Trump Ultimatum China: Tarif 50% Menanti Jika Beijing Nekat Pasok Senjata ke Iran

Reporter Nasional | LajuBerita
15 Apr 2026, 07:16 WIB
Trump Ultimatum China: Tarif 50% Menanti Jika Beijing Nekat Pasok Senjata ke Iran

LajuBerita — Ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing kini memasuki babak baru yang lebih panas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini melontarkan ancaman ekonomi tingkat tinggi yang menargetkan China. Trump menegaskan bahwa pihaknya siap memberlakukan tarif sebesar 50 persen terhadap produk-produk asal Negeri Tirai Bambu tersebut jika terbukti membantu memperkuat militer Iran.

Ancaman keras ini dipicu oleh munculnya laporan intelijen yang mengindikasikan bahwa Beijing tengah mempertimbangkan pengiriman sistem pertahanan udara canggih ke Teheran. Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari CNBC, Trump menyebut angka 50 persen tersebut sebagai nilai yang mengejutkan dan merupakan konsekuensi logis jika kebijakan luar negeri China dianggap mengancam kepentingan AS.

Berita Lainnya

Strategi Cerdas Mengatur Arus Kas Bulanan Agar Bebas Boncos dengan GoPay Later

Strategi Cerdas Mengatur Arus Kas Bulanan Agar Bebas Boncos dengan GoPay Later

Laporan Intelijen dan Keraguan Trump

Isu ini pertama kali mencuat setelah laporan internal intelijen AS, sebagaimana dirilis CNN, mendeteksi adanya potensi pengiriman sistem pertahanan udara portabel atau MANPADS (Man-Portable Air-Defense Systems) dari China menuju Iran. Meski ancaman sudah dilontarkan, Trump secara terbuka menyatakan masih meragukan akurasi penuh dari laporan tersebut.

“Laporan tersebut belum berarti banyak bagi saya karena bisa saja itu informasi yang keliru,” ujar Trump. Namun, ia memastikan bahwa pengawasan ketat terhadap setiap pergerakan logistik militer di kawasan Timur Tengah akan terus dilakukan. Jika bukti valid ditemukan, maka perang dagang jilid baru dengan tarif yang mencekik dipastikan akan pecah.

Berita Lainnya

Diplomasi Global: Xi Jinping Desak MBS Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka demi Stabilitas Dunia

Diplomasi Global: Xi Jinping Desak MBS Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka demi Stabilitas Dunia

Posisi China di Tengah Pusaran Konflik

Di sisi lain, Beijing melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, memilih untuk bersikap diplomatis. Ia menegaskan bahwa China selama ini selalu mendorong dialog damai dan tidak mengonfirmasi peran mereka sebagai mediator militer maupun pemasok senjata. Spekulasi mengenai peran China memang menguat setelah laporan The New York Times menyebutkan adanya upaya Beijing menekan Teheran agar menyepakati gencatan senjata dengan AS demi menjaga stabilitas ekonomi global.

Dylan Loh, seorang pengamat kebijakan global dari Nanyang Technological University, menilai bahwa China saat ini sedang bermain sangat cantik dan berhati-hati. Menurutnya, keterlibatan China dalam konflik ini kemungkinan besar bersifat selektif. Beijing hanya akan bertindak proaktif jika melihat ada peluang besar untuk memperkuat pengaruhnya secara strategis tanpa harus merusak jalur perdagangan utama mereka.

Berita Lainnya

Langkah Strategis Adaro Andalan (AADI): Siapkan Dana Jumbo Rp 5 Triliun demi Buyback Saham

Langkah Strategis Adaro Andalan (AADI): Siapkan Dana Jumbo Rp 5 Triliun demi Buyback Saham

Ketergantungan Energi dan Risiko Ekonomi

Dukungan China terhadap Iran, jika memang ada, dinilai lebih banyak didorong oleh motif ekonomi ketimbang ideologi militer. Sebagai negara importir energi terbesar, China sangat bergantung pada kelancaran arus perdagangan di Selat Hormuz.

Zongyuan Zoe Liu, peneliti senior dari Council on Foreign Relations, memberikan catatan penting bahwa ekonomi Beijing sangat rentan terhadap gangguan logistik laut. “Ekonomi mereka bergantung pada ekspor melalui jalur laut. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik akan menjadi mimpi buruk bagi stabilitas perdagangan internasional China,” jelasnya.

Hingga saat ini, belum ada bukti fisik atau laporan resmi mengenai aliran dana maupun bantuan militer langsung dari China ke Iran. Namun, dengan ancaman tarif 50 persen dari Trump, dunia kini menanti apakah China akan tetap pada jalur diplomasi netral atau justru mengambil risiko besar demi memperkuat aliansinya di Timur Tengah.

Berita Lainnya

Menkeu Purbaya Matangkan Rencana Pajak Toko Online di Pertengahan 2026 demi Keadilan Pasar

Menkeu Purbaya Matangkan Rencana Pajak Toko Online di Pertengahan 2026 demi Keadilan Pasar
Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *