bagi para pelaku industri yang membutuhkan dukungan modal jangka panjang dengan visi pembangunan yang jelas.

Ke depan, tantangan terbesar terletak pada implementasi dan koordinasi di lapangan. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BUMN harus tetap terjaga agar kucuran dana Rp 5 triliun tahap awal ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kita semua berharap, melalui proyek hilirisasi terintegrasi ini, Indonesia tidak hanya mampu memberi makan rakyatnya dengan protein berkualitas, tetapi juga mampu berbicara banyak di kancah persaingan pangan global.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *