Bantah Isu Melarikan Diri, Wamentan Sudaryono Buka Suara Soal Kericuhan Dialog di UGM: Kami Duduk Bersila di Aspal

Redaksi LajuBerita | LajuBerita
16 Jun 2026, 06:47 WIB
Bantah Isu Melarikan Diri, Wamentan Sudaryono Buka Suara Soal Kericuhan Dialog di UGM: Kami Duduk Bersila di Aspal

LajuBerita — Dinamika intelektual di lingkungan kampus sering kali memicu percikan diskusi yang panas, namun apa yang terjadi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) baru-baru ini melampaui sekadar adu argumen. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, akhirnya memberikan klarifikasi mendalam terkait spekulasi yang menyebut dirinya “kabur” saat forum dialog bersama mahasiswa berlangsung ricuh dan tidak kondusif pada Senin sore tersebut.

Kronologi Ketegangan di Jantung Kampus Biru

Kehadiran Sudaryono di Yogyakarta sebenarnya merupakan bagian dari agenda besar untuk menyerap aspirasi kaum intelektual muda. Tidak sendirian, ia didampingi oleh dua tokoh penting lainnya dalam kabinet, yakni Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko. Ketiganya datang dengan misi membawa narasi kebijakan pemerintah langsung ke hadapan para mahasiswa di Universitas Gadjah Mada.

Berita Lainnya

Strategi Besar Menuju Indonesia Emas 2045: BP BUMN Ungkap Tiga Fondasi Utama Transformasi Ekonomi

Strategi Besar Menuju Indonesia Emas 2045: BP BUMN Ungkap Tiga Fondasi Utama Transformasi Ekonomi

Acara yang awalnya dirancang sebagai ruang dialektika yang sehat ini sempat berjalan normal selama sekitar 30 hingga 40 menit pertama. Sudaryono menegaskan bahwa niat awal mereka adalah membuka diri terhadap segala bentuk kritik, bahkan jika kritik tersebut terasa pedas atau menyudutkan. Namun, situasi mulai bergeser ketika sekelompok peserta diduga mulai memaksakan kehendak agar forum dihentikan secara sepihak, meski banyak mahasiswa lain masih antusias untuk menyimak penjelasan para pejabat tersebut.

Bantahan Tegas Terhadap Isu ‘Kabur’

Menanggapi narasi yang beredar di media sosial bahwa dirinya meninggalkan lokasi karena takut menghadapi tekanan mahasiswa, Sudaryono memberikan pembelaan yang kuat. Ia menyatakan bahwa langkah keluar dari ruangan bukanlah bentuk pelarian, melainkan instruksi dari pihak keamanan demi menghindari ekskalasi kekerasan yang lebih buruk.

Berita Lainnya

Pengetatan Pengawasan Barang Mewah di Bandara Soetta: Bea Cukai Bongkar Sindikat Penyelundup Emas Batangan Senilai Rp45 Miliar

Pengetatan Pengawasan Barang Mewah di Bandara Soetta: Bea Cukai Bongkar Sindikat Penyelundup Emas Batangan Senilai Rp45 Miliar

“Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Ini bukan kegiatan mendadak, sudah direncanakan lama dan mendapat izin resmi. Jadi, kalau ada yang bilang kami kabur, itu sama sekali tidak tepat. Justru kami yang proaktif datang untuk menjemput aspirasi tersebut,” ungkap Sudaryono dalam keterangannya yang diterima redaksi LajuBerita.

Kondisi di lapangan saat itu digambarkan cukup mencekam. Sudaryono mengungkapkan adanya tindakan anarkis berupa pelemparan botol air mineral hingga dugaan kontak fisik. “Saya sendiri merasa ada yang memukul saya. Ada lemparan-lemparan air juga. Pihak keamanan menyarankan kami keluar karena situasi sudah benar-benar tidak kondusif lagi di dalam ruangan,” tambahnya menceritakan detik-detik menegangkan di GIK UGM.

Berita Lainnya

Membangun Masa Depan Birokrasi: Indonesia Gandeng Estonia Akselerasi Transformasi Pemerintahan Digital

Membangun Masa Depan Birokrasi: Indonesia Gandeng Estonia Akselerasi Transformasi Pemerintahan Digital

Momen Dramatis: Berdialog di Atas Aspal

Salah satu poin paling menarik dari klarifikasi Sudaryono adalah apa yang terjadi di luar gedung setelah mereka keluar. Meski sempat dicegat oleh massa mahasiswa saat hendak meninggalkan area dengan kendaraan, Sudaryono dan Nusron Wahid justru memilih untuk turun kembali dari mobil. Mereka tidak memilih untuk memacu kendaraan menjauh, melainkan memutuskan untuk duduk bersila di atas aspal jalanan kampus demi melanjutkan pembicaraan yang terputus.

Aksi duduk di aspal ini, menurut Sudaryono, adalah bukti nyata bahwa mereka tidak memiliki niat sedikit pun untuk menghindari mahasiswa. Di bawah terik matahari dan kepungan massa, dialog spontan terjadi. Isu-isu krusial seperti reformasi agraria, konflik pertanahan, hingga dugaan penggusuran dipertanyakan secara langsung oleh para aktivis kampus kepada Menteri Nusron dan dirinya.

Berita Lainnya

OJK Matangkan Rencana Pusat Data Asuransi Kesehatan: Langkah Strategis Menuju Transparansi dan Efisiensi Industri

OJK Matangkan Rencana Pusat Data Asuransi Kesehatan: Langkah Strategis Menuju Transparansi dan Efisiensi Industri

“Bahkan saat mobil kami dicegat, kami keluar lagi. Kami duduk bareng mereka di aspal. Kami ingin menunjukkan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sangat menghargai demokrasi dan keterbukaan. Jika ada yang keliru dalam kebijakan, kami siap verifikasi dan perbaiki,” tegas sosok yang akrab disapa Mas Dar ini.

Komitmen Pemerintah Terhadap Kritik dan Demokrasi

Kejadian di UGM ini menjadi potret betapa besarnya ekspektasi publik terhadap kebijakan sektor pangan dan pertanahan. Sebagai pejabat yang menangani ketahanan pangan, Sudaryono menyadari bahwa setiap kebijakan yang diambil pasti akan menuai pro dan kontra. Namun, ia menekankan bahwa perbedaan pendapat harus tetap berada dalam koridor saling menghargai.

“Demokrasi itu artinya orang boleh punya pendapat berbeda, tapi juga wajib menghargai pendapat orang lain yang tidak sama. Kami siap ‘diadili’ secara argumen, ditanya apa saja tidak masalah. Itu adalah bagian dari risiko jabatan dan bentuk pertanggungjawaban publik kami,” tuturnya diplomatis.

Lebih lanjut, ia menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada mayoritas mahasiswa UGM yang hadir dengan niat baik untuk belajar dan berdiskusi, namun harus terganggu oleh ulah segelintir oknum yang membuat suasana gaduh. Ia melihat banyak mahasiswa yang sebenarnya ingin mendengar paparan mengenai program strategis pemerintah, namun kesempatan itu hilang akibat keributan yang terjadi.

Siap Kembali untuk Sesi Lanjutan

Tidak ada rasa trauma bagi Sudaryono. Ia justru menantang kembali para mahasiswa untuk mengadakan dialog serupa di masa mendatang, baik di Yogyakarta maupun di Jakarta. Baginya, kampus adalah kawah candradimuka pemikiran yang harus terus dipupuk dengan diskusi-diskusi substansial.

Pemerintah saat ini memang tengah gencar melakukan sosialisasi terkait transformasi ekonomi dan penguatan sektor pertanian. Isu seperti bantuan pangan, harga telur yang fluktuatif, hingga swasembada susu menjadi perhatian serius Kementerian Pertanian. Melalui dialog seperti di UGM, pemerintah berharap bisa mendapatkan masukan segar dari perspektif akademisi dan mahasiswa.

Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan simpang siur mengenai insiden di UGM dapat terjawab. Sudaryono menutup keterangannya dengan menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk tetap membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi seluruh elemen masyarakat, demi membangun Indonesia yang lebih baik dan berdaulat secara pangan maupun hukum pertanahan.

  • Sudaryono menegaskan dirinya tidak melarikan diri dari forum dialog di UGM.
  • Situasi menjadi ricuh karena adanya aksi pelemparan botol dan tindakan fisik dari oknum tertentu.
  • Wamentan dan Menteri ATR/BPN sempat duduk lesehan di aspal untuk melanjutkan dialog dengan mahasiswa yang mencegat mobil mereka.
  • Pemerintah menyatakan tetap terbuka terhadap kritik sebagai bagian dari proses demokrasi yang sehat.

Ke depannya, LajuBerita akan terus mengawal perkembangan kebijakan di sektor pertanian dan pertanahan, terutama yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat luas dan keterlibatan kaum muda dalam pembangunan nasional.

Redaksi LajuBerita

Redaksi LajuBerita

Tim redaksi LajuBerita mengkurasi dan menulis berita terbaru dari berbagai sumber terpercaya di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *