Jejak Kristal Putih di Pesisir Utara: Menilik Eksotisme dan Perjuangan Garam Palungan Desa Les

Reporter Nasional | LajuBerita
06 Jun 2026, 04:48 WIB
Jejak Kristal Putih di Pesisir Utara: Menilik Eksotisme dan Perjuangan Garam Palungan Desa Les

LajuBerita — Di balik hiruk-pikuk pariwisata Bali Selatan yang gemerlap, pesisir utara Pulau Dewata menyimpan sebuah harta karun tersembunyi yang lahir dari tetesan air laut dan keteguhan hati para petani. Tepatnya di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, sebuah tradisi turun-temurun tetap terjaga dengan gagah di tengah gempuran modernisasi industri. Di sini, kristal-kristal putih bukan sekadar bumbu dapur, melainkan simbol ketahanan ekonomi dan warisan leluhur yang dikenal dengan sebutan Garam Palungan.

Ladang-ladang garam di Desa Les menghampar luas di bibir pantai, menyuguhkan pemandangan kontras antara birunya laut dan putihnya kristal garam di bawah terik matahari. Berbeda dengan produksi garam industri yang masif, produksi garam di desa ini masih memegang teguh prinsip-prinsip tradisional yang sangat bergantung pada kemurnian air laut dan intensitas cahaya matahari. Hal inilah yang membuat kualitas garam dari Desa Les memiliki cita rasa yang khas dan tekstur yang lebih halus dibandingkan garam pada umumnya.

Berita Lainnya

Skandal Absensi Fiktif 3.000 ASN di Brebes: Wamendagri Tegaskan Ancaman Pemecatan Bagi Pelanggar Berat

Skandal Absensi Fiktif 3.000 ASN di Brebes: Wamendagri Tegaskan Ancaman Pemecatan Bagi Pelanggar Berat

Filosofi dan Keunikan Garam Palungan

Nama “Palungan” sendiri bukan tanpa makna. Istilah ini merujuk pada alat utama yang digunakan dalam proses kristalisasi garam, yaitu batang pohon kelapa yang dibelah dan dikeruk bagian tengahnya hingga membentuk menyerupai perahu atau palung kecil. Penggunaan kayu kelapa ini dipercaya memberikan pengaruh pada kualitas mineral garam yang dihasilkan. Di Desa Les, penggunaan palungan bukan sekadar teknis produksi, melainkan bagian dari identitas budaya yang menjadikan mereka salah satu pionir dalam pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal.

Garam ini kini telah dikenal luas tidak hanya di Bali, tetapi juga merambah ke pasar nasional melalui program Desa Sejahtera Astra. Melalui pendampingan yang intensif, para petani garam di Desa Les mulai menyadari bahwa produk mereka memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan manajemen yang profesional tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Berita Lainnya

Ekspansi Agresif! OCBC Indonesia Akuisisi Bisnis Wealth Management HSBC Senilai Rp 89,8 Triliun

Ekspansi Agresif! OCBC Indonesia Akuisisi Bisnis Wealth Management HSBC Senilai Rp 89,8 Triliun

Proses Alkimia Alam: Dari Air Laut Menjadi Kristal

Membuat garam palungan bukanlah pekerjaan instan yang bisa diselesaikan dalam hitungan jam. Mengutip catatan sejarah dan teknis dari Desa Les, proses ini diawali dengan pengambilan air laut murni yang kemudian disiramkan secara merata di atas petak-petak tanah yang telah disiapkan secara khusus. Tanah ini berfungsi sebagai media penguapan awal. Petani harus memastikan tanah tersebut memiliki kepadatan yang pas agar proses penyerapan air laut berlangsung sempurna di bawah cahaya matahari.

Setelah air laut menguap dan meninggalkan sisa-sisa mineral di tanah, tahap selanjutnya adalah penyaringan. Hasil kerikan tanah yang kaya akan konsentrat garam tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah berbentuk kerucut yang disebut kukusan. Di sinilah keunikan itu terlihat jelas: kukusan diletakkan di atas palungan dari batang pohon kelapa. Air hasil penyaringan yang sangat pekat akan menetes perlahan dan terkumpul di dalam palung kayu tersebut.

Berita Lainnya

Misi Diplomasi Energi: Prabowo Subianto Dijadwalkan Temui Putin, Masa Depan Kilang Tuban Jadi Taruhan

Misi Diplomasi Energi: Prabowo Subianto Dijadwalkan Temui Putin, Masa Depan Kilang Tuban Jadi Taruhan

Tahap akhir adalah proses penjemuran kembali. Air pekat di dalam palungan dibiarkan terpapar sinar matahari hingga perlahan-lahan mengkristal menjadi butiran garam putih bersih. “Seluruh proses ini benar-benar mengandalkan alam. Jika matahari terik, satu siklus panen bisa menghasilkan kurang lebih 25 kilogram garam berkualitas tinggi,” ungkap Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Dare, seorang penggerak atau Local Champion Desa Sejahtera Astra Les.

Sinergi Ekonomi: Peran BUMDes dan Dukungan Astra

Masalah klasik yang sering dihadapi petani tradisional adalah rantai distribusi yang panjang dan harga yang ditekan tengkulak. Namun, di Desa Les, narasi tersebut mulai berubah. Kehadiran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi angin segar bagi para petani. Pemasaran produk lokal kini dilakukan secara terintegrasi. Garam yang dihasilkan petani tidak lagi dijual curah dengan harga murah, melainkan dipasok ke BUMDes Les untuk dikemas secara premium.

Berita Lainnya

Transformasi Laut Indonesia: KKP Hibahkan Tiga Kapal Eks Pencuri Ikan untuk Kesejahteraan Nelayan Sulawesi Utara

Transformasi Laut Indonesia: KKP Hibahkan Tiga Kapal Eks Pencuri Ikan untuk Kesejahteraan Nelayan Sulawesi Utara

Dengan kemasan yang menarik dan informasi mengenai keunikan proses produksinya, Garam Palungan kini memiliki nilai tawar yang jauh lebih tinggi. Konsumen tidak hanya membeli garam, tetapi juga membeli cerita dan upaya pelestarian lingkungan di balik produk tersebut. Transformasi ini tidak lepas dari peran Astra melalui program Desa Sejahtera Astra yang memberikan pelatihan, peralatan, hingga akses pasar yang lebih luas.

Nyoman Nadiana berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan berkembang. “Astra sangat membantu dalam membuka jalan pemasaran bagi kami. Kami berharap ke depannya, Garam Desa Les bisa menjadi ikon kuliner dan oleh-oleh premium dari Buleleng yang dikenal hingga mancanegara,” tuturnya penuh optimisme saat ditemui di sela-sela kegiatannya di Desa Les.

Menjaga Tradisi di Tengah Tantangan Iklim

Meskipun memiliki potensi besar, industri garam tradisional di Buleleng Bali bukan tanpa tantangan. Perubahan iklim yang tidak menentu menjadi ancaman nyata bagi para petani. Hujan yang turun di luar musim dapat merusak seluruh proses penguapan dan mengakibatkan gagal panen. Oleh karena itu, inovasi dalam teknik penjemuran dan perlindungan ladang garam menjadi fokus utama pengembangan ke depan.

Selain itu, regenerasi petani garam juga menjadi perhatian penting. Don Dare dan tokoh masyarakat setempat terus berupaya mengajak generasi muda untuk melihat potensi ekonomi dari pengolahan garam ini. Dengan menyisipkan unsur teknologi dalam pemasaran dan branding, profesi petani garam kini mulai dipandang sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang membanggakan, bukan lagi pekerjaan yang dipandang sebelah mata.

Desa Les dengan garam palungannya adalah bukti nyata bahwa kemajuan zaman tidak harus menggilas tradisi. Justru dengan mempertahankan cara-cara lama yang ramah lingkungan dan menggabungkannya dengan strategi pemasaran modern, produk lokal mampu bersaing di pasar global. Garam Palungan bukan hanya sekadar kristal asin, ia adalah rasa dari perjuangan, kearifan, dan harapan masyarakat pesisir Buleleng untuk masa depan yang lebih sejahtera.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *