Jeritan Peternak Ayam Broiler: Harga Anjlok di Tengah Biaya Pakan yang Mencekik, Rugi Mencapai Ratusan Juta
LajuBerita — Dunia perunggasan tanah air tengah menghadapi badai yang tak kunjung reda. Para peternak ayam pedaging atau broiler di berbagai daerah kini berada dalam kondisi terjepit. Bagaimana tidak, harga jual ayam di tingkat kandang terjun bebas hingga menyentuh titik terendah, sementara biaya produksi justru terus merangkak naik. Kondisi ini membuat para peternak rakyat mandiri harus menelan pil pahit dengan kerugian yang mencapai angka ratusan juta rupiah.
Kesenjangan Harga yang Melukai Kantong Peternak
Berdasarkan laporan lapangan yang dihimpun tim redaksi, Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengungkapkan bahwa saat ini harga jual ayam di tingkat produsen masih tertahan di kisaran Rp 15.500 hingga Rp 16.000 per kilogram (kg). Angka ini sangat jauh dari harapan jika merujuk pada regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
Membelah Jantung Jawa: Menilik Progres Masif Tol Solo-Jogja Menuju Konektivitas Modern
Sesuai dengan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024, yang merupakan perubahan atas regulasi sebelumnya mengenai harga acuan pembelian, seharusnya harga ayam di tingkat peternak berada di angka Rp 25.000 per kg. Ketentuan ini dibuat untuk melindungi ekosistem pangan, mulai dari komoditas jagung, telur ayam ras, hingga daging ayam ras itu sendiri. Namun, fakta di lapangan berbicara lain; regulasi tersebut seolah kehilangan taringnya menghadapi dinamika pasar yang tidak berpihak pada peternak kecil.
Biaya Produksi yang Terus Membengkak
Penyebab utama dari kerugian massal ini bukan hanya karena rendahnya harga jual, tetapi juga dipicu oleh lonjakan Harga Pokok Produksi (HPP). Sepanjang tahun 2026, peternak dihadapkan pada kenaikan harga pakan ternak yang cukup signifikan, yakni berada di kisaran Rp 8.800 hingga Rp 9.400 per kg.
Langkah Berani Amerika: Ekspor Senjata Rp 149 Triliun ke Timur Tengah di Tengah Ketegangan Iran
Asep Saepudin, salah satu tokoh peternak dari Permindo, menjelaskan bahwa beban operasional semakin tidak masuk akal. Selain pakan, harga bibit ayam atau day old chick (DOC) juga tetap tinggi di angka Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per ekor. Dengan kalkulasi tersebut, HPP ayam broiler saat ini diperkirakan telah menyentuh angka Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kg ayam hidup (live bird).
“Harga masih tertahan di bawah. Jika memiliki populasi besar, kerugiannya bisa menembus ratusan juta rupiah. Bahkan untuk peternak dengan skala populasi kecil pun, kerugian tetap terasa di angka puluhan juta karena setiap kilogramnya kami merugi sekitar Rp 4.000 hingga Rp 5.000,” ungkap Asep dalam sebuah wawancara mendalam.
Dolar AS Tembus Rp 17.000, Menko Airlangga Hartarto Soroti Tekanan Mata Uang Global
Menghitung Kerugian Secara Naratif
Ketua Umum Permindo, Kusnan, menambahkan gambaran yang lebih detail mengenai krisis finansial ini. Menurutnya, peternak rakyat saat ini menanggung beban kerugian sekitar Rp 5.000 hingga Rp 7.000 untuk setiap kilogram ayam yang dipanen. Jika dikonversi ke satuan ekor dengan berat rata-rata 2 kilogram, maka setiap ekor ayam yang keluar dari kandang membawa kerugian Rp 10.000 hingga Rp 14.000 bagi pemiliknya.
Ini adalah situasi yang ironis. Di saat permintaan pasar akan protein hewani tetap ada, para pahlawan pangan ini justru harus “mensubsidi” konsumen dengan keringat dan modal mereka sendiri yang kian menipis. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan banyak peternak rakyat akan gulung tikar, yang pada akhirnya akan mengganggu stabilitas ketahanan pangan nasional di masa depan.
Badai Harga Minyak Hantam Sektor Konstruksi, GAPENSI Peringatkan Risiko Kebangkrutan Massal
Tujuh Tuntutan Peternak untuk Penyelamatan Sektor Perunggasan
Menghadapi situasi yang kian mendesak, para peternak yang tergabung dalam Permindo tidak tinggal diam. Mereka telah merumuskan tujuh poin tuntutan utama kepada pemerintah sebagai langkah darurat untuk menstabilkan harga dan menyelamatkan industri perunggasan rakyat:
1. Perluasan Akses ke Ritel Modern
Peternak mendesak pemerintah untuk membuka jalan bagi produk unggas rakyat agar bisa masuk ke jaringan ritel modern secara nasional. Hal ini mencakup ketersediaan ayam karkas segar, ayam beku, hingga telur di minimarket, supermarket, dan gerai pangan modern lainnya. Selama ini, akses pasar ini seringkali didominasi oleh perusahaan integrasi besar, sehingga peternak mandiri kesulitan mendapatkan pangsa pasar yang adil.
2. Program Penyerapan oleh BUMN Pangan
Sebagaimana pemerintah melalui Bulog menyerap gabah dari petani untuk menjaga stabilitas harga beras, mekanisme serupa sangat diharapkan hadir di sektor peternakan. BUMN Pangan diharapkan bertindak sebagai instrumen stabilisasi pasar yang menyerap pasokan ayam saat terjadi oversupply agar harga tidak jatuh di bawah HPP.
3. Integrasi dalam Program Makan Bergizi Gratis
Salah satu harapan besar peternak adalah keterlibatan produk mereka dalam program-program strategis pemerintah. Mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penanganan stunting, hingga bantuan sosial pangan. Dengan mengarahkan serapan ke institusi seperti sekolah, rumah sakit, asrama TNI/Polri, dan pesantren, maka permintaan akan terjaga secara berkelanjutan.
4. Penguatan Logistik dan Rantai Dingin (Cold Chain)
Masalah utama distribusi di Indonesia adalah infrastruktur. Peternak meminta pemerintah memperkuat dukungan logistik nasional, terutama pengembangan rantai dingin (cold chain) dan penambahan fasilitas cold storage di berbagai wilayah. Hal ini penting untuk mengatasi disparitas harga antarwilayah dan memperpanjang masa simpan produk.
5. Pemetaan Produksi Nasional yang Akurat
Saat ini, sekitar 70% populasi ayam nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, yang seringkali memicu kelebihan pasokan di satu titik namun kekurangan di tempat lain. Peternak meminta peta produksi dan kebutuhan nasional yang lebih presisi agar investasi baru dapat diarahkan ke wilayah luar Jawa yang masih memiliki ruang pertumbuhan konsumsi tinggi.
6. Pembentukan Cadangan Protein Hewani Nasional
Peternak mengusulkan pembentukan Cadangan Protein Hewani Nasional yang berbasis ayam dan telur. Konsepnya mirip dengan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Stok ini dapat digunakan saat kondisi darurat pangan atau untuk intervensi pasar ketika pasokan mengalami fluktuasi tajam.
7. Program “Ayam Rakyat Lawan Stunting”
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, peternak siap mendukung program nasional dalam memerangi stunting. Melalui penyaluran ayam rakyat kepada keluarga berisiko stunting dan ibu hamil, diharapkan masalah kekurangan gizi di Indonesia dapat teratasi sekaligus memberikan kepastian pasar bagi para peternak.
Visi Masa Depan Ketahanan Protein Nasional
Situasi yang dialami oleh para peternak ayam saat ini adalah pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan. Keberlanjutan usaha peternak rakyat mandiri adalah kunci dari kedaulatan pangan. Tanpa perlindungan yang nyata dari pemerintah, pasar yang bebas tanpa kendali hanya akan menggilas mereka yang bermodal kecil.
Diharapkan dengan langkah-langkah strategis yang diusulkan, sektor peternakan ayam broiler dapat kembali bangkit. Bukan hanya demi keuntungan peternak semata, melainkan demi memastikan setiap rakyat Indonesia mendapatkan akses protein hewani yang terjangkau dan berkualitas secara berkelanjutan.