Dilema Langit Minangkabau: Mengapa Bandara Internasional Minangkabau Sepi Penumpang dan Bagaimana Strategi Bangkitnya?

Reporter Nasional | LajuBerita
21 Jun 2026, 08:48 WIB
Dilema Langit Minangkabau: Mengapa Bandara Internasional Minangkabau Sepi Penumpang dan Bagaimana Strategi Bangkitnya?

LajuBerita — Gema langkah kaki di terminal keberangkatan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) kini tak lagi seriuh biasanya. Bandara yang menjadi gerbang utama menuju keindahan alam dan budaya Sumatera Barat ini tengah menghadapi badai yang cukup pelik. Di balik megahnya arsitektur atap bagonjong yang menjadi ciri khasnya, tersimpan fakta pahit mengenai penurunan jumlah arus penumpang yang cukup signifikan sepanjang tahun 2026 ini.

Kondisi lesunya industri penerbangan di Ranah Minang ini bukanlah tanpa alasan. Tingginya harga tiket pesawat serta terbatasnya jumlah armada yang beroperasi menjadi faktor utama yang mencekik minat masyarakat untuk bepergian lewat jalur udara. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun hingga Mei 2026, tercatat penurunan jumlah penumpang mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan, yakni merosot hingga 61 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Berita Lainnya

Angin Segar bagi Pengendara: Peluang Penurunan Harga Pertamax Usai AS dan Iran Berdamai

Angin Segar bagi Pengendara: Peluang Penurunan Harga Pertamax Usai AS dan Iran Berdamai

Statistik yang Mengkhawatirkan di Gerbang Udara Sumatera Barat

Penurunan drastis ini bukan sekadar angka di atas kertas. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa jumlah penumpang yang hilir mudik di Bandara Internasional Minangkabau hanya mencapai 931.737 orang hingga pertengahan tahun ini. Jika disandingkan dengan tahun lalu, angka ini menunjukkan betapa beratnya tekanan yang dialami oleh pengelola bandara dan sektor pariwisata Sumatera Barat secara umum.

Tak hanya jumlah orang, frekuensi burung besi yang lepas landas dan mendarat pun ikut menyusut tajam. Tercatat hingga Mei 2026, jumlah penerbangan hanya menyentuh angka 7.492 pergerakan, atau terjun bebas sebesar 59 persen. General Manager Bandara Internasional Minangkabau, Dony Subardono, mengungkapkan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan ketersediaan armada pesawat yang dimiliki oleh berbagai maskapai penerbangan.

Berita Lainnya

Panduan Lengkap Cara Cek Riwayat Pinjaman Secara Online: Memahami SLIK OJK untuk Keamanan Finansial Anda

Panduan Lengkap Cara Cek Riwayat Pinjaman Secara Online: Memahami SLIK OJK untuk Keamanan Finansial Anda

“Penumpang turun salah satunya dipengaruhi oleh keterbatasan armada yang tersedia di pasar. Sejak pandemi COVID-19 melanda beberapa tahun silam, jumlah pesawat yang siap beroperasi secara optimal memang berkurang drastis. Hal ini memaksa maskapai untuk bersikap lebih pragmatis dan selektif dalam memilih rute penerbangan,” jelas Dony saat ditemui di kawasan bandara pada Jumat (19/6/2026).

Warisan Pandemi dan Selektivitas Maskapai

Meskipun dunia sudah lama berupaya bangkit dari dampak pandemi, industri penerbangan tampaknya masih membawa beban berat dari masa lalu. Banyak pesawat yang terparkir lama selama pandemi membutuhkan biaya perawatan (maintenance) yang sangat tinggi untuk bisa kembali mengudara. Akibatnya, jumlah armada yang siap melayani rute domestik menjadi terbatas.

Berita Lainnya

Harga Emas Antam Terkoreksi Tajam: Penurunan Buyback Jadi Sorotan Utama Investor

Harga Emas Antam Terkoreksi Tajam: Penurunan Buyback Jadi Sorotan Utama Investor

Dalam kondisi armada yang minim, maskapai cenderung memprioritaskan rute-rute “gemuk” atau jalur penerbangan dengan tingkat keterisian (load factor) yang selalu tinggi. Sayangnya, rute menuju Padang sering kali dianggap sebagai rute musiman oleh para operator. Hal ini membuat frekuensi penerbangan domestik ke Sumatera Barat sering kali dikurangi demi mengoptimalkan keuntungan di rute lain yang dianggap lebih stabil secara komersial.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: armada terbatas menyebabkan frekuensi terbang berkurang, frekuensi terbang yang sedikit memicu hukum permintaan dan penawaran yang akhirnya melambungkan harga tiket, dan harga tiket yang mahal pada akhirnya membuat calon penumpang berpikir dua kali untuk terbang.

Efek Domino Geopolitik dan Kenaikan Harga Avtur

Masalah tidak hanya datang dari dalam negeri. Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memberikan hantaman keras bagi industri penerbangan tanah air. Konflik yang belum mereda di kawasan tersebut telah memicu ketidakpastian pasokan minyak mentah dunia, yang secara langsung mendongkrak harga avtur sebagai bahan bakar utama pesawat.

Berita Lainnya

Terobosan Baru Kemandirian Energi: CNG Siap Gantikan LPG Demi Tekan Impor Gas Nasional

Terobosan Baru Kemandirian Energi: CNG Siap Gantikan LPG Demi Tekan Impor Gas Nasional

Dony Subardono menjelaskan bahwa biaya operasional maskapai sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar. “Begitu ada konflik geopolitik, dampaknya terasa secara instan. Para pemilik armada tentu ingin beroperasi seefisien mungkin. Jika jumlah penumpang tidak mencapai target okupansi yang diharapkan, mereka lebih memilih untuk tidak terbang daripada harus menanggung biaya operasional yang membengkak akibat harga avtur yang tinggi,” tambahnya.

Kenaikan biaya operasional ini kemudian dibebankan kepada konsumen melalui penyesuaian tarif tiket. Bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan jasa transportasi udara, kenaikan harga ini menjadi penghalang besar, terutama bagi para perantau Minang yang memiliki mobilitas tinggi antara daerah asal dan tanah rantau.

Karakteristik Penumpang Minang dan Harapan pada Event Daerah

Uniknya, profil penumpang di Bandara Internasional Minangkabau didominasi oleh para perantau dan wisatawan domestik. Berbeda dengan bandara di kota bisnis seperti Jakarta atau Surabaya, arus penumpang di Padang sangat bergantung pada momen-momen tertentu seperti libur Idul Fitri, tradisi mudik, serta berbagai perhelatan besar atau event kebudayaan yang diselenggarakan di Sumatera Barat.

Meski secara kumulatif menurun, Dony mencatat adanya lonjakan tipis saat daerah tersebut menggelar acara-acara tertentu. “Selama beberapa hari terakhir, berkat adanya libur panjang dan beberapa event di Sumatera Barat, angka penumpang kembali menunjukkan geliat positif dengan rata-rata 6.000 penumpang per hari. Ini membuktikan bahwa daya tarik wisata dan budaya masih menjadi magnet utama,” ungkapnya dengan nada optimis.

Pemerintah daerah dan pengelola bandara kini terus bersinergi untuk memperbanyak agenda pariwisata yang mampu mendatangkan massa dalam jumlah besar. Pariwisata Sumbar diharapkan mampu menjadi katalisator bagi pemulihan jumlah penumpang di BIM, sehingga maskapai kembali tertarik untuk menambah slot penerbangan mereka ke Padang.

Menatap Masa Depan: Target Realistis Menuju 2028

Menghadapi sisa tahun 2026, manajemen PT Angkasa Pura II di Bandara Minangkabau mencoba untuk tetap memijak bumi dengan target-target yang realistis. Awalnya, bandara ini diproyeksikan mampu melayani 2,5 juta penumpang tahun ini. Namun, melihat dinamika ekonomi global dan kondisi armada saat ini, target tersebut dikoreksi menjadi 2,4 juta penumpang.

Angka ini memang sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2025 yang berada di angka 2,37 juta penumpang, namun masih jauh di bawah masa kejayaan sebelum pandemi. Sebagai perbandingan, pada tahun 2019, Bandara Internasional Minangkabau mampu mencatatkan angka fantastis hingga 3 juta penumpang per tahun.

“Kita harus melihat situasi secara objektif. Ada faktor-faktor eksternal yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, kami tetap optimis. Dengan perbaikan kondisi ekonomi makro dan stabilitas geopolitik ke depan, kami menargetkan bahwa pada tahun 2028, Bandara Internasional Minangkabau sudah bisa kembali ke level performa tahun 2019,” pungkas Dony.

Upaya pemulihan ini tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari kebijakan pemerintah pusat terkait tarif batas atas tiket pesawat, hingga kemudahan insentif bagi maskapai yang bersedia membuka kembali rute-rute yang sempat ditutup. Bagi masyarakat Sumatera Barat, kembalinya keramaian di Bandara Minangkabau bukan sekadar tentang kemudahan bepergian, melainkan simbol pulihnya urat nadi perekonomian di Ranah Minang yang sangat bergantung pada konektivitas udara.

Reporter Nasional

Reporter Nasional

Mengulas berita politik dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *