Harta Karun Peradaban: Lestari Moerdijat Desak Perpusnas Optimalkan Naskah Kuno untuk Literasi Bangsa
LajuBerita — Warisan intelektual Nusantara yang tersimpan dalam lembaran-lembaran naskah kuno seharusnya tidak sekadar menjadi penghuni rak perpustakaan yang sunyi. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, melayangkan dorongan kuat kepada Perpustakaan Nasional (Perpusnas) untuk melangkah lebih jauh dari sekadar fungsi konservasi. Baginya, ribuan naskah tersebut merupakan instrumen vital untuk mendongkrak indeks literasi nasional yang saat ini masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia.
Bukan Sekadar Digitalisasi, Tapi Pemanfaatan Nyata
Lestari, yang akrab disapa Rerie, menekankan bahwa teknologi digitalisasi seharusnya menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengakses ilmu pengetahuan masa lalu, bukan tujuan akhir. Dalam keterangannya di Jakarta, ia menyoroti bagaimana potensi besar Perpusnas harus dikonversi menjadi gerakan minat baca yang masif.
Strategi Besar Rudy Susmanto: PSEL Galuga Siap Sulap Masalah Sampah Bogor Jadi Energi dalam 10 Tahun
“Potensi yang dimiliki Perpusnas harus mampu ikut mendorong minat baca masyarakat. Naskah yang sudah didigitalisasi jangan hanya disimpan sebagai arsip bisu. Pemanfaatan secara maksimal harus segera direalisasikan agar dampak edukasinya terasa langsung oleh publik,” ujar Rerie dengan tegas.
Ironi Koleksi: Antara Target dan Realitas Anggaran
Berdasarkan data internal Perpusnas tahun 2026, tercatat kekayaan intelektual bangsa dalam bentuk naskah nusantara mencapai angka yang fantastis, yakni 143.259 eksemplar yang tersebar di dalam maupun luar negeri. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak mudah. Saat ini, baru sekitar 13.318 naskah yang berhasil diamankan di bawah atap Perpusnas.
Dari jumlah yang tersimpan tersebut, baru 7.987 naskah yang telah beralih rupa ke format digital. Mirisnya, kendala efisiensi anggaran memaksa pemerintah untuk memangkas target penyelamatan naskah secara drastis, dari yang semula direncanakan sebanyak 10.300 naskah, kini hanya menjadi 2.165 naskah saja.
BMKG Jatim Pantau Ketat Munculnya El Nino, Waspada Potensi Kemarau Panjang Hingga Tahun Depan
Merawat Akal Budi Bangsa
Bagi Rerie, setiap naskah kuno adalah bukti otentik dari tradisi intelektual bangsa yang sangat luhur. Ia memandang bahwa kearifan lokal yang terkandung di dalam teks-teks tua tersebut masih sangat relevan untuk menjadi fondasi pembangunan karakter di masa depan. Oleh karena itu, sekadar menyelamatkan naskah secara fisik dianggap tidak cukup.
“Merawat naskah berarti merawat akal budi bangsa. Kita tidak boleh membiarkan upaya penyelamatan ini terjebak dalam langkah administratif semata. Intinya adalah bagaimana masyarakat mendapatkan kemudahan akses untuk mempelajari nilai-nilai luhur dari naskah-naskah tersebut,” tambahnya.
Layanan Literasi yang Harus Konsisten
Di tengah situasi efisiensi anggaran, Rerie berharap Perpusnas tetap konsisten dalam menghadirkan layanan literasi yang berkualitas. Aksesibilitas naskah kuno yang lebih terbuka dipercaya akan menjadi katalisator bagi peningkatan kecakapan literasi masyarakat secara menyeluruh.
Sinergi Strategis BSI dan ANTAM: Revolusi Investasi Emas Melalui Penguatan Ekosistem Bullion Bank
Dengan mengintegrasikan nilai-nilai sejarah ke dalam pendidikan modern, naskah kuno diharapkan tidak lagi dianggap sebagai benda antik yang asing, melainkan sebagai sumber inspirasi hidup yang mampu membawa bangsa Indonesia menjadi lebih bermartabat di mata dunia.