Misi Besar PT Danantara Sumberdaya Indonesia: BUMN Ekspor Baru yang Berambisi Sapu Bersih Praktik Curang Komoditas

Reporter Nasional | LajuBerita
27 Mei 2026, 06:47 WIB
Misi Besar PT Danantara Sumberdaya Indonesia: BUMN Ekspor Baru yang Berambisi Sapu Bersih Praktik Curang Komoditas

LajuBerita — Indonesia secara resmi memasuki babak baru dalam pengelolaan kekayaan alamnya melalui pembentukan entitas strategis bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kehadiran badan usaha ini bukan sekadar menambah daftar panjang perusahaan plat merah, melainkan menjadi ujung tombak negara dalam mengawal arus ekspor sumber daya alam (SDA) yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Sebagai langkah awal, DSI diberikan mandat penuh untuk mengawasi sekaligus mengelola ekspor komoditas krusial seperti minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO), batu bara, hingga produk logam ferro alloy.

Status hukum DSI sendiri telah resmi dikukuhkan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terhitung sejak Senin, 25 Mei 2026. Pembentukannya membawa angin segar sekaligus harapan besar agar kebocoran devisa dari sektor komoditas dapat ditekan semaksimal mungkin. Di balik kemegahan mandatnya, terdapat fakta-fakta menarik yang menyelimuti kelahiran BUMN ini, mulai dari latar belakang pembentukannya yang dipicu oleh keresahan atas praktik manipulasi harga, hingga kondisi internal organisasi yang saat ini masih sangat ramping.

Berita Lainnya

Mengejar Ambisi Rel Kereta Api 2045: Mengapa Indonesia Butuh Rp 1.200 Triliun untuk Transformasi Transportasi?

Mengejar Ambisi Rel Kereta Api 2045: Mengapa Indonesia Butuh Rp 1.200 Triliun untuk Transformasi Transportasi?

Membendung Kebocoran Devisa: Perlawanan Terhadap Under Invoicing

Lahirnya PT Danantara Sumberdaya Indonesia bukanlah tanpa alasan yang mendalam. Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa salah satu pemicu utama dibentuknya DSI adalah maraknya praktik nakal dalam industri ekspor. Masalah klasik yang sering menghantui sektor ekspor sumber daya alam di Indonesia adalah fenomena under invoicing dan transfer pricing. Praktik ini secara sederhana merupakan manipulasi nilai faktur yang dilaporkan lebih rendah dari harga sebenarnya, atau pengalihan keuntungan ke entitas luar negeri demi menghindari kewajiban pajak yang semestinya masuk ke kas negara.

Pandu Sjahrir, yang memiliki rekam jejak panjang sebagai ketua asosiasi pengusaha batu bara selama hampir satu dekade, mengakui bahwa dirinya telah menyaksikan sendiri bagaimana modus-modus manipulasi ini bekerja. Dalam forum Investor Daily Roundtable di Jakarta, ia menuturkan bahwa potensi nilai yang hilang akibat praktik transfer nilai tersebut sangat signifikan. Pengalaman pribadinya di industri memberikan perspektif bahwa meski banyak pelaku usaha yang patuh, persentase mereka yang “bandel” masih cukup mengkhawatirkan bagi kesehatan ekonomi makro Indonesia.

Berita Lainnya

Restrukturisasi Strategis PT Pindad: Transformasi Jajaran Direksi dan Komisaris demi Kemandirian Industri Pertahanan Nasional

Restrukturisasi Strategis PT Pindad: Transformasi Jajaran Direksi dan Komisaris demi Kemandirian Industri Pertahanan Nasional

“Dahulu, isu utama pembentukan DSI ini adalah masalah under invoicing dan potensi value transfer yang merugikan kita. Saya sering mendengar ini, bahkan sejak saya masih aktif di asosiasi. Saat pertama kali saya bergabung di asosiasi, mungkin sekitar 40% pelaku masih bertindak kurang transparan, meski sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik,” ungkap Pandu dengan nada optimis namun tetap waspada.

Orientasi Profit: Transformasi Menjadi Entitas Bisnis yang Kompetitif

Berbeda dengan badan pemerintah yang biasanya hanya berfungsi sebagai regulator atau pengawas administrasi, PT Danantara Sumberdaya Indonesia dirancang dengan DNA sebagai pemain bisnis. LajuBerita mencatat bahwa pemerintah sempat menimbang dua opsi besar dalam pembentukan DSI: menjadikannya sebagai badan birokrasi biasa atau mengarahkannya sebagai operator bisnis murni. Pilihan akhirnya jatuh pada opsi kedua, di mana DSI diposisikan sejajar dengan Danantara Investment Management (DIM).

Berita Lainnya

Promo Gila Transmart Full Day Sale: Koleksi Teflon dan Panci Branded Turun Harga Jadi Rp 70 Ribuan!

Promo Gila Transmart Full Day Sale: Koleksi Teflon dan Panci Branded Turun Harga Jadi Rp 70 Ribuan!

Keputusan ini diambil agar DSI memiliki fleksibilitas dalam mengejar keuntungan (profit-oriented). Pandu menekankan bahwa sebagai bagian dari ekosistem Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia, mindset pencarian laba adalah hal yang mutlak. Hal ini dikarenakan dana yang dikelola merupakan tabungan strategis bagi generasi mendatang. Dengan memiliki mentalitas profit, DSI diharapkan mampu mengelola aset negara secara profesional, efisien, dan memberikan imbal hasil yang nyata bagi negara.

Secara struktur kepemilikan, PT DSI dimiliki sebesar 99% oleh BPI Danantara, sementara sisa 1% dipegang oleh BP BUMN. Walaupun fokus utamanya adalah menjadi agen bisnis yang mendulang laba, DSI tetap membuka ruang bagi pengembangan lini usaha lainnya di masa depan. Pengembangan ini nantinya akan disesuaikan dengan kapasitas dan keahlian Sumber Daya Manusia (SDM) yang terus dibangun oleh manajemen.

Berita Lainnya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Dikabarkan Tumbang, Kemenkeu Berikan Klarifikasi Tegas Terkait Kondisi Kesehatannya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Dikabarkan Tumbang, Kemenkeu Berikan Klarifikasi Tegas Terkait Kondisi Kesehatannya

Uniknya Operasional Awal: Satu Institusi, Satu Pegawai

Salah satu fakta paling menarik yang mencuri perhatian publik adalah struktur organisasi DSI yang saat ini masih tergolong sangat minimalis. Di balik tanggung jawab besar mengelola komoditas bernilai triliunan rupiah, DSI baru memiliki satu orang pegawai resmi. Sosok tersebut adalah Luke Thomas Mahony, yang menjabat sebagai Direktur Utama. Hal ini menunjukkan betapa barunya institusi ini dalam peta korporasi nasional.

Pandu Sjahrir menceritakan situasi unik ini dengan sedikit bumbu naratif yang menarik. Ia menyebutkan bahwa karena proses peralihan menjadi BUMN baru saja terjadi pada Senin pekan lalu, pembangunan tim dilakukan secara bertahap namun cepat. Luke Thomas Mahony, yang merupakan tenaga ahli asing, saat ini memegang kemudi tunggal dalam menjalankan roda organisasi di fase awal ini.

“Sebagai perusahaan yang baru resmi menjadi persero BUMN Senin kemarin, prosesnya tergolong sangat cepat. Saat ini pegawainya memang baru satu, yaitu Luke. Karena dia orang asing, dia mungkin belum terlalu terbebani dengan pesan-pesan singkat di WhatsApp dari berbagai pihak, karena dia fokus pada tugas teknis pembentukan organisasi,” seloroh Pandu menggambarkan situasi kerja di tahap awal DSI.

Membangun Kekuatan Global: Strategi Rekrutmen Tenaga Ahli Spesifik

Meskipun saat ini baru dihuni oleh satu orang, PT Danantara Sumberdaya Indonesia memiliki rencana ekspansi SDM yang sangat ambisius. LajuBerita memantau bahwa strategi rekrutmen yang akan diterapkan tidak terbatas pada talenta lokal, melainkan menyasar pasar tenaga kerja global. Hal ini didasari oleh kebutuhan akan keahlian yang sangat spesifik dalam dunia perdagangan komoditas internasional dan trade financing.

Pandu Sjahrir memberikan perbandingan menarik dengan pertumbuhan Danantara itu sendiri. Dimulai hanya dengan tiga orang pada Februari tahun lalu, organisasi tersebut mampu berkembang menjadi sekitar 450 pegawai dalam kurun waktu satu tahun saja. Pola pertumbuhan eksponensial inilah yang diharapkan juga terjadi pada DSI.

Mengapa harus rekrutmen global? Menurut Pandu, talenta yang memahami seluk-beluk commodity trading dan pembiayaan perdagangan sangat terbatas jumlahnya di dunia. Sebagai contoh, di industri batu bara saja, diperkirakan hanya ada sekitar 2.000 trader ahli di seluruh dunia. DSI ingin memastikan bahwa mereka mendapatkan individu-individu terbaik untuk memastikan operasional perusahaan berjalan sesuai standar internasional.

Transfer Pengetahuan dan Harapan Masa Depan

Selain merekrut talenta global, PT DSI juga tetap memberikan ruang bagi Sumber Daya Manusia dari BUMN yang sudah ada. Tujuannya adalah untuk menciptakan ekosistem belajar bersama atau transfer of knowledge. Pengetahuan mengenai cara melakukan pembiayaan yang kompleks dan manajemen risiko komoditas adalah hal yang ingin ditanamkan dalam budaya kerja DSI.

Pemerintah berharap, dengan kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia, praktik-praktik yang merugikan negara dalam sektor ekspor bisa diminimalisir secara drastis. Dengan pengelolaan yang lebih transparan, berorientasi pada keuntungan, dan didukung oleh tenaga ahli kelas dunia, kekayaan alam Indonesia tidak hanya akan habis dikeruk, tetapi memberikan nilai tambah yang maksimal bagi kesejahteraan masyarakat.

Kini, publik menunggu langkah selanjutnya dari Luke Thomas Mahony dan tim yang akan segera dibentuknya. Apakah DSI mampu menjadi “benteng” yang kokoh bagi kekayaan alam kita? Perjalanan masih panjang, namun pondasi yang diletakkan melalui BPI Danantara menunjukkan arah yang lebih serius dalam mengelola kedaulatan ekonomi melalui jalur ekspor strategis.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *