Terobosan Besar Prabowo: Pangkas Bunga Kredit Rakyat Jadi 5% dan Program Rumah 40 Tahun untuk Kaum Buruh

Reporter Nasional | LajuBerita
01 Mei 2026, 18:50 WIB
Terobosan Besar Prabowo: Pangkas Bunga Kredit Rakyat Jadi 5% dan Program Rumah 40 Tahun untuk Kaum Buruh

LajuBerita — Suasana terik di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, mendadak berubah menjadi gemuruh sorak-sorai saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan orasi politiknya di hadapan ribuan elemen buruh. Dalam momentum peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day tersebut, Sang Kepala Negara melontarkan sebuah komitmen besar yang siap mengguncang tatanan industri perbankan nasional: instruksi langsung untuk memangkas drastis bunga kredit bagi masyarakat kecil hingga menyentuh angka 5%.

Kebijakan ini bukan sekadar janji manis di atas panggung. Prabowo secara eksplisit menyoroti ketimpangan akses finansial yang selama ini mencekik ekonomi akar rumput. Ia mengungkapkan keresahannya atas kenyataan pahit di mana rakyat kecil seringkali terjebak dalam pusaran utang dengan bunga yang tidak masuk akal, sementara korporasi besar justru mendapatkan fasilitas yang jauh lebih ringan.

Berita Lainnya

Rekor Sejarah! Stok Beras Nasional Tembus 4,9 Juta Ton, Mentan dan Dirut BULOG Pastikan Pangan Aman

Rekor Sejarah! Stok Beras Nasional Tembus 4,9 Juta Ton, Mentan dan Dirut BULOG Pastikan Pangan Aman

Melawan ‘Kegilaan’ Bunga Pinjaman yang Mencekik Rakyat

Dalam pidatonya yang berapi-api, Presiden Prabowo menyoroti praktik bunga pinjaman yang selama ini dibebankan kepada masyarakat kelas bawah. Menurut pengamatannya, tak jarang rakyat harus menanggung beban bunga hingga puluhan persen dalam setahun, sebuah angka yang ia sebut sebagai bentuk ketidakadilan ekonomi.

“Saudara-saudara sekalian, selama ini rakyat kecil kalau pinjam uang bunganya luar biasa gilanya, betul? Orang kecil pinjam uang bunganya bisa mencapai 70% dalam setahun,” tegas Prabowo di hadapan massa buruh. Pernyataan ini merujuk pada maraknya praktik pinjaman informal maupun skema kredit mikro tertentu yang justru membebani peminjam ketimbang memberdayakan mereka.

Kondisi ini dianggap sebagai penghambat utama pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Tanpa adanya intervensi negara, akses modal bagi pedagang kecil, petani, dan nelayan akan terus menjadi beban sejarah yang tak kunjung usai. Oleh karena itu, Presiden menekankan bahwa negara harus hadir melalui tangan perbankan milik pemerintah untuk memberikan solusi konkret yang berpihak pada rakyat.

Berita Lainnya

Ketergantungan Bensin RI: Separuh Pasokan Masih Impor dari Tetangga, Bagaimana Nasib Swasembada Energi?

Ketergantungan Bensin RI: Separuh Pasokan Masih Impor dari Tetangga, Bagaimana Nasib Swasembada Energi?

Instruksi Tegas kepada Bank Milik Negara

Sebagai langkah nyata, Prabowo mengonfirmasi bahwa dirinya telah memberikan instruksi langsung kepada jajaran direksi bank milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Tujuannya jelas: meluncurkan program kredit rakyat dengan skema bunga yang sangat rendah, yakni maksimal 5% per tahun.

“Saya sudah perintahkan bank-bank milik Republik Indonesia, sebentar lagi kita akan kucurkan kredit untuk rakyat dengan bunga maksimal 5%,” tuturnya. Langkah ini diharapkan mampu meredistribusi kekayaan dan memberikan napas baru bagi para pelaku usaha mikro yang selama ini kesulitan mencari modal kerja yang terjangkau.

Revolusi perbankan ini diprediksi akan mengubah peta persaingan industri keuangan di tanah air. Dengan bunga yang jauh di bawah pasar, Himbara diharapkan menjadi motor penggerak utama dalam menghapus ketergantungan masyarakat terhadap rentenir maupun pinjaman online ilegal yang meresahkan. LajuBerita mencatat bahwa langkah ini sejalan dengan visi besar pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui penguatan daya beli dan produktivitas rakyat.

Berita Lainnya

Prestasi Gemilang, Ekspor Perikanan Indonesia Tembus Rp 107 Triliun Sepanjang 2025

Prestasi Gemilang, Ekspor Perikanan Indonesia Tembus Rp 107 Triliun Sepanjang 2025

Visi Perumahan: Membangun Kota Baru untuk Masa Depan Buruh

Selain fokus pada modal kerja, Presiden Prabowo juga membawa kabar gembira terkait sektor properti dan papan. Menyadari bahwa rumah merupakan kebutuhan primer yang semakin sulit dijangkau oleh kaum pekerja, pemerintah berencana menginisiasi pembangunan 1 juta unit rumah yang didedikasikan khusus bagi kalangan buruh.

Proyek ambisius ini tidak hanya sekadar membangun gedung, tetapi menciptakan ekosistem “Kota Baru” yang terintegrasi. Prabowo membayangkan setiap kota baru ini nantinya akan menampung sekitar 100 ribu rumah, lengkap dengan fasilitas pendukung yang layak bagi kehidupan keluarga buruh yang bermartabat.

Masalah klasik yang dihadapi buruh saat ini adalah porsi penghasilan yang habis hanya untuk membayar biaya kontrak rumah atau kos-kosan. Dengan adanya program perumahan rakyat ini, pemerintah ingin mengubah biaya konsumtif (kontrak) menjadi investasi aset (cicilan rumah) bagi para pekerja.

Berita Lainnya

Waspada Penipuan! Otorita IKN Tegaskan Kabar Lowongan Kerja di Medsos Adalah Hoaks

Waspada Penipuan! Otorita IKN Tegaskan Kabar Lowongan Kerja di Medsos Adalah Hoaks

Skema Cicilan 40 Tahun: Solusi atau Tantangan Baru?

Salah satu poin yang paling menarik dari paparan Presiden adalah fleksibilitas jangka waktu pembayaran. Mengingat kemampuan finansial buruh yang terbatas, Prabowo menawarkan skema cicilan jangka panjang yang bisa mencapai 40 tahun. Hal ini dilakukan agar besaran cicilan bulanan tidak membebani dapur para pekerja.

“Nanti kita akan yakinkan saudara bahwa saudara akan memiliki rumah tersebut. Jadi, porsi 30% dari penghasilan yang biasanya habis untuk kontrak, dialihkan untuk mencicil rumah sendiri. Cicilnya kalau bisa 20 tahun, kalau tidak bisa 25 tahun, hingga 35 atau 40 tahun,” jelasnya secara detail.

Meskipun durasi 40 tahun terdengar sangat panjang bagi standar perbankan konvensional, Prabowo memiliki alasan filosofis dan sosiologis di baliknya. Ia percaya bahwa kaum buruh, petani, dan nelayan adalah pilar bangsa yang setia. “Karena buruh tidak mungkin lari ke mana-mana. Petani dan nelayan tidak mungkin lari ke mana-mana. Mereka adalah akar dari bangsa ini,” tambahnya menutup pidato tersebut.

Analisis: Dampak Terhadap Stabilitas Ekonomi Nasional

Kebijakan bunga 5% dan tenor rumah 40 tahun ini tentu akan memicu diskusi hangat di kalangan ekonom. Di satu sisi, ini adalah angin segar bagi kesejahteraan buruh dan rakyat kecil yang selama ini terpinggirkan. Namun di sisi lain, sektor perbankan harus melakukan penyesuaian manajemen risiko yang ekstra hati-hati untuk menjaga likuiditas.

Namun, jika dilihat dari kacamata pertumbuhan jangka panjang, kepemilikan aset berupa rumah oleh jutaan buruh akan menciptakan stabilitas sosial yang luar biasa. Keluarga yang memiliki hunian tetap cenderung memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik, anak-anak yang lebih berprestasi, dan daya tahan ekonomi yang lebih kuat terhadap krisis.

Implementasi kebijakan ini akan menjadi ujian bagi sinergi antara kementerian terkait, perbankan, dan pengembang properti. Masyarakat kini menanti realisasi dari instruksi Presiden ini, berharap agar birokrasi tidak menghambat niat mulia untuk memerdekakan rakyat dari belenggu bunga tinggi dan ketidakpastian tempat tinggal. LajuBerita akan terus mengawal perkembangan kebijakan strategis ini hingga benar-benar dirasakan manfaatnya di lapangan.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *