Ketegangan Memuncak, Trump Ancam Pecat Jerome Powell dari Pimpinan The Fed
LajuBerita — Pusaran konflik antara Gedung Putih dan otoritas moneter tertinggi Amerika Serikat kini memasuki babak baru yang kian panas. Presiden Donald Trump secara terang-terangan melayangkan ancaman untuk memecat Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, apabila sosok yang kerap berseberangan dengannya itu menolak untuk meletakkan jabatan pada saat masa baktinya berakhir di Mei 2026 mendatang.
“Jika dia tetap bertahan, maka saya terpaksa harus memecatnya,” tegas Trump dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari laporan CNN pada Kamis (16/4/2026). Pernyataan ini seolah menjadi genderang perang terbuka yang kembali ditabuh Trump terhadap kepemimpinan Powell di bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut.
Skandal Renovasi dan Investigasi Kriminal
Situasi Jerome Powell saat ini memang sedang berada di ujung tanduk. Alih-alih mengakhiri masa jabatan dengan tenang, ia justru terjebak dalam pusaran investigasi kriminal. Departemen Kehakiman AS telah melayangkan surat panggilan terkait dugaan pemberian keterangan palsu di hadapan Kongres. Inti permasalahannya terletak pada proyek renovasi kantor pusat The Fed yang menelan biaya fantastis mencapai US$ 2,5 miliar atau setara Rp 40 triliun lebih.
Wapres Gibran Bongkar Praktik Manipulasi Harga Ekspor-Impor: 4 Sektor Ini Jadi Sasaran Empuk
LajuBerita mencatat bahwa pembengkakan anggaran proyek tersebut menjadi senjata utama pemerintahan Trump untuk menguliti kredibilitas Powell. Investigasi ini bahkan telah memicu kebuntuan politik di tingkat senat. Senator Republik dari Carolina Utara, Thom Tillis, menyatakan sikap tegasnya untuk tidak akan memberikan suara bagi calon ketua baru sampai penyelidikan terhadap Powell tuntas sepenuhnya.
Manuver Kevin Warsh dan Blokade Hukum
Sebagai langkah antisipasi, Trump sebenarnya telah mengusung nama mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, sejak Januari 2026 sebagai suksesor potensial. Namun, jalan menuju transisi kepemimpinan ini tidaklah mulus. Ekonomi Amerika Serikat kini dibayangi oleh ketidakpastian hukum yang bisa memperpanjang masa jabatan Powell jika proses nominasi Warsh terus tertunda oleh komplikasi hukum di Senat.
Eksodus Modal Asing: IHSG Terkapar di Level 7.129, Saham Perbankan Raksasa Jadi Korban Aksi Jual
Ketegangan fisik bahkan sempat pecah di lapangan. Pada Selasa (14/4), dua jaksa dari kantor Kejaksaan Distrik Columbia yang dipimpin oleh Jeanine Pirro melakukan kunjungan mendadak ke markas besar The Fed. Niat mereka untuk memeriksa langsung progres renovasi yang dianggap bermasalah itu justru berujung pada penolakan keras dari pihak keamanan gedung.
“Setiap proyek konstruksi yang mengalami lonjakan biaya hingga 80% dari anggaran awal sangat layak untuk mendapatkan audit dan tinjauan serius,” ungkap Pirro dalam keterangan resminya. Di sisi lain, Robert Hur selaku pengacara yang mewakili pihak The Fed, memperingatkan para jaksa agar tidak kembali menginjakkan kaki di gedung tersebut tanpa didampingi tim hukum bank sentral.
Badai di Selat Hormuz: Laba Raksasa Migas Exxon dan Chevron Rontok Akibat Perang Iran
Independensi Bank Sentral di Titik Nadir
Insiden penolakan jaksa dan ancaman pemecatan langsung dari Presiden ini menciptakan atmosfer ketegangan yang luar biasa dalam sejarah birokrasi AS. Banyak pengamat yang menilai bahwa langkah agresif Trump ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan ancaman nyata terhadap kebijakan moneter yang independen.
Jika Trump benar-benar mengeksekusi ancamannya untuk memecat Powell sebelum masa jabatannya usai secara konstitusional, hal ini diprediksi akan memicu guncangan hebat di pasar finansial global dan menciptakan preseden buruk bagi independensi lembaga keuangan negara di masa depan.