Prabowo Sentil Fenomena ‘Penonton’ Pembangunan: Tak Mau Bantu Bangun Jembatan, Tapi Hobi Mengkritik

Redaksi LajuBerita | LajuBerita
08 Apr 2026, 16:49 WIB
Prabowo Sentil Fenomena 'Penonton' Pembangunan: Tak Mau Bantu Bangun Jembatan, Tapi Hobi Mengkritik

LajuBerita — Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan reflektif sekaligus menggelitik mengenai dinamika sosial di Indonesia saat ini. Di tengah semangat kolaborasi yang diusung Kabinet Merah Putih, Kepala Negara menyoroti adanya fenomena kelompok masyarakat tertentu yang enggan mengulurkan tangan untuk bekerja sama, namun tetap gencar melontarkan kritik terhadap upaya pembangunan yang tengah berjalan.

Dalam taklimat resmi pada rapat kerja pemerintah di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10), Prabowo menggambarkan situasi tersebut dengan sebuah analogi sederhana namun mendalam: pembangunan sebuah jembatan di sebuah desa.

Filosofi Jembatan: Antara Gotong Royong dan Kritik Tanpa Aksi

Presiden menceritakan sebuah skenario di mana sebagian besar warga desa bersepakat untuk bahu-membahu membangun jembatan demi kepentingan bersama. Namun, di tengah peluh keringat warga yang bekerja, selalu ada segelintir pihak yang memilih untuk sekadar menjadi penonton dan menarik diri dari lingkaran kerja sama.

Berita Lainnya

Fondasi Hijau Ibu Kota Nusantara: Mengukuhkan Visi Kota Hutan Lewat Rehabilitasi dan Sinergi Lintas Sektor

“Boleh kritik, boleh. Hanya saya juga tidak mengerti kalau orang mau bangun jembatan, dia duduk saja, tidak mau ikut membangun, tapi dia mengkritik,” tutur Prabowo Subianto dengan nada heran namun tenang.

Meski begitu, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak mempermasalahkan pilihan sikap tersebut secara personal. Baginya, penghormatan terhadap perbedaan sikap tetap harus dijunjung tinggi dalam koridor demokrasi. Namun, fokus utama pemerintah tetaplah pada hasil nyata untuk rakyat, bukan pada kebisingan kritik dari mereka yang tidak terlibat langsung dalam pembangunan nasional.

Belajar dari Luka Sejarah dan Realitas Sifat Manusiawi

Lebih jauh, Presiden mengaitkan fenomena ketidakmauan bekerja sama ini dengan catatan kelam sejarah panjang bangsa. Ia mengingatkan bahwa di masa penjajahan, perjuangan bangsa sering kali terhambat oleh saudara sebangsa sendiri yang justru mempermudah pihak asing untuk mengeksploitasi kekayaan Nusantara.

Berita Lainnya

Polemik ‘Passportgate’ Berakhir, PSSI Pastikan Status Felicia de Zeeuw Aman dan Siap Tempur

Polemik ‘Passportgate’ Berakhir, PSSI Pastikan Status Felicia de Zeeuw Aman dan Siap Tempur

Menurutnya, fenomena ini bukanlah hal baru dan tidak hanya terjadi di Indonesia. Prabowo memandangnya sebagai bagian dari spektrum psikologis manusia yang mencakup sisi-sisi emosional seperti rasa dengki, iri hati, hingga dendam. Hal ini, menurutnya, tidak perlu disikapi dengan reaksi berlebihan atau rasa kaget.

“Ini biasa, bibit-bibit dengki, iri, sirik itu bagian dari manusia. Kebencian dan dendam memang ada, kita tidak boleh kaget,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya bagi jajaran menteri dan pejabat negara untuk tetap konsisten pada tujuan besar menjaga persatuan bangsa serta memenuhi kebutuhan hidup rakyat banyak.

Pesan ini seolah menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat bahwa di tengah ancaman global seperti krisis pangan dan energi, sinergi kolektif jauh lebih bermakna daripada sekadar retorika tanpa tindakan nyata. Pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan ‘pembangunan jembatan’ bagi rakyat, terlepas dari siapa pun yang memilih untuk sekadar duduk di pinggir jalan dan mencela.

Berita Lainnya

Federico Barba Kobarkan Semangat Juara: Setiap Laga Persib Kini Adalah Final

Federico Barba Kobarkan Semangat Juara: Setiap Laga Persib Kini Adalah Final
Redaksi LajuBerita

Redaksi LajuBerita

Tim redaksi LajuBerita mengkurasi dan menulis berita terbaru dari berbagai sumber terpercaya di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *