Badai PHK Hantam Depok: PT Xactie Indonesia Gulung Tikar, Ratusan Pekerja Terlempar ke Jurang Ketidakpastian

Reporter Nasional | LajuBerita
08 Jun 2026, 20:48 WIB
Badai PHK Hantam Depok: PT Xactie Indonesia Gulung Tikar, Ratusan Pekerja Terlempar ke Jurang Ketidakpastian

LajuBerita — Kabar duka kembali menyelimuti sektor industri tanah air, khususnya di jantung kota penyangga Jakarta. PT Xactie Indonesia, salah satu pilar industri di Depok, Jawa Barat, secara resmi menghentikan operasionalnya. Keputusan pahit ini memaksa sekitar 350 orang karyawan harus menelan pil pahit pemutusan hubungan kerja (PHK) setelah perusahaan menyatakan tidak lagi mampu membendung hantaman gelombang tekanan ekonomi dan lesunya pasar global yang kian tak menentu.

Gugurnya Industri di Depok: Ketika Prediksi Menjadi Kenyataan

Kabar mengenai tumbangnya PT Xactie Indonesia bukan sekadar isapan jempol atau rumor belaka. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, mengonfirmasi bahwa penutupan ini adalah realitas pahit yang sebelumnya telah diantisipasi. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman badai pemutusan hubungan kerja yang sempat disuarakan oleh para aktivis buruh kini mulai memakan korban di sektor formal.

Berita Lainnya

Ketegangan di Selat Hormuz: Kapal Tanker China Terpaksa Menyerah pada Blokade AS

Ketegangan di Selat Hormuz: Kapal Tanker China Terpaksa Menyerah pada Blokade AS

“Benar adanya, telah terjadi PHK terhadap kurang lebih 350 karyawan di PT Xactie Depok seiring dengan keputusan perusahaan untuk tutup permanen. Informasi ini kami himpun langsung dari akar rumput, dari kawan-kawan di lapangan, yang menunjukkan bahwa apa yang kami peringatkan sebelumnya bukanlah narasi untuk menakut-nakuti, melainkan sebuah realitas industri yang sedang sakit,” ujar Said Iqbal dengan nada prihatin saat memberikan keterangan kepada tim LajuBerita.

Meskipun harus kehilangan mata pencaharian, para pekerja setidaknya mendapatkan sedikit titik terang terkait hak-hak finansial mereka. Berdasarkan kesepakatan bersama, para buruh yang terdampak berhak mendapatkan nilai pesangon sebesar dua kali ketentuan yang tertuang dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Kompensasi ini mencakup uang penghargaan masa kerja serta penggantian hak yang telah disepakati untuk meminimalisir beban ekonomi para penyintas PHK di masa transisi ini.

Berita Lainnya

Gilimanuk Mulai Overload, Kemenhub Siapkan Celukan Bawang Sebagai Pelabuhan Alternatif di Bali

Gilimanuk Mulai Overload, Kemenhub Siapkan Celukan Bawang Sebagai Pelabuhan Alternatif di Bali

Biang Kerok di Balik Runtuhnya PT Xactie Indonesia

LajuBerita menelusuri lebih dalam mengenai faktor utama yang memaksa perusahaan berorientasi ekspor ini mengibarkan bendera putih. Said Iqbal menegaskan bahwa penyebab utamanya adalah konjungtur global yang sedang tidak berpihak pada pelaku usaha. Konflik geopolitik dan perang yang berkepanjangan di berbagai belahan dunia telah memicu disrupsi rantai pasok yang fatal.

“Perang yang tak kunjung usai menyebabkan harga bahan baku industri yang harus diimpor melonjak drastis, apalagi transaksinya menggunakan dolar AS yang nilai tukarnya sedang perkasa. Di sisi lain, ongkos logistik dan produksi meningkat tajam, sementara permintaan dari pasar ekspor justru melesu. Sebagai perusahaan yang sangat bergantung pada pasar mancanegara, PT Xactie kehilangan daya saing dan akhirnya terjepit di antara biaya tinggi dan pendapatan yang merosot,” jelasnya secara mendalam.

Berita Lainnya

Guncangan Krisis Energi: Strategi Berani PM Modi Ajak Rakyat India Perketat Ikat Pinggang demi Selamatkan Ekonomi

Guncangan Krisis Energi: Strategi Berani PM Modi Ajak Rakyat India Perketat Ikat Pinggang demi Selamatkan Ekonomi

Fenomena Gunung Es: Ancaman PHK di 10 Perusahaan Besar

Kejadian di Depok hanyalah pucuk dari gunung es yang lebih besar. Sejak awal April 2026, KSPI telah mengeluarkan alarm peringatan dini mengenai potensi efisiensi besar-besaran di 10 perusahaan manufaktur lainnya. Diperkirakan ada sekitar 9.000 pekerja yang saat ini berada di ambang ketidakpastian kerja. Industri manufaktur Indonesia tampaknya sedang menghadapi fase kritis yang membutuhkan perhatian serius dari pemangku kebijakan.

“Kami sudah diingatkan langsung oleh pihak manajemen di tingkat perusahaan bahwa situasi ini sangat genting. Sekarang, satu per satu mulai terbukti. Ini bukan sekadar asumsi di atas kertas, tapi kenyataan yang terjadi di lantai-lantai pabrik kita,” tutur Said Iqbal menekankan urgensi situasi saat ini.

Berita Lainnya

Tepis Isu Reshuffle, Istana Pastikan Purbaya Yudhi Sadewa Tetap Nakhodai Kementerian Keuangan

Tepis Isu Reshuffle, Istana Pastikan Purbaya Yudhi Sadewa Tetap Nakhodai Kementerian Keuangan

Efek Domino ke Berbagai Daerah Industri

Selain Depok, derap langkah PHK juga mulai terdengar kencang di wilayah Banten, Tangerang, hingga Serang. Sektor tekstil dan alas kaki menjadi yang paling terdampak. LajuBerita mencatat perusahaan-perusahaan ternama seperti PT Shewa, Luncheong, hingga PT PWI telah melakukan pengurangan ratusan pekerja. Bahkan raksasa industri seperti Nikomas pun tak luput dari badai ini dengan memangkas sekitar 279 posisi kerja.

Di Jawa Barat lainnya, tepatnya di Karawang, dilaporkan sebuah perusahaan telah menutup operasionalnya secara total, berdampak pada 295 pekerja. Tak hanya itu, disharmoni industrial dan langkah efisiensi juga memicu PHK terhadap ratusan buruh lainnya di wilayah tersebut. Sementara itu, di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo, CV Asri juga dilaporkan melakukan langkah serupa terhadap sekitar 200 pekerjanya.

Krisis di Sektor Otomotif dan Daya Beli Masyarakat

Gejala pelemahan ini tidak berhenti di industri ringan. Sektor otomotif beserta industri turunannya juga mulai merasakan hantaman. Harga jual kendaraan yang merangkak naik akibat mahalnya biaya produksi, berbenturan keras dengan daya beli masyarakat yang sedang menurun. Akibatnya, stok menumpuk dan efisiensi tenaga kerja menjadi jalan terakhir yang diambil manajemen.

“Daya beli masyarakat kita sedang tidak baik-baik saja. Ketika kebutuhan pokok naik, belanja barang sekunder seperti kendaraan tentu akan dipangkas oleh konsumen. Inilah yang membuat industri otomotif mulai melakukan langkah-langkah darurat, termasuk pengurangan karyawan,” tambah Said.

Upaya Mitigasi dan Harapan Relokasi Kerja

Menghadapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, KSPI menyatakan akan terus menjalin komunikasi intensif dengan Pemerintah dan DPR RI. Langkah-langkah mitigasi konkret sangat dinantikan agar jumlah pengangguran baru tidak meledak di sisa tahun ini. Keberadaan Satgas Mitigasi PHK yang dibentuk pemerintah diharapkan tidak hanya menjadi badan formalitas, tetapi mampu memberikan solusi nyata.

Salah satu solusi yang didorong adalah fasilitasi penempatan kerja baru atau relokasi bagi para korban PHK. “Kami mendorong agar para pekerja yang kehilangan pekerjaan bisa diserap oleh perusahaan lain yang mungkin masih memiliki ruang untuk tumbuh. Sebagai contoh, ada beberapa kasus di Tangerang di mana pekerja berhasil dialihkan ke pabrik baru di wilayah Brebes yang biaya operasionalnya lebih kompetitif,” pungkasnya menutup pembicaraan dengan LajuBerita.

Dengan kondisi ekonomi yang masih fluktuatif, masyarakat dan para pemangku kepentingan kini hanya bisa berharap agar badai ini segera berlalu dan stabilitas ekonomi nasional dapat kembali pulih, demi menjamin kesejahteraan jutaan buruh di seluruh pelosok negeri.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *