Menembus “Jalur Maut”: Sederet Kapal Negara Tetangga RI Berhasil Lintasi Selat Hormuz di Tengah Konflik
LajuBerita — Arus distribusi energi dunia tengah berada di titik nadir akibat eskalasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Blokade ketat yang diterapkan Amerika Serikat terhadap akses pelabuhan Iran telah menciptakan awan mendung bagi industri pelayaran global, terutama di titik krusial Selat Hormuz. Jalur yang biasanya menjadi urat nadi bagi seperlima ekspor minyak dunia ini nyaris lumpuh total sejak pecahnya konflik terbuka pada akhir Februari 2026 lalu.
Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, beberapa armada laut dari negara-negara tetangga Indonesia dilaporkan berhasil menembus penjagaan ketat dan melintasi selat strategis tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun tim redaksi, berikut adalah catatan perjalanan kapal-kapal yang sukses melakukan navigasi di zona merah tersebut:
Kilau Emas Meredup: Deflasi 3,76% Akhiri Rekor Reli Panjang 30 Bulan, Investor Mulai Berpaling?
Geliat Tanker Vietnam dan Malaysia
Vietnam mencatatkan keberhasilan melalui kapal tanker raksasa (VLCC) berbendera Malta, Agios Fanourios I. Setelah upaya pertamanya sempat tertahan, kapal ini akhirnya berhasil memasuki teluk pada pertengahan April 2026 pasca kesepakatan gencatan senjata sementara. Kapal ini kini tengah menuju Irak untuk menjemput komoditas minyak mentah Basra yang akan dipasok ke Vietnam.
Malaysia juga menunjukkan strategi navigasi yang cerdik. Kapal Serifos yang mengangkut emas hitam dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memilih jalur alternatif melewati Pulau Larak milik Iran. Selain Serifos, kapal Ocean Thunder yang membawa satu juta barel minyak juga sukses melintas. Menariknya, keberhasilan armada Malaysia ini tidak lepas dari izin khusus yang diberikan oleh otoritas Iran, di mana setidaknya tujuh kapal terkait Malaysia mendapat lampu hijau untuk melintas menuju Pelabuhan Malaka dan Pengerang.
Krisis Avtur Menghantui Langit Dunia: Dampak Blokade Selat Hormuz dan Masa Depan Penerbangan Global
Dominasi China dan Pasokan Masif ke India
Sebagai raksasa ekonomi, China memastikan pasokan energinya tetap mengalir. Dua kapal tanker besar, Cospearl Lake dan He Rong Hai yang disewa oleh Unipec, berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan muatan penuh. Sebagian besar muatan ini ditujukan untuk kilang-kilang besar di Zhoushan dan Yunnan melalui terminal di Myanmar.
India tercatat sebagai negara yang paling aktif menggerakkan armadanya. Setidaknya dua VLCC dan dua tanker jenis Suezmax—Habrut, Marathi, Smyrni, dan Shenlong—berhasil mengirimkan jutaan barel minyak ke pelabuhan Sikka dan Mumbai. Tak hanya minyak mentah, India juga mengamankan pasokan energi melalui kapal tanker LPG, BW Tyr dan BW Elm, yang membawa puluhan ribu metrik ton gas melintasi jalur panas tersebut demi menjaga stabilitas energi domestik mereka.
Evaluasi Sepekan WFH ASN: Menpan RB Sebut Kinerja Tetap Moncer dan Hemat Energi
Diplomasi Thailand dan Pergerakan Pakistan
Pakistan turut mengirimkan dua armadanya, Shalamar dan Khairpur, yang masing-masing bergerak menuju Uni Emirat Arab dan Kuwait untuk mengambil produk minyak olahan. Sementara itu, Thailand menunjukkan kekuatan diplomasinya. Melalui koordinasi erat antara Bangkok dan Teheran, kapal tanker milik Bangchak Corporation berhasil keluar dari blokade tanpa dikenakan biaya tambahan, sebuah langkah yang membuktikan bahwa jalur komunikasi politik menjadi kunci penting di tengah geopolitik yang bergejolak.
Keberhasilan kapal-kapal ini menjadi secercah harapan bagi stabilitas energi di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya, meskipun risiko keamanan di Selat Hormuz tetap berada pada level tertinggi hingga saat ini.