Estetika Rasa ‘Luka, Makan, Cinta’: Sha Ine Febriyanti Beberkan Rahasia di Balik Dapur Mewah Netflix
LajuBerita — Dunia sinematik Indonesia kembali dihangatkan dengan kehadiran serial drama bertema kuliner terbaru bertajuk “Luka, Makan, Cinta”. Dalam sebuah pertemuan hangat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, aktris kawakan Sha Ine Febriyanti berbagi cerita mendalam mengenai proses kreatif yang menghidupkan setiap hidangan dalam serial orisinal Netflix tersebut.
Sorotan utama jatuh pada sosok Trio Candra Purbasiwi, atau yang lebih akrab disapa Chef Chondro Kirono. Menurut Ine, Chef Chondro bukan sekadar konsultan biasa, melainkan otak di balik estetika hidangan yang memanjakan mata penonton. “Mas Chondro adalah sosok yang menerjemahkan menu-menu di dalam naskah menjadi sebuah ‘plating’ yang sangat cantik,” ungkap Ine dengan penuh kekaguman.
Siasat Menhub Jaga Keseimbangan Tarif Pesawat: Antara Daya Beli Rakyat dan Kelangsungan Maskapai
Kolaborasi Artistik di Meja Makan
Peran Chef Chondro dalam produksi garapan sutradara Teddy Soeriaatmadja ini dimulai sejak tahap awal pengembangan skenario. Sebagai food designer profesional, ia memastikan setiap aspek kuliner memiliki jiwa dan akurasi yang tepat. Tidak sendirian, ia berkolaborasi dengan Gregory Gnart, seorang penata makanan (food stylist) yang bertugas menyulap setiap sajian menjadi karya seni visual yang artistik.
Salah satu bukti nyata dari kolaborasi ini adalah penyajian hidangan tradisional seperti Es Pisang Ijo. Di tangan tim ahli ini, jajanan pasar tersebut naik kelas dengan tampilan yang begitu menggugah selera, layaknya sajian kelas atas namun tetap mempertahankan cita rasa autentiknya. Atmosfer dapur yang profesional benar-benar ingin diangkat secara totalitas dalam serial drama Indonesia ini.
Menuju Usia 80 Tahun, Khofifah Ajak Muslimat NU Rawat Tradisi Gotong Royong dan Teduhkan Peradaban
Totalitas Akting: Tiga Bulan di Balik Kompor
Memerankan karakter Sari, seorang kepala koki (head chef) yang tegas, menuntut Ine Febriyanti untuk melepaskan atribut keaktorannya sejenak dan benar-benar menyelami dunia kuliner. LajuBerita mencatat bahwa para pemeran harus melewati pelatihan atau workshop intensif selama tiga bulan penuh. Fokus utamanya adalah penguasaan teknik memotong bahan makanan hingga teknik memasak tingkat tinggi agar terlihat meyakinkan di depan kamera.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Mawar Eva de Jongh yang berperan sebagai Luka, dan Deva Mahenra yang memerankan karakter Dennis. Mereka tidak hanya belajar memasak, tetapi juga meresapi hierarki serta disiplin ketat yang berlaku di dapur profesional.
Sinar Donyell Malen di Olimpico: Hattrick Perdana dan Ambisi Liga Champions AS Roma
Penghormatan untuk Para Pahlawan Dapur
Bagi Deva Mahenra, pengalaman syuting “Luka, Makan, Cinta” memberinya perspektif baru yang jauh lebih mendalam terhadap profesi juru masak. Ia mengakui betapa beratnya menjaga fokus di tengah situasi dapur yang panas, bising, dan penuh tekanan tinggi.
“Setelah menyelami karakter Dennis dan merasakan sendiri kekacauan serta tuntutan multitasking di dapur, saya rasa saya ingin sungkem ke semua chef. Rasa hormat saya setinggi-tingginya untuk profesi ini,” ujar Deva dengan nada serius yang diamini oleh Mawar.
Serial yang terdiri dari delapan episode ini menjanjikan perpaduan antara konflik emosional yang pedas dan visual kuliner yang manis. Penonton sudah bisa menyaksikan bagaimana perjuangan Sari, Luka, dan Dennis dalam menghadapi dinamika kehidupan di platform Netflix mulai Rabu ini.
Strategi Efisiensi PGN Berbuah Manis: Cetak Laba Bersih 90,4 Juta Dolar AS di Triwulan I 2026