Menantang Dominasi Kuba, Bamsoet Bidik Pasar Cerutu Dunia Senilai USD 58 Miliar
LajuBerita — Aroma tembakau premium menyelimuti diskusi hangat mengenai masa depan komoditas unggulan Nusantara. Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet, menegaskan bahwa industri cerutu Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi penonton di panggung global. Dengan kualitas tanah dan iklim yang dianugerahkan alam, Indonesia memiliki modal besar untuk menggeser dominasi negara-negara mapan seperti Kuba, Republik Dominika, hingga Nikaragua.
Sebagai sosok yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bamsoet melihat ada jurang lebar antara potensi kualitas dengan penguasaan pasar. Meski nilai pasar global diprediksi menyentuh angka fantastis sebesar 58 miliar dolar AS pada tahun 2025, posisi Indonesia masih terjebak dalam tantangan branding dan distribusi yang belum optimal.
Waspada Penipuan! Otorita IKN Tegaskan Kabar Lowongan Kerja di Medsos Adalah Hoaks
Melampaui Sekadar Kualitas: Tantangan Branding
“Kita memiliki segalanya; dari kualitas tembakau yang diakui dunia hingga tangan-tangan terampil pengrajin cerutu kita. Namun, kita masih tertinggal dalam hal memposisikan brand di segmen premium internasional,” ungkap Bamsoet saat menghadiri pertemuan Omah Cerutu Nusantara di kawasan Senopati, Jakarta.
Menurutnya, persaingan di dunia cerutu bukan hanya soal rasa, melainkan soal narasi dan prestise. Data menunjukkan bahwa meski ekspor tembakau Indonesia tumbuh stabil di angka 4,8 persen per tahun, negara-negara Eropa seperti Belgia dan Jerman justru lebih cerdik dalam mengemas industri hilir mereka. Hal inilah yang harus menjadi evaluasi besar bagi pelaku industri dalam negeri agar tidak sekadar menjadi pengekspor bahan baku.
Perkuat Ketahanan Energi, Armada Tanker Pertamina Amankan Stok LPG di Sulawesi dan Jawa Timur
Jember: Jantung Cerutu Indonesia yang Mendunia
Berbicara tentang cerutu lokal, mata dunia tentu tak bisa lepas dari Kabupaten Jember. Wilayah ini telah melegenda sejak era kolonial sebagai produsen tembakau Besuki Na-Oogst, salah satu bahan pembungkus (wrapper) cerutu terbaik di planet ini. Tanah vulkaniknya memberikan karakter rasa unik yang tidak bisa direplikasi di tempat lain.
Bamsoet memaparkan bahwa pada tahun 2023 saja, Jember telah menyumbangkan devisa sekitar USD 31,9 juta dari ekspor tembakau. Keberhasilan merek-merek seperti BIN Cigar yang menembus pasar Malaysia dan Thailand menjadi bukti nyata bahwa produk lokal mulai mendapat tempat di hati penikmat internasional. Strategi ekspor premium ini harus terus didorong agar skala produksinya semakin masif dan konsisten.
Malam Mencekam di Bekasi Timur: Tabrakan Hebat KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Picu Gangguan Total
Ekosistem yang Terus Bertumbuh
Di dalam negeri, gairah industri ini tercermin dari lahirnya berbagai merek berkualitas. Mulai dari Taru Martani yang sarat sejarah di Yogyakarta, Djarum Cigarillos, hingga lini eksklusif seperti Bamsoet Cigar dan JT Royale. Munculnya ratusan varian merek dari pelaku UMKM menunjukkan bahwa ekosistem ini sangat dinamis.
“Pasar domestik saat ini baru menyerap sekitar 20 hingga 30 persen dari total produksi. Artinya, masa depan cerah kita memang ada di pasar internasional. Diplomasi ekonomi dan promosi agresif adalah kunci,” tambah Bamsoet penuh optimisme.
Acara yang berlangsung penuh keakraban tersebut turut dihadiri oleh deretan tokoh penting, di antaranya Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, hingga figur publik seperti Jeremy Thomas dan musisi Katon Bagaskara. Kehadiran para tokoh lintas sektor ini memberikan sinyal kuat adanya dukungan penuh untuk memperkuat branding lokal di mata dunia.
Transformasi Ekonomi Nasional: Penerima PKH Kini Berpeluang Menjadi Karyawan Kopdes Merah Putih