Prabowo ‘Sentil’ Kritikus Makan Bergizi Gratis: Perut Lapar Tak Bisa Menunggu, Urusannya Nyawa!

Reporter Nasional | LajuBerita
24 Jun 2026, 12:47 WIB
Prabowo 'Sentil' Kritikus Makan Bergizi Gratis: Perut Lapar Tak Bisa Menunggu, Urusannya Nyawa!

LajuBerita — Di tengah teriknya matahari Gorontalo yang menyengat, sebuah narasi besar tentang masa depan ketahanan pangan Indonesia sedang ditenun. Presiden Prabowo Subianto, dalam kunjungannya pada acara Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII, melontarkan pernyataan tajam yang tidak hanya ditujukan kepada ribuan hadirin di lokasi, tetapi juga menjadi pesan ‘pedas’ bagi para pengkritik program unggulannya di ibu kota.

Momen Spontan di Gorontalo: Anak-Anak dan Spanduk Harapan

Suasana di GOR Gorontalo mendadak riuh saat Presiden Prabowo Subianto sedang menyampaikan pidatonya. Mata sang Presiden tertuju pada barisan anak-anak sekolah yang dengan antusias membentangkan spanduk bertuliskan ‘Indonesia Sehat Bersama MBG’. MBG sendiri merupakan akronim dari Makan Bergizi Gratis, sebuah kebijakan yang sejak awal masa kampanye hingga pelantikannya terus menjadi perdebatan hangat di ruang publik.

Berita Lainnya

Strategi Perum Bulog Perkuat Ketahanan Pangan: Mengusulkan Kembali Tunjangan Beras ASN, TNI, dan Polri di Tengah Stok Melimpah

Strategi Perum Bulog Perkuat Ketahanan Pangan: Mengusulkan Kembali Tunjangan Beras ASN, TNI, dan Polri di Tengah Stok Melimpah

Melihat pemandangan tersebut, Prabowo seolah mendapatkan amunisi segar untuk menjawab skeptisisme yang sering dialamatkan kepadanya. Ia menghentikan sejenak naskah formalnya dan beralih ke gaya bicara yang lebih emosional dan lugas. Baginya, dukungan dari akar rumput, terutama dari anak-anak, petani, dan nelayan, adalah jawaban paling valid atas kegaduhan intelektual yang terjadi di menara gading kekuasaan.

Menantang Kritikus Turun ke Lapangan

Dengan nada bicara yang tegas, Prabowo menyentil pihak-pihak yang hingga kini masih menyuarakan ketidaksetujuan terhadap program makan bergizi gratis. Ia tidak segan-segan mengajak para pengkritik tersebut untuk melihat realitas di lapangan secara langsung. Menurutnya, berdiskusi di ruangan ber-AC sangatlah berbeda dengan merasakan langsung kebutuhan rakyat di daerah.

Berita Lainnya

IHSG Terperosok ke Level 5.883: Badai Aksi Jual Paksa Pasar Modal Indonesia Memerah Pekat

IHSG Terperosok ke Level 5.883: Badai Aksi Jual Paksa Pasar Modal Indonesia Memerah Pekat

“Ada juga yang nggak setuju MBG. Harusnya mereka yang nggak setuju MBG datang ke sini, ya. Tanya itu petani, nelayan, MBG perlu atau tidak?” ujar Prabowo dalam siaran yang dipantau LajuBerita melalui kanal resmi Sekretariat Presiden. Pertanyaan retoris tersebut langsung disambut dengan sorakan setuju dari ribuan massa yang hadir, menciptakan atmosfer solidaritas antara pemimpin dan rakyatnya.

Prabowo kemudian melanjutkan dengan bertanya langsung kepada anak-anak sekolah yang hadir, “Tanya anak-anak, MBG perlu atau tidak?”. Jawaban serempak “Perlu!” yang menggema di seluruh ruangan seolah menjadi legitimasi sosial bagi kebijakan tersebut, melampaui segala bentuk perdebatan teknokratis di tingkat pusat mengenai anggaran negara.

Logika Perut Lapar vs Retorika Orang Pintar

Salah satu poin paling krusial dalam pidato Prabowo kali ini adalah kritikannya terhadap pandangan beberapa kalangan yang ia sebut sebagai ‘orang pintar’. Menurut Prabowo, ada pendapat yang menyatakan bahwa ada hal-hal yang jauh lebih mendesak dan genting dibandingkan sekadar memikirkan urusan perut rakyat. Pandangan ini, bagi Prabowo, adalah sebuah kekeliruan fatal yang mengabaikan aspek paling dasar dari kemanusiaan.

Berita Lainnya

Misi Hijau di Negeri Tirai Bambu: Indonesia Gandeng Raksasa Longi Demi Revolusi Energi Surya

Misi Hijau di Negeri Tirai Bambu: Indonesia Gandeng Raksasa Longi Demi Revolusi Energi Surya

“Katanya ada orang-orang pintar yang mengatakan ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira nggak ada lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau nggak segera diisi, ya dia mati!” tegasnya. Pernyataan ini menjadi pengingat keras bahwa dalam birokrasi dan politik, seringkali realitas biologis yang mendasar terlupakan oleh teori-teori pembangunan yang rumit.

Ia menekankan bahwa kesehatan anak dan asupan gizi bukan sekadar investasi jangka panjang, melainkan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda. Prabowo meyakini bahwa pondasi sebuah bangsa yang kuat dibangun dari rahim dan pertumbuhan anak-anak yang tercukupi gizinya, bukan sekadar angka-angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas.

Peringatan Global: Ancaman Kelaparan Masif Versi PBB

Untuk memperkuat argumennya, Prabowo membawa konteks global ke dalam panggung Gorontalo. Ia mengutip ramalan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan FAO (Food and Agriculture Organization) yang memberikan peringatan dini mengenai ancaman kelaparan masif di dunia tahun ini. Isu pangan bukan lagi sekadar isu domestik Indonesia, melainkan krisis global yang sedang mengintai.

Berita Lainnya

Sinyal Melandai di Tengah Tahun: Survei BI Soroti Penurunan Keyakinan Konsumen pada Penghasilan dan Lapangan Kerja

Sinyal Melandai di Tengah Tahun: Survei BI Soroti Penurunan Keyakinan Konsumen pada Penghasilan dan Lapangan Kerja

“PBB sudah meramalkan tahun ini kelaparan di dunia akan masif. Dua tahun yang lalu sekitar 300 juta orang kelaparan di dunia, diperkirakan sekarang sudah meningkat jadi 500 juta, bahkan 700 juta. FAO sudah memberi warning,” jelasnya dengan nada serius. Dengan angka tersebut, Prabowo ingin menunjukkan bahwa fokus pemerintahannya pada sektor pangan melalui MBG dan penguatan kedaulatan pangan adalah langkah antisipatif yang tepat.

Data tersebut digunakan untuk membungkam argumen bahwa Indonesia sedang ‘baik-baik saja’ sehingga tidak memerlukan program intervensi gizi skala besar. Bagi Prabowo, mengamankan stok pangan dan memastikan setiap anak Indonesia bisa makan dengan layak adalah strategi pertahanan negara yang paling utama di tengah ketidakpastian dunia.

Indonesia di Ambang Menjadi Penolong Dunia

Meskipun dunia dibayangi krisis, Prabowo tetap membawa optimisme bagi para petani dan nelayan. Ia mengklaim bahwa di tengah ancaman kelaparan global, Indonesia justru mulai menunjukkan taringnya di sektor ekspor pangan. Ia memuji kerja keras para pahlawan pangan yang selama ini berjuang di sawah dan lautan Indonesia.

“Saudara-saudara, alhamdulillah kita sekarang sudah mulai ekspor, kita sekarang bantu negara-negara lain, saudara-saudara sekalian,” tambahnya. Hal ini menjadi bukti bahwa visi kemandirian pangan yang ia usung bukan sekadar mimpi di siang bolong, melainkan proses yang sedang berjalan dan mulai membuahkan hasil.

Melalui program MBG, pemerintah berencana menyerap hasil produksi petani dan nelayan lokal untuk memenuhi kebutuhan makan bergizi bagi jutaan anak. Dengan demikian, program ini tidak hanya menyehatkan generasi mendatang, tetapi juga menghidupkan ekosistem ekonomi di desa-desa melalui pemberdayaan petani dan nelayan secara langsung.

Kesimpulan: Gizi Sebagai Harga Mati

Pidato Prabowo di Gorontalo ini mengirimkan sinyal kuat bahwa ia tidak akan mundur sedikitpun dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis. Baginya, urusan mengisi perut rakyat adalah urusan hidup dan mati negara. Perdebatan mengenai efektivitas dan anggaran memang akan terus ada, namun bagi sang Presiden, realitas di lapangan—di mana anak-anak tersenyum dengan harapan gizi yang lebih baik—adalah kompas utama kebijakan pemerintahannya.

Kini, publik tinggal menunggu bagaimana implementasi skala penuh dari program ambisius ini akan berjalan. Namun satu hal yang pasti, Prabowo telah menetapkan standar baru: bahwa dalam urusan kesejahteraan, suara mereka yang lapar jauh lebih nyaring daripada teori mereka yang kenyang.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *