Diplomasi Global: Xi Jinping Desak MBS Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka demi Stabilitas Dunia
LajuBerita — Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang menyelimuti kawasan Teluk, Presiden China Xi Jinping mengambil langkah diplomasi proaktif dengan menghubungi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Dalam percakapan telepon yang krusial tersebut, pemimpin Negeri Tirai Bambu itu menekankan urgensi untuk menjaga Selat Hormuz agar tetap terbuka bagi lalu lintas pelayaran internasional secara normal.
Urat Nadi Energi Global yang Terancam
Langkah Xi Jinping ini bukan tanpa alasan. Selat Hormuz merupakan jalur distribusi minyak mentah paling vital di dunia. Xi menegaskan bahwa stabilitas di jalur perairan tersebut bukan hanya menyangkut kepentingan negara-negara di kawasan, melainkan juga menjadi fondasi bagi keamanan energi dan ekonomi komunitas internasional secara luas.
Batas Akhir Lapor SPT Pajak Hari Ini: Jangan Terlambat, Kenali Sanksi dan Layanan Khusus DJP Hingga Malam
“Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk pelayaran normal. Hal ini menjadi kepentingan bersama negara-negara kawasan dan masyarakat dunia,” tegas Xi sebagaimana dikutip dari laporan diplomatik yang diterima redaksi.
Rangkaian Diplomasi Beijing di Timur Tengah
Inisiatif telepon kepada MBS ini merupakan kelanjutan dari rangkaian manuver diplomatik Beijing. Pekan sebelumnya, Xi Jinping telah bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi untuk membahas kepatuhan terhadap hukum internasional di wilayah perairan strategis tersebut. China secara konsisten menyuarakan dukungan bagi negara-negara Timur Tengah untuk menentukan masa depan mereka sendiri tanpa campur tangan asing yang destruktif.
Ketegangan AS-Iran dan Dampaknya
Situasi di kawasan saat ini memang sedang berada di titik nadir. Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kini berada di ujung tanduk. Ketegangan dipicu oleh tindakan AS yang menyita kapal kargo milik Iran, yang kemudian direspons oleh Teheran dengan sinyal keengganan untuk melanjutkan pembicaraan damai.
Gojek Beri Sinyal Kepatuhan Terkait Pemangkasan Potongan Aplikator Ojol Jadi 8%, Ini Dampaknya bagi Ekosistem Digital
Sebagai salah satu importir utama minyak dari Iran, China memiliki kepentingan strategis untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Sejak pecahnya konflik yang melibatkan AS dan Israel pada Februari lalu, jalur selat tersebut mengalami penyempitan akses, ditambah lagi dengan blokade ketat yang diberlakukan Washington terhadap kapal-kapal Iran sejak pekan lalu.
Mendorong Resolusi Diplomatik
Melalui LajuBerita, dilaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri China terus mendesak semua pihak yang bertikai untuk segera kembali ke meja perundingan. China menekankan bahwa solusi atas konflik ini tidak bisa dicapai melalui kekuatan militer, melainkan harus melalui jalur politik dan diplomasi yang transparan.
“Kami mendorong gencatan senjata yang segera dan menyeluruh. Stabilitas jangka panjang di kawasan hanya bisa terwujud jika semua pihak menghormati kedaulatan dan hukum maritim yang berlaku,” tutup pernyataan resmi dari pihak Beijing.
Menantang Dominasi Kuba, Bamsoet Bidik Pasar Cerutu Dunia Senilai USD 58 Miliar