Pertempuran Melawan Api Berakhir: BPBD Aceh Barat Nyatakan Seluruh Titik Karhutla Padam 100 Persen
LajuBerita — Kabar melegakan akhirnya datang dari bumi Teuku Umar. Setelah hampir dua pekan dikepung asap dan kobaran api yang melalap vegetasi lahan gambut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat secara resmi mengumumkan bahwa seluruh titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut telah berhasil dipadamkan sepenuhnya. Keberhasilan ini menandai berakhirnya operasi darurat yang melibatkan puluhan personel gabungan di lima kecamatan terdampak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal, dalam keterangan resminya kepada tim redaksi LajuBerita pada Jumat, menyatakan rasa syukurnya atas kerja keras seluruh tim di lapangan. Menurutnya, kegigihan petugas yang bertarung melawan panasnya bara di bawah permukaan gambut akhirnya membuahkan hasil maksimal. Kini, langit Aceh Barat yang sempat diselimuti jerebu mulai kembali cerah, membawa napas lega bagi warga sekitar yang terdampak paparan asap.
Ambisi Menpar Widiyanti di BBTF 2026: Membawa Pesona Nusantara Melampaui Batas Bali
Keberhasilan Operasi di Garis Depan Pemadaman
LajuBerita melaporkan bahwa operasi pemadaman ini bukanlah perkara mudah. Selama 14 hari terakhir, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, hingga relawan masyarakat harus berjibaku di medan yang sulit dijangkau. Berdasarkan data evaluasi akhir, total luas lahan yang terdampak karhutla aceh selama periode ini mencapai sekitar 34,1 hektare. Angka ini tersebar di beberapa titik krusial yang memiliki karakteristik lahan gambut dalam, yang secara teknis sangat sulit dipadamkan jika api sudah merambat ke bawah permukaan.
“Alhamdulillah, saat ini seluruh lokasi kebakaran lahan di Aceh Barat sudah padam 100 persen. Seluruh titik api yang sebelumnya terpantau melalui satelit maupun pantauan darat sudah berhasil dikendalikan secara total,” ujar Teuku Ronal dengan nada optimis. Ia menambahkan bahwa fokus utama tim selama beberapa hari terakhir adalah melakukan proses ‘mopping up’ atau pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api tersembunyi yang bisa memicu kebakaran susulan saat angin kencang bertiup.
Aturan Ketat Haji 2026: Arab Saudi Berlakukan Denda 20 Ribu Riyal dan Deportasi bagi Pelanggar Tanpa Izin Resmi
Peta Sebaran Lahan yang Berhasil Diselamatkan
Dalam catatan teknis BPBD Aceh Barat yang diterima LajuBerita, Kecamatan Bubon dan Samatiga tercatat sebagai wilayah dengan area terdampak paling luas. Kedua wilayah ini memang dikenal memiliki hamparan gambut yang cukup luas, yang ketika musim kemarau tiba, menjadi sangat rentan terhadap kebakaran lahan. Di Kecamatan Bubon sendiri, pemadaman difokuskan di Desa Berawang dengan luas mencapai 15 hektare dan Desa Kuta Padang Layung seluas 10 hektare.
Sementara itu, perjuangan tim di Kecamatan Samatiga membuahkan hasil di Desa Cot Seumeureung yang melahap area seluas empat hektare. Tak hanya di wilayah pelosok, ancaman api juga menyasar wilayah dekat pusat kota. Di Kecamatan Johan Pahlawan, petugas berhasil menjinakkan api di Desa Lapang seluas satu hektare dan Desa Seunebok seluas 0,5 hektare. Penanganan yang cepat di wilayah ini mencegah asap masuk ke pemukiman padat penduduk yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Persiapan Haji 2026 Kian Matang: DPR Puji Kelancaran Visa dan Komitmen Perbaikan Layanan Kemenhaj
Lebih lanjut, tim juga menyelesaikan misi di Kecamatan Meureubo, tepatnya di Desa Ujong Tanoh Darat dengan dua titik kebakaran seluas 1,6 hektare dan satu hektare. Terakhir, di wilayah pesisir utara kabupaten, lahan seluas satu hektare di Desa Gunong Pulo, Kecamatan Arongan Lambalek, juga dinyatakan telah steril dari asap dan api.
Tantangan di Balik Medan Gambut yang Sulit
Mengapa pemadaman di Aceh Barat memakan waktu hingga dua pekan? Investigasi LajuBerita menunjukkan bahwa mayoritas lahan yang terbakar adalah lahan gambut. Secara geologis, gambut bertindak seperti bahan bakar fosil yang tersimpan di bawah tanah. Meski permukaan terlihat sudah padam, api seringkali masih menjalar di kedalaman satu hingga dua meter. Hal inilah yang menuntut petugas untuk menyiramkan ribuan liter air hingga tanah benar-benar jenuh.
Misi Bayern Muenchen Menghapus Kutukan 25 Tahun di Santiago Bernabeu
Teuku Ronal menjelaskan bahwa Kecamatan Bubon dan Samatiga menjadi fokus utama karena kedalaman gambut di sana membuat durasi pemadaman menjadi lebih lama dibandingkan wilayah lain. Operasi intensif dilakukan dengan menggunakan mesin pompa air bertekanan tinggi dan bantuan dari berbagai pihak untuk memastikan air meresap hingga ke lapisan terdalam. Sinergi antara BPBD dengan instansi lain dalam mitigasi bencana menjadi kunci sukses dalam operasi kali ini.
Himbauan dan Pencegahan: Jangan Ada Lagi Api Baru
Meski kemenangan atas api sudah diraih, pihak otoritas Aceh Barat tidak ingin kecolongan lagi. Cuaca yang tidak menentu dan hembusan angin kencang di pesisir barat Aceh masih menyimpan potensi bahaya. BPBD Aceh Barat mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat, korporasi, maupun petani lokal agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar (slash and burn).
“Kami sangat berharap masyarakat ikut menjaga lingkungan. Pembukaan lahan dengan cara membakar adalah tindakan yang sangat berisiko dan melanggar hukum. Kami meminta warga segera melaporkan jika menemukan indikasi titik asap sekecil apa pun agar tim dapat bertindak sebelum api membesar,” tegas Ronal. Langkah preventif ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan harus melakukan pemadaman yang menguras energi dan anggaran daerah.
LajuBerita mengimbau para pembaca untuk terus mengikuti perkembangan informasi terkini mengenai lingkungan hidup dan kebencanaan di wilayah Aceh. Kesadaran kolektif adalah benteng pertahanan terbaik dalam menjaga kelestarian hutan dan mencegah bencana karhutla berulang di masa depan. Dengan padamnya seluruh titik api di Aceh Barat, diharapkan aktivitas warga dapat kembali normal tanpa bayang-bayang sesak napas akibat kabut asap.