China Kecam Keras Blokade AS di Selat Hormuz: Langkah Berbahaya yang Mengancam Ekonomi Global

Reporter Nasional | LajuBerita
15 Apr 2026, 09:17 WIB
China Kecam Keras Blokade AS di Selat Hormuz: Langkah Berbahaya yang Mengancam Ekonomi Global

LajuBerita — Hubungan diplomatik antara Beijing dan Washington kembali memanas menyusul kritik tajam yang dilayangkan pemerintah China terhadap aksi militer Amerika Serikat (AS) di kawasan strategis Selat Hormuz. Beijing menilai langkah Negeri Paman Sam yang melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju maupun berasal dari pelabuhan Iran sebagai tindakan provokatif, berbahaya, dan jauh dari prinsip tanggung jawab internasional.

Kementerian Luar Negeri China secara tegas menyatakan bahwa intervensi sepihak di jalur pelayaran vital tersebut hanya akan memperburuk eskalasi ketegangan global di Timur Tengah. Langkah agresif ini dianggap sebagai ancaman serius yang dapat meruntuhkan fondasi gencatan senjata yang selama ini diupayakan dengan susah payah.

Berita Lainnya

Klarifikasi Bos Badan Gizi Nasional Terkait Anggaran EO Rp 113 Miliar: Langkah Strategis Demi Keamanan Pangan

Klarifikasi Bos Badan Gizi Nasional Terkait Anggaran EO Rp 113 Miliar: Langkah Strategis Demi Keamanan Pangan

Visi Perdamaian di Tengah Konflik

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menekankan bahwa stabilitas di kawasan tersebut tidak dapat dicapai melalui tekanan militer, melainkan melalui dialog. Menurut Jiakun, hanya gencatan senjata yang menyeluruh dan komprehensif yang mampu meredakan situasi yang kian mendidih di perairan tersebut.

“China sangat meyakini bahwa penghentian perang secara total adalah kunci utama untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi stabilitas selat,” ujar Jiakun dalam pernyataan resminya. Ia juga membantah keras tudingan yang menyebutkan bahwa Beijing memasok persenjataan ke Teheran, dan menyebut laporan tersebut sebagai spekulasi yang tidak berdasar.

Dampak Ekonomi dan Ketergantungan Energi

Sebagai importir utama minyak mentah dari Iran, China memiliki kepentingan nasional yang sangat besar agar jalur perdagangan di Selat Hormuz tetap terbuka. Blokade yang dilakukan militer AS secara langsung mengancam rantai pasok energi mereka, yang pada gilirannya berpotensi memberikan guncangan hebat bagi ekonomi China yang tengah berupaya stabil.

Berita Lainnya

Badai PHK Menghantam Toba Pulp Lestari: Dampak Pencabutan Izin Akibat Krisis Ekologis di Sumatera

Badai PHK Menghantam Toba Pulp Lestari: Dampak Pencabutan Izin Akibat Krisis Ekologis di Sumatera

Aksi blokade ini mulai diintensifkan oleh militer Amerika Serikat sejak awal pekan ini, dengan tujuan menekan Iran agar membuka akses selat secara luas sesuai tuntutan Washington. Padahal, sebelumnya sempat ada harapan akan perdamaian setelah kesepakatan jeda permusuhan pada 7 April lalu, namun pembicaraan di Islamabad yang berakhir buntu justru memicu eskalasi baru.

Reaksi Pasar Minyak Dunia

Di tengah carut-marut situasi geopolitik ini, pasar energi internasional menunjukkan volatilitas yang menarik. Meski ada ancaman blokade, harga minyak justru terpantau mengalami koreksi tipis di bawah angka US$ 100 per barel. Hal ini dipicu oleh harapan para pelaku pasar akan adanya resolusi diplomasi internasional untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama enam minggu tersebut.

Berita Lainnya

13 SPBU Pertamina Berhenti Jual Pertalite, Simak Alasan di Balik Transformasi Menuju SPBU Signature

13 SPBU Pertamina Berhenti Jual Pertalite, Simak Alasan di Balik Transformasi Menuju SPBU Signature

Data perdagangan menunjukkan minyak mentah Brent sempat terkoreksi sekitar 1% ke level US$ 98,44 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei juga mengalami penurunan sebesar 2,6% ke angka US$ 96,48 per barel. Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa harga dapat kembali melonjak sewaktu-waktu jika gesekan fisik di Selat Hormuz benar-benar terjadi.

LajuBerita akan terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah, di mana tarik-ulur antara kekuatan besar dunia ini tidak hanya mempertaruhkan stabilitas keamanan, tetapi juga kelangsungan ekonomi global di masa depan.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *