Gibran Rakabuming Soroti Kebocoran Triliunan Rupiah Lewat Manipulasi Invoice Ekspor-Impor
LajuBerita — Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, baru saja menyingkap tabir gelap yang selama ini menghantui sektor perdagangan internasional Indonesia. Dalam sebuah pernyataan tegas, ia menyoroti praktik manipulasi faktur perdagangan atau trade misinvoicing yang disinyalir menjadi saluran utama raibnya kekayaan bangsa ke luar negeri dalam skala yang sangat masif.
Gibran menggambarkan fenomena ini sebagai ‘gelombang tersembunyi’ yang bergerak di bawah permukaan arus besar perdagangan global. Menurutnya, praktik ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan sebuah ancaman nyata terhadap keadilan ekonomi yang menguras modal nasional tanpa terdeteksi secara kasat mata.
Modus Operandi: Permainan Angka di Balik Layar
Dalam penjelasannya yang diunggah melalui kanal YouTube Sekretariat Wakil Presiden, Gibran membedah bagaimana para oknum ‘memoles’ harga transaksi agar tidak sesuai dengan realitas lapangan. Ada dua modus utama yang diidentifikasi: under-invoicing (melaporkan harga lebih rendah) dan over-invoicing (melaporkan harga jauh di atas nilai aslinya).
Langkah Tegas BEI: 18 Emiten Resmi Delisting per November 2026, Sritex Masuk Daftar
“Ini adalah praktik yang sengaja disembunyikan di balik angka-angka ekspor-impor. Dampaknya sangat fatal karena menciptakan celah bagi peredaran dana gelap dan pelarian modal ke luar negeri,” tegas Gibran. Data yang dipaparkan pun cukup mencengangkan. Sepanjang periode 2014 hingga 2023, diperkirakan nilai under-invoicing ekspor mencapai angka fantastis, yakni US$ 401 miliar atau sekitar US$ 40 miliar per tahun. Sementara itu, over-invoicing mencatatkan angka US$ 252 miliar, setara dengan US$ 25 miliar tiap tahunnya.
Sektor Paling Rawan Manipulasi
LajuBerita mencatat ada empat sektor komoditas yang disebut sang Wakil Presiden paling rentan terhadap praktik manipulasi harga ini. Sektor-sektor tersebut meliputi perdagangan limbah, logam terlapis, logam mulia seperti emas, hingga perangkat teknologi populer seperti smartphone.
Serbu Transmart Full Day Sale: Aneka Sepeda Keren Kini Dibanderol Cuma Sejutaan!
Karakteristik barang-barang ini yang memiliki nilai tinggi namun volume yang bervariasi menjadikannya target empuk bagi pelaku usaha nakal untuk mengelabui petugas bea cukai dan otoritas pajak.
Empat Kerugian Besar Bagi Indonesia
Gibran menekankan bahwa praktik ilegal ini membawa efek domino yang merugikan kedaulatan ekonomi Indonesia dalam empat aspek krusial:
- Hilangnya Penerimaan Negara: Mengecilkan nilai transaksi berarti memangkas potensi pajak dan bea cukai yang seharusnya masuk ke kas negara.
- Tirisnya Cadangan Devisa: Selisih pembayaran yang tidak dilaporkan sering kali sengaja ditinggalkan di luar negeri, sehingga devisa yang kembali ke tanah air jauh lebih kecil dari yang seharusnya.
- Pencucian Uang: Misinvoicing juga menjadi pintu masuk bagi dana ilegal dari luar negeri yang kerap digunakan untuk praktik pencucian uang.
- Persaingan Usaha Tidak Sehat: Pengusaha yang jujur dipaksa ‘kalah perang’ harga oleh mereka yang curang. Jika dibiarkan, hal ini akan mendorong semua pihak untuk ikut bertindak tidak jujur demi bertahan hidup di pasar.
Komitmen Moral Pemerintahan Prabowo-Gibran
Di akhir pernyataannya, Gibran menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi jelas untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan kekayaan negara. Meski langkah tersebut mungkin tidak populer bagi segelintir kelompok, namun hal ini dipandang sebagai kewajiban moral.
Terobosan Baru Kemandirian Energi: CNG Siap Gantikan LPG Demi Tekan Impor Gas Nasional
“Menjaga kekayaan nasional agar dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat saat ini dan generasi mendatang adalah tanggung jawab konstitusional kami,” pungkasnya. Penertiban di sektor ekspor impor pun kini menjadi salah satu prioritas utama demi memastikan tidak ada lagi rupiah yang bocor ke tangan-tangan yang tidak berhak di luar sana.